Harmoni di Lereng Salak: Makna Spiritual Anggarakasih Prangbakat dalam Silaturahmi Bapak Anies Baswedan dengan Semeton Bali - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Harmoni di Lereng Salak: Makna Spiritual Anggarakasih Prangbakat dalam Silaturahmi Bapak Anies Baswedan dengan Semeton Bali

Tuesday, 17 February 2026


Bogor, WartaGlobalBali.Id, Selasa 17/2/2026 - Di kaki Gunung Salak yang megah, tepatnya di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Kabupaten Bogor, terukir sebuah momen penuh makna yang memadukan spiritualitas, budaya, dan persaudaraan. Pada hari yang suci, Selasa Kliwon Wuku Prangbakat atau Anggarakasih Prangbakat, serta bertepatan dengan Hari raya Imlek, Bapak Anies Rasyid Baswedan memenuhi undangan untuk tangkil (bersembahyang) bersama Semeton Bali (saudara kita dari Bali). Kehadiran beliau disambut hangat oleh tokoh spiritual terkemuka, Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba, didampingi oleh para Jro Mangku, serta perwakilan masyarakat Bali yang dipimpin oleh Gede Oka Suanda Yudara, Romo Benny, Wayan Sukaitha, Ibu Chandra Nur Purnamasari, Ibu Dian Fatmawati dan Ibu Alis Intan Suminar.

Pemilihan hari Anggarakasih Prangbakat untuk acara suci ini bukanlah sekadar kebetulan, melainkan sebuah kehendak spiritual yang dalam. Dalam kearifan penanggalan Bali, hari ini dipercaya memiliki taksu atau energi spiritual yang sangat kuat. Anggara (Selasa) membawa semangat dan keberanian, sementara Kliwon sarat akan kekuatan niskala. Pertemuan keduanya dalam Wuku Prangbakat menciptakan energi dinamis yang secara filosofis dimaknai sebagai hari untuk “berperang” melawan musuh yang paling utama: musuh dalam diri sendiri, seperti amarah, iri hati, dan ego yang berlebihan.


Suasana khidmat di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta menjadi cerminan sempurna dari makna luhur tersebut. Kehadiran Bapak Anies Baswedan di tengah-tengah Semeton Bali pada hari yang "Teduh" namun sakral ini adalah simbol nyata dari keberanian yang dilandasi dharma dan pengendalian diri. Beliau tidak hadir sebagai seorang figur politik, melainkan sebagai pribadi yang merendahkan hati, menyatukan langkah dan doa dengan masyarakat Bali yang sedang melaksanakan ritual penyucian diri.

Momentum Anggarakasih Prangbakat yang identik dengan pengendalian diri justru memperlihatkan keindahan silaturahmi antar anak bangsa. Di sini, energi tegas dan dinamis hari itu berubah menjadi kekuatan positif yang mempersatukan. Tidak ada sekat, yang ada hanyalah guyub rukun dalam naungan pura. Beliau berdiri setara, mengikuti prosesi sembahyang dengan khusyuk, menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap tradisi dan kepercayaan lokal.

Inilah wujud nyata dari falsafah "Rwa Bhineda" yang dijunjung masyarakat Bali—keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan. Keberanian Bapak Anies untuk hadir dan berbaur, diimbangi dengan kebijaksanaan untuk menghormati kesucian hari dan tempat. Lebih dari sekadar acara seremonial, kehadiran beliau adalah pesan kuat tentang harmoni: bahwa di atas segala perbedaan, kita adalah saudara sebangsa yang dipersatukan oleh nilai-nilai luhur dan ketulusan hati.


Ritual sembahyang bersama di hari yang sakral ini menjadi pemandangan yang mengharukan. Doa-doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk keselamatan pribadi, tetapi untuk kedamaian dan keharmonisan bersama. Hari yang dipercaya sebagai momen untuk menaklukkan ego, justru menjadi saksi bisu bagaimana seorang pemimpin dengan tulus merangkul sebuah komunitas, memperkuat ikatan persaudaraan yang tulus dan apa adanya.

Kehadiran Bapak Anies Baswedan di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta pada hari Anggarakasih Prangbakat akan selalu dikenang sebagai sebuah episode indah. Ia adalah sebuah bukti bahwa di tengah hiruk-pikuk duniawi, masih ada ruang untuk keheningan dan kebersamaan yang suci. Sebuah harmoni yang tercipta di lereng Gunung Salak, menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa kekuatan sejati adalah ketika kita mampu bersatu, mengendalikan diri, dan saling menghormati dalam bingkai kebhinekaan. (MCB)

KALI DIBACA