Buleleng Festival 2026: Titik Nol Singaraja Bergemuruh, Sejarah dan Kreativitas Bertemu - Warta Global Bali

Mobile Menu

Klik

Raning Taxt Berita

Memuat berita...

More News

logoblog

Buleleng Festival 2026: Titik Nol Singaraja Bergemuruh, Sejarah dan Kreativitas Bertemu

Tuesday, 18 August 2026

Poto Istimewa Afkan 

Singaraja, Bali — Warta Global.Id. 18 Agustus 2026 — Kota Singaraja kembali menunjukkan denyut budayanya melalui Buleleng Festival 2026. Mengambil lokasi di Titik Nol Kota Singaraja, festival tahunan ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

   Buleleng Festival 2026 resmi dibuka pada Selasa, 18 Agustus 2026, oleh gubernur Bali dr.Ir. I Wayan Koster. M.M., beserta jajaran Muspida dan Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG., bersama Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, S.H.
Mengusung semangat “Praja Mandala Singa Ambara Raja”, hari pertama festival dikemas dalam tiga zona yang menawarkan karakter pertunjukan berbeda, namun tetap memiliki satu benang merah: mempertemukan warisan sejarah Buleleng dengan kreativitas masyarakat masa kini.

Tiga Zona, Satu Identitas Buleleng

   Zona A — “Buleleng Tempoe Doeloe” menjadi ruang untuk menghidupkan kembali jejak masa lalu Buleleng. Pengunjung disuguhkan tarian tradisional, kesenian tradisional dari Sanggar Seni Santhi Budaya, serta pemutaran film 45.
Konsep ini bukan sekadar hiburan. Di tengah arus modernisasi, keberadaan seni tradisional menjadi pengingat bahwa Singaraja memiliki perjalanan sejarah dan kebudayaan yang panjang.

   Sementara itu, Zona B — “Modern Creative” membawa atmosfer yang berbeda. Panggung diisi penampilan Double D, Heaven'ly, Joy Rabbit, dan DJ Mand, menghadirkan ruang ekspresi bagi generasi muda dan pelaku ekonomi kreatif.

   Adapun Zona C — “Budaya Berkelanjutan” menghadirkan Gong Sambadra Ing, Tubuh Kreasi Kebyar Susun, serta Bondres Rare Kual.
Tiga zona tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi dapat berdampingan dengan musik modern, kreativitas anak muda, dan gagasan kebudayaan berkelanjutan.
Jangan Biarkan Sejarah Hanya Menjadi Ornamen
Di sinilah pesan penting Buleleng Festival 2026. Singaraja bukan sekadar kota yang menjadi lokasi festival. Kota ini memiliki identitas sejarah yang semestinya terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

   Karena itu, konsep “Buleleng Tempoe Doeloe”, “Modern Creative”, dan “Budaya Berkelanjutan” menjadi menarik. Ketiganya seperti menggambarkan perjalanan Singaraja: menoleh ke masa lalu, hidup di masa kini, sekaligus menyiapkan masa depan.

Berlangsung Hingga Dini Hari

   Rangkaian acara hari pertama dijadwalkan berlangsung mulai pukul 18.00 hingga 01.00 WITA.
Antusiasme masyarakat diharapkan tidak hanya menjadikan festival sebagai agenda hiburan menjelang peringatan kemerdekaan, tetapi juga sebagai momentum memperkuat kebanggaan terhadap identitas daerah.

   Buleleng Festival sendiri menjadi kegiatan yang digelar setiap tahun menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di tengah perubahan zaman, Singaraja kembali mengingatkan satu hal: kota tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan, tetapi juga oleh sejarah, seni, budaya, dan ingatan kolektif masyarakatnya.

   Buleleng Festival 2026 pun bukan sekadar pesta rakyat. Jika dikelola secara konsisten dan substansial, festival ini dapat menjadi panggung besar untuk membuktikan bahwa sejarah Buleleng masih hidup—dan masa depan kebudayaannya sedang ditulis hari ini.

Afkan.
Memuat konten...