
KUTA, Wartaglobalbali.id – Suasana mencekam dan penuh kepanikan melanda sebuah kawasan permukiman di Kuta, Bali, pada Senin (5/1/2026). Seorang pria pendatang yang diduga mengalami gangguan jiwa mengamuk tak terkendali, memicu aksi penganiayaan brutal oleh massa yang berujung pada kondisi korban yang babak belur dan "sekarat".
Peristiwa yang sempat terekam dan viral di media sosial ini kembali menyoroti carut-marut penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) serta menguji batas kemanusiaan di tengah masyarakat.
Aksi Panik di Atap Rumah dan Sungai
Berdasarkan keterangan sejumlah warga, korban yang diidentifikasi sebagai Soleman Ole (35), asal Desa Loko Tali, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, pertama kali terlihat memanjat atap sebuah rumah warga. Ia diduga naik melalui area Pura Taman Waru Lot yang berdampingan dengan rumah tersebut.
Aksinya yang liar dan tidak dapat dikendalikan dinilai membahayakan keselamatan dirinya sendiri dan warga sekitar. Kepanikan pun menyebar di antara warga dan pengendara yang melintas.
Alih-alih menghubungi pihak berwenang atau tenaga medis terlatih, upaya penanganan oleh sebagian warga justru berubah menjadi aksi balas dendam yang brutal. Dalam upaya mengusir dan menakuti korban, beberapa warga melemparkan kembang api ke arah tubuh Soleman.

Ketika korban turun dan berlari ke area aliran sungai (Tukad) di dekat lokasi, aksi kekerasan semakin menjadi. Korban yang kebingungan dan ketakutan itu kemudian menjadi sasaran lemparan batu oleh sejumlah orang. Aksi "main hakim sendiri" ini berlangsung hingga pihak berwenang tiba dan akhirnya berhasil mengamankan korban dengan bantuan warga lainnya.
Tangisan Pilu Sang Istri: "Dimanakah Hati Nurani Kita?"
Saksi paling pilu dalam tragedi ini datang dari sang istri, yang namanya tidak disebutkan. Ia mengaku baru mengetahui nasib suaminya setelah video viral tersebut dikirimkan oleh seorang rekan kerjanya.
"Saya kaget ketika suami saya viral di media sosial... dan kini saya sangat merasa kecewa dengan kondisi suami saya yang sekarat ini," tegasnya dengan suara bergetar.
Dengan air mata yang tak terbendung, ia menyaksikan suaminya terbaring lemah, tubuhnya dipenuhi memar dan luka-luka bekas amukan massa. "Walaupun tidak semuanya tau keadaan suami saya yang sedang gangguan jiwa, tapi dia kan manusia. Kenapa harus diperlakukan seperti hewan?" tanyanya, hati hancur.
Dalam pernyataan yang menyayat hati, istri Soleman menyindir keras tindakan massa. "Untuk keadaan pasien saat ini sedang sekarat karena amukan massa, yang main hakim sendiri. Sementara korban adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Dimanakah hati nurani kita sebagai manusia yang punya akal sehat?"
Korban Dalam Perawatan Intensif, Akan Dirujuk ke RSUP Sanglah
Setelah diamankan, Soleman Ole langsung dilarikan untuk mendapatkan pertolongan medis. Kondisinya dilaporkan sangat serius akibat luka-luka yang diderita. Saat ini, korban masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar.
Menurut rencana, untuk penanganan lebih lanjut, korban akan segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah (RSUP Sanglah), Denpasar. Hingga berita ini diturunkan, perkembangan kondisi kesehatan Soleman masih terus dipantau.
Sorotan Publik: Penanganan ODGJ dan Kemanusiaan
Insiden memilukan ini memantik gelombang reaksi publik di media sosial dan masyarakat. Banyak netizen menyayangkan tindakan kekerasan massa yang dianggap tidak pantas dilakukan terhadap seseorang yang jelas-jelas sedang tidak waras dan membutuhkan pertolongan medis, bukan hukuman fisik.
Tragedi di Kuta ini kembali mengingatkan semua pihak tentang pentingnya sistem penanganan ODGJ yang komprehensif, edukasi masyarakat dalam menyikapi orang dengan gangguan kejiwaan, serta penegakan hukum terhadap tindakan "main hakim sendiri" yang justru dapat berakibat fatal.
Pertanyaan besar yang diajukan sang istri, "Dimanakah hati nurani kita?" menggema kuat, mengajak semua pihak untuk introspeksi tentang nilai kemanusiaan di tengah situasi yang mencekam.(MCB)
KALI DIBACA

