Bali (bukan) Banyak Libur - WARTA GLOBAL BALI

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Bali (bukan) Banyak Libur

Tuesday, 1 April 2025


WartaGlobalBali. Id
Di Bali, libur bukan sekadar jeda waktu—ia adalah cara hidup yang mendalam, sebuah tarian antara tradisi dan modernitas. 

"Ba-nyak li-bur" bukan pula sekadar frasa, melainkan ironi yang hidup dalam nadi keseharian masyarakat Bali.

Kalender diisi libur nasional seperti Idul Fitri, Nyepi, Natal, Waisak, kenaikan Isa Almasih, juga libur fakultatif. Libur falultatif hanya dikenal di Bali: Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, Siwalatri. 

Tak cukup dengan libur nasional dan fakultatif, banyak yang minta izin tak masuk kerja karena odalan, Ngaben, dan upacara adat lainnya. 

Sungguh, di mata luar, Bali tampak memiliki segudang libur. Masyarakat Bali dianggap seringkali liburan. Padahal di balik itu, ada paradoks yang mendalam. Orang Bali, yang konon ‘banyak libur’, justru tak mengenal liburan. Mereka nyaris tak memiliki hari untuk bersantai. 

Pada hari-hari yang dijuluki libur, kesibukan mereka justru mencapai puncak. Mereka sangat sibuk dan melelahkan. Pagi, siang, sore bahkan malam hari juga sibuk, lebih sibuk dari bekerja.

Saat Galungan tiba misalnya, laki-laki, perempuan, dan anak-anak larut dalam kesibukan yang padat. 

Para pria sibuk mengatur konsumsi. Memasak sate, ngelawar yang tadinya urusan wanita diambil alih menjadi urusan pria,  sementara wanitanya menyiapkan segala keperluan upacara, metanding canang, banten dengan penuh khidmat.

Anak-anak juga demikian turut membantu, membuat penjor dan ornamen upacara yang memukau. Mereka dengan happy mengerjakannya karena itu untuk persembahan kepada Hyang Widhi Wasa.

Begitu pula di hari-hari besar seperti Waisak atau Natal dan libur nasional lain, kerapkali  dimanfaatkan untuk tirta yatra—sebuah perjalanan spiritual, mengunjungi pura demi pura, menapaki jejak suci di Pura Geger di Nusa Dua, Pura Besakih, Tanah Lot, dan ribuan pura lainnya. 

Kadang saat tirta yatra itulah dirasakan sebagai lburan karena pura-pura yang dikunjungi itu, tersimpan keindahan wisata yang luar biasa, yang bisa mereka nikmati dalam momen sakral sambil sembahyang, merenung, dan berbakti kepada para dewa.

Paradoksnya, meski Bali seolah ‘banyak libur’, perekonomian dan budaya tak pernah henti berdenyut karena setiap libur menjadi momen ketika tradisi dan modernitas beriringan, menghadirkan daya tarik yang tak lekang oleh waktu.

Pekerja Bali, meski sering disebut libur, tetap bekerja dengan sepenuh hati—merawat tradisi, menghidupkan ritual, dan menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan dewa.

Inilah Bali: negeri di mana libur bukanlah lelah untuk bersenang-senang, melainkan waktu sakral untuk meneguhkan identitas, mempererat jalinan budaya, dan mengalirkan semangat kehidupan yang tak pernah padam. 

Di Bali, paradoks adalah seni, dan setiap libur adalah puisi yang ditulis dengan langkah-langkah penuh makna.

Butet
Sumber :Penguat budaya Wayan Suyadnya

KALI DIBACA