Meski CCTV & Railing Baru, Aksi Ulahpati Tetap Terjadi di Jembatan "Bermasalah" Tukad Bangkung - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Meski CCTV & Railing Baru, Aksi Ulahpati Tetap Terjadi di Jembatan "Bermasalah" Tukad Bangkung

Friday, 2 January 2026


MANGUPURA, Warta global Bali.Id – Jembatan Tukad Bangkung di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, kembali menjadi lokasi tragis aksi ulahpati pada Jumat (2/1/2026) dinihari. Insiden ini menjadi peristiwa pertama di tahun 2026 dan terjadi tak lama setelah pemasangan railing baja pengaman jembatan dinyatakan rampung sekitar November 2025 lalu.

Peristiwa ini mengindikasikan bahwa warga Desa Pelaga dan Belok/Sidan yang dilintasi jembatan ini, belum sepenuhnya merasa lega. Meski railing pengaman telah terpasang dan sejumlah percobaan aksi sebelumnya berhasil digagalkan oleh aparat dan warga, aksi serupa ternyata masih berulang.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan penuturan Kapolsek Petang, AKP I Nyoman Arnaya, pelaku terekam CCTV melintas di area jembatan sekitar pukul 02.30 WITA. Namun, laporan resmi baru diterima pihak kepolisian sekitar pukul 06.32 WITA.

Awal mula terungkapnya peristiwa ini bermula dari laporan petugas Satpol PP BKO Kediaman Wakil Gubernur Bali, I Made Derik Yasnawan. Petugas menerima informasi dari seorang pengendara yang hendak ke Denpasar tentang adanya sepeda motor terparkir mencurigakan di tepi selatan jembatan.

"Kami menemukan sepeda motor Yamaha Lexy berwarna biru dengan plat yang dilepas. Kunci kontak dan helm masih terpasang di motor. Kami juga menemukan ponsel, surat-surat kendaraan lengkap, dan sepasang sandal yang tersangkut di atas railing," jelas AKP Arnaya saat ditemui di lokasi kejadian, Jumat pagi.

Penemuan Korban

Setelah mendapat laporan tersebut, personel Polsek Petang langsung melakukan penelusuran ke dasar jembatan yang memiliki ketinggian signifikan. Di sana, mereka menemukan jasad seorang pemuda dalam kondisi meninggal dunia. Korban didapati mengalami luka-luka, terutama di bagian kepala, dan masih mengenakan pakaian lengkap. Badannya terlilit semak-semak di area dasar jembatan.


Korban kemudian diidentifikasi sebagai Made Kusuma Ardana (21), kelahiran Buleleng yang berdomisili di Kelurahan Panjer, Denpasar. Keluarga korban telah dihubungi dan menyatakan kesedihan mendalam atas kejadian ini. Menurut AKP Arnaya, pihak keluarga memilih untuk tidak melakukan tindakan otopsi terhadap jasad almarhum.

Motif dan Tantangan Pengamanan

Kapolsek Petang menegaskan bahwa motif di balik aksi ini belum dapat dipastikan secara resmi. Namun, polisi tidak menampik adanya indikasi masalah keluarga. "Ada pesan yang ditinggalkan kepada ibu korban melalui WhatsApp yang mengindikasikan hal itu. Kami masih mendalami semua aspek," ujar Arnaya.


Ia juga mengonfirmasi bahwa ini adalah peristiwa ketujuh setelah pemasangan railing jembatan tuntas. "Enam percobaan sebelumnya berhasil kami gagalkan bersama warga. Sayangnya, kejadian kali ini adalah yang pertama di tahun 2026 dan korban tidak tertolong," paparnya.

Kendala teknis pengamanan turut disoroti. Titik kejadian yang berada di tengah jembatan sepanjang 360 meter luput dari pantauan langsung CCTV. Selain itu, desain railing berbentuk umbul-umbul (lengkungan) dinilai masih memungkinkan untuk dipanjat dan dijadikan pijakan. Hal ini menjadi catatan penting bagi evaluasi efektivitas fisik pengaman jembatan.

Pesan Kemanusiaan dan Peringatan

Kapolsek Petang kembali mengimbau masyarakat untuk menjaga komunikasi yang baik dalam keluarga dan lingkungan. "Jika ada masalah, selesaikan dengan cara musyawarah, cerita kepada orang terdekat, atau mintalah bantuan profesional. Jangan mengambil jalan pintas yang tidak dapat ditarik kembali," pesan AKP Arnaya.

Pihaknya juga akan meningkatkan patroli dan koordinasi dengan Satpol PP serta pecalang (pengamanan tradisional) setempat untuk mengawasi lokasi tersebut.

Peristiwa ini kembali menyisakan duka dan pertanyaan tentang efektivitas langkah pencegahan di infrastruktur yang kerap menjadi lokus persoalan serupa. Pemerintah daerah bersama pihak berwajib didorong untuk tidak hanya menambah pengamanan fisik, tetapi juga pendekatan psikologis dan sosial di masyarakat. (MCB)

Disclaimer

Berita ini disajikan semata-mata untuk kepentingan informasi publik dan tidak dimaksudkan untuk menginspirasi atau menormalisasi tindakan yang membahayakan diri sendiri. Bagi siapa pun yang sedang mengalami tekanan mental, stres berat, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri, segera cari bantuan profesional. Hubungi fasilitas kesehatan, klinik kesehatan jiwa terdekat, atau layanan konseling yang tersedia seperti 119 (EXT 8) atau melalui aplikasi pelayanan psikologis. Dukungan dan pertolongan selalu ada. Anda tidak sendirian.

KALI DIBACA