
Denpasar Bali-WartaGlobal.Id
Gemerlap industri pariwisata telah menjadikan Bali dikenal dunia. Namun di balik ramainya hotel, restoran, dan destinasi wisata, terdapat ribuan petani yang setiap hari bekerja di sawah untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus mempertahankan sistem Subak sebagai warisan budaya dunia.
Sayangnya, kehidupan petani Bali kini menghadapi berbagai tantangan. Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan, vila, dan fasilitas pariwisata terus mengurangi luas sawah produktif. Di sisi lain, biaya produksi meningkat, perubahan iklim memengaruhi pola tanam, dan regenerasi petani berjalan lambat karena banyak generasi muda beralih ke sektor lain.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menjaga lahan pertanian pangan berkelanjutan, meningkatkan produktivitas petani, serta memperkuat program pertanian organik agar kesejahteraan petani dapat meningkat.
Sementara itu, akademisi dari Universitas Udayana menilai keberlanjutan pertanian Bali tidak hanya bergantung pada produksi pangan, tetapi juga pada kemampuan menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Menurut mereka, sistem Subak merupakan kekuatan utama yang harus dipertahankan karena memiliki nilai budaya, sosial, dan ekonomi.
Ketua organisasi Subak di sejumlah wilayah Bali juga berharap pemerintah memperkuat perlindungan terhadap lahan pertanian produktif, memperbaiki irigasi, serta memastikan ketersediaan pupuk dan akses pemasaran hasil panen agar petani memperoleh keuntungan yang lebih layak.
Pengamat ekonomi pertanian menilai kesejahteraan petani akan meningkat apabila harga hasil panen lebih stabil, rantai distribusi lebih efisien, serta petani memperoleh akses terhadap teknologi modern dan pembiayaan usaha tani.
Bali selama ini dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia. Namun keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan sektor pariwisata, melainkan juga dari kemampuan menjaga petani sebagai penyangga ketahanan pangan dan penjaga lanskap sawah yang menjadi daya tarik Pulau Dewata.
Jika pertanian terus terpinggirkan, Bali berpotensi kehilangan lebih dari sekadar lahan sawah. Pulau ini juga dapat kehilangan identitas budaya yang selama berabad-abad dibangun melalui filosofi Tri Hita Karana dan sistem Subak.
Sudah saatnya petani tidak lagi dipandang sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai fondasi yang menjaga keberlanjutan Bali untuk generasi mendatang.
KALI DIBACA

