PAGAR DIGITAL": IMIGRASI + ITB PASANG MATA DI 3.111 KM PERBATASAN PAKAI DRONE 24 JAM - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

PAGAR DIGITAL": IMIGRASI + ITB PASANG MATA DI 3.111 KM PERBATASAN PAKAI DRONE 24 JAM

Friday, 3 July 2026
 "
Hendarsam


JAKARTA — WartaGlobal.Id
Cukup sudah mengandalkan pos dan patroli manual. Imigrasi putuskan: perbatasan harus diawasi dari udara. 

Senin, 30 Juni 2026, Ditjen Imigrasi resmi menggandeng Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB untuk membangun “Pagar Digital” Sistem patroli drone nonstop untuk kunci jalur tikus di perbatasan RI.

Tegas, cepat, dan buatan anak bangsa.

Berangkat dari Rasa Prihatin di Singapura 
Idenya lahir setelah Dirjen Imigrasi 'Hendarsam Marantoko menghadiri pameran pertahanan di Singapura beberapa bulan lalu.

"Di situ saya lihat ada berbagai macam teknologi canggih untuk pengamanan perbatasan. Tapi kok ternyata tidak ada buatan anak bangsa. Padahal SDM kita punya daya saing tinggi untuk hasil setara," kata Hendarsam.

Dari situ ia langsung tancap gas. Ajak kampus terbaik negeri: ITB. Targetnya satu: tutup celah perbatasan dengan teknologi.

*Masalahnya Besar: 3.111 KM, Hanya 18 PLBN*  
Angkanya bicara. Indonesia punya *3.111 km perbatasan darat*. 

Faktanya? Hanya ada *18 Pos Lintas Batas Negara / PLBN* dan *38 Pos Lintas Batas / PLB*. Itu pun 3 PLBN belum aktif. Hanya 7 PLB yang benar-benar beroperasi. Sisanya terkendala perjanjian.

Data TPI Darat Jan-April 2026 catat *679.867 pelintas resmi*. Tapi yang lebih berbahaya: pelintas ilegal di jalur tikus. 

Ditambah risiko TPPO, penyelundupan manusia, dan komoditas. Ditambah minimnya infrastruktur digital dan bahaya di area konflik.

"Inilah yang harus kita pecahkan," tegas Hendarsam.

Solusinya: 2 Drone, 24 Jam, Tenaga Matahari*  
"Pagar Digital" tidak pakai pagar kawat. Pakai mata udara


Imigrasi akan optimalkan drone hasil riset ITB sejak 2019, diproduksi bersama *PT Dirgantara Indonesia / PT DI*. Spesifikasinya:

1.  Drone HALE,High-Altitude Long-Endurance_. Terbang konstan di 1.000 meter, 24 jam nonstop. Tugasnya: sapu perimeter jarak jauh. 
2.  Drone Mantis - Drone taktis. Begitu HALE deteksi gerakan mencurigakan, Mantis langsung turun untuk intersepsi visual jarak dekat.

Keduanya ditenagai *panel surya*. Artinya bisa patroli terus tanpa henti.

Teknologi ini sebelumnya sudah terbukti di sektor agrikultur.

Cara Kerjanya: Deteksi, Kirim Koordinat, Sikat
"Pagar digital memang tidak secara fisik bisa menghentikan orang, tetapi memberikan kesadaran situasional secara real-time," jelas Hendarsam.

Logikanya sederhana: Drone lihat → Kirim koordinat → Pos Imigrasi/TNI terdekat bergerak. 

"Ini memangkas waktu respons patroli konvensional secara drastis. Drone juga memperluas daya jangkau petugas. Jauh lebih hemat dibanding operasikan aset udara berawak," ujarnya.

Prioritas: 4 Titik Rawan  
Tahap awal fokus ke darat:  
1.  Kalimantan - perbatasan Malaysia  
2.  Papua- perbatasan Papua Nugini  
3.  NTT - perbatasan Timor Leste  

Untuk laut: *Kepulauan Riau, Batam, dan jalur penyeberangan sekitarnya*.

Tujuan Akhir: Kedaulatan Teknologi  
Ini bukan cuma soal pengawasan. Ini soal kemandirian.

"Kerjasama Imigrasi, ITB, dan PT DI adalah upaya memastikan pengawasan kedaulatan negara tidak bergantung pada sistem asing," kata Hendarsam.

"Dengan mengamankan jalur tidak resmi lewat teknologi siber dan patroli udara domestik, kita minimalkan celah TPPO dan pelintas ilegal. Sekaligus mengaktualisasikan kemandirian teknologi nasional secara berkelanjutan."


*#Imigrasi #ITB #PagarDigital #Drone #Perbatasan #Kedaulatan #WartaGlobal

KALI DIBACA