
Bali–WartaGlobal.Id | Penyerahan genta Bali kepada Chief Minister Madhya Pradesh, HE Mohan Yadav, menjadi salah satu momen penting dalam upaya memperkuat hubungan budaya Indonesia–India. Ida Rsi Putra Manuaba menyerahkan benda bernilai spiritual dan kultural tersebut dalam pembukaan kegiatan “Abhyudaya – Integrating ESG & Civilisation Wisdom for Comprehensive Wellbeing” di Kushabhau Thakre Hall, Bhopal, Madhya Pradesh, Sabtu (24/10).
Penyerahan itu bukan sekadar seremoni pertukaran cendera mata. Genta Bali membawa pesan tentang identitas, tradisi, dan kearifan peradaban yang dapat menjadi ruang perjumpaan antara dua bangsa yang memiliki hubungan historis dan kebudayaan panjang.
Di tengah dunia yang semakin terhubung oleh kepentingan ekonomi, teknologi, dan geopolitik, diplomasi kebudayaan memiliki peran tersendiri: membangun hubungan antarmasyarakat melalui nilai, tradisi, dan penghormatan terhadap warisan peradaban.
Genta Bali, Simbol Identitas dan Diplomasi Kebudayaan
Bagi masyarakat Bali, genta memiliki makna penting dalam berbagai ritual keagamaan Hindu. Bunyi genta menjadi bagian dari tata upacara, sekaligus merepresentasikan kesinambungan tradisi spiritual yang diwariskan lintas generasi.
Dalam konteks pertemuan di Bhopal, penyerahan genta tersebut dapat dibaca sebagai simbol pengenalan identitas budaya Bali kepada pemimpin pemerintahan di India. Namun, arti penting diplomasi budaya tidak berhenti pada simbol. Nilainya akan semakin kuat apabila dilanjutkan dengan pertukaran pengetahuan, dialog kebudayaan, kolaborasi pendidikan, dan hubungan antarkomunitas.
Ida Rsi Putra Manuaba melalui penyerahan tersebut menghadirkan unsur kebudayaan Bali dalam forum yang mengangkat keterkaitan antara prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dan kearifan peradaban untuk kesejahteraan yang menyeluruh.
Menghubungkan Kearifan Peradaban dengan Agenda ESG
Tema Abhyudaya menempatkan kearifan peradaban sebagai salah satu perspektif dalam pembahasan kesejahteraan. Pendekatan ini membuka ruang untuk mendiskusikan bagaimana nilai-nilai tradisional dapat berdialog dengan tantangan kontemporer, mulai dari keberlanjutan lingkungan hingga tanggung jawab sosial dan tata kelola.
Dalam konteks tersebut, Bali memiliki warisan nilai yang relevan untuk diperkenalkan melalui dialog lintas budaya. Akan tetapi, pengaitan kearifan tradisional dengan ESG perlu diwujudkan dalam praktik yang terukur, bukan berhenti pada penggunaan istilah atau simbol budaya.
Pelestarian lingkungan, perlindungan warisan budaya, penguatan komunitas, serta tata kelola yang transparan merupakan contoh ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan melalui kerja sama lintas negara.
Diplomasi Budaya Memerlukan Tindak Lanjut Nyata
Pertemuan budaya Indonesia–India menyediakan peluang untuk memperluas hubungan yang tidak hanya bertumpu pada pertukaran simbol, tetapi juga menghasilkan manfaat konkret bagi masyarakat.
Tindak lanjut dapat berupa program pertukaran seniman dan pemuka budaya, penelitian bersama, promosi warisan budaya, pengembangan pendidikan lintas negara, serta kerja sama pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal.
Dengan demikian, penyerahan genta Bali di Bhopal dapat menjadi pintu masuk bagi dialog yang lebih luas mengenai bagaimana tradisi dan nilai peradaban berkontribusi terhadap hubungan antarmanusia dan pembangunan berkelanjutan.
Diplomasi kebudayaan pada akhirnya diuji bukan hanya oleh simbol yang diserahkan, melainkan oleh hubungan, pemahaman, dan kerja sama yang berhasil dibangun setelahnya.
Pemberitaan ini disusun berdasarkan informasi kegiatan yang tersedia. Rincian mengenai agenda lanjutan, bentuk kerja sama resmi, dan tanggapan para pihak masih perlu dikonfirmasi sebelum dinyatakan sebagai hasil konkret pertemuan.

.jpg)