
YOGYAKARTA — Wartaglobal.id Pengurus Pusat Hapkido Indonesia (PP HI) sukses menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) III Hapkido Indonesia Tahun 2026 di Hotel Grand Mercure, Yogyakarta, Sabtu (17/10/2026). Forum nasional ini menghasilkan sejumlah keputusan strategis, mulai dari penguatan tata kelola organisasi, penegakan aturan anti-pelecehan seksual, hingga penetapan kembali GBPH H. Prabukusumo, S.Psi., sebagai Ketua Umum PP HI periode 2026–2030 melalui mekanisme aklamasi.
Munas III dihadiri oleh 24 Pengurus Daerah (Pengda) dari total 30 Pengda Hapkido Indonesia yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Kehadiran mayoritas perwakilan daerah tersebut menjadi bagian penting dalam proses konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk memajukan olahraga bela diri Hapkido di Indonesia.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Bidang Organisasi KONI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Eko Budi Soepriyanto, yang hadir mewakili Ketua Umum KONI Pusat. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Munas sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola, profesionalisme, dan pembinaan prestasi olahraga nasional.
Eko Budi juga menyampaikan pesan Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, yang mengapresiasi keberhasilan penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Hapkido Indonesia IX di Lampung pada 26–27 September 2026.
Apresiasi turut diberikan atas prestasi atlet Hapkido Indonesia dalam ajang 3rd Asian Hapkido Championships di Hong Kong pada 14–15 Agustus 2026. Dalam kejuaraan tersebut, Indonesia berhasil meraih enam medali emas, empat perak, dan dua perunggu.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan pembinaan atlet Hapkido Indonesia di tingkat internasional sekaligus menjadi dorongan bagi organisasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan dan daya saing atlet.
Perkuat Kebersamaan dan Profesionalisme Organisasi
Pendiri sekaligus Guru Besar Hapkido Indonesia, Grand Master V. Yoyok Suryadi, turut menyampaikan sambutan tertulis dari Presiden World Hapkido Martial Arts Federation (WHMAF). Dalam sambutan tersebut, Presiden WHMAF menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap perkembangan Hapkido di Indonesia.
Yoyok menilai suasana dinamis, harmonis, serta penuh kekeluargaan di antara para ketua Pengda menjadi salah satu faktor penting dalam kelancaran pelaksanaan Munas III.
Menurutnya, kebersamaan antarpengurus perlu terus dijaga agar organisasi mampu berkembang secara sehat, profesional, dan berorientasi pada peningkatan prestasi.
“Semangat kebersamaan ini bertujuan untuk memajukan Hapkido sekaligus menjadikannya sebagai model pembinaan olahraga dan pembentukan karakter yang kuat dengan kultur yang ramah, nyaman, namun tetap profesional dalam meraih prestasi,” ujar Yoyok.
Sementara itu, Ketua Umum PP HI, GBPH H. Prabukusumo, S.Psi., menegaskan pentingnya kemandirian organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan pembinaan olahraga.
Menurut sosok yang akrab disapa Gusti Prabu tersebut, keterbatasan tidak boleh menjadi penghalang bagi organisasi untuk terus menjalankan program pembinaan dan menyelenggarakan kegiatan olahraga secara berkelanjutan.
“Dalam kemandirian dan keterbatasan, Hapkido Indonesia mampu terus-menerus mengikuti dan menyelenggarakan berbagai kegiatan dengan sukses. Hal ini membuktikan keseriusan kita bersama dalam membangun dan membina prestasi demi kejayaan olahraga Indonesia,” tegasnya.
Munas Tetapkan Aturan Tegas Anti-Pelecehan Seksual
Salah satu agenda penting Munas III Hapkido Indonesia adalah penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Dalam forum tersebut, peserta menyepakati sejumlah ketentuan untuk memperkuat tata kelola, menjaga integritas, serta menciptakan lingkungan olahraga yang aman dan profesional.
Salah satu poin penting yang menjadi perhatian adalah penegakan sanksi tegas terhadap pelaku pelecehan seksual. Ketentuan ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan olahraga yang menjunjung tinggi etika, keamanan, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu.
Selain itu, Munas juga menetapkan pengaturan mengenai etika komunikasi dan penggunaan media sosial guna menjaga nama baik serta integritas organisasi.
Ketentuan lain yang disepakati adalah pengadopsian aturan KONI Pusat terkait larangan rangkap jabatan bagi pimpinan organisasi. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memastikan fokus kepemimpinan, meningkatkan efektivitas pengelolaan organisasi, serta memperkuat profesionalisme Hapkido Indonesia sebagai bagian dari ekosistem olahraga nasional.
Penguatan aturan internal tersebut diharapkan tidak berhenti pada ketetapan forum, tetapi juga diterapkan secara konsisten dalam pelaksanaan organisasi dan pembinaan atlet di seluruh daerah.
Prabukusumo Kembali Pimpin Hapkido Indonesia Periode 2026–2030
Puncak pelaksanaan Munas III berlangsung dalam sidang pleno yang dipimpin oleh Agus Hidayatulloh, Tiorina Tona Simamora, Vincent Suriadinata, dan Zahirsyah Oemardy.
Melalui mekanisme aklamasi, forum menetapkan kembali GBPH H. Prabukusumo, S.Psi., sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Hapkido Indonesia untuk periode 2026–2030.
Penetapan tersebut menandai berlanjutnya kepemimpinan Prabukusumo dalam mengarahkan organisasi selama empat tahun ke depan, dengan tantangan memperkuat konsolidasi daerah, meningkatkan kualitas pembinaan atlet, serta menjaga tata kelola organisasi yang profesional dan berintegritas.
Usai ditetapkan kembali, Prabukusumo menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh para pengurus daerah dan seluruh insan Hapkido Indonesia.
Amanah tersebut menjadi tanggung jawab untuk melanjutkan program organisasi, memperluas pembinaan, serta mendorong peningkatan prestasi Hapkido Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan berakhirnya Munas III, Hapkido Indonesia dihadapkan pada agenda lanjutan untuk menerjemahkan keputusan organisasi menjadi program kerja yang terukur, memperkuat perlindungan bagi atlet dan insan olahraga, serta memastikan pembinaan berjalan secara berkelanjutan.
Munas ini sekaligus menegaskan bahwa kemajuan olahraga tidak hanya ditentukan oleh prestasi di arena pertandingan, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan, kepatuhan terhadap aturan, dan komitmen menciptakan lingkungan olahraga yang aman, beretika, serta profesional.
Reborn

.jpg)