Bali Belum Tersingkir, Tapi Tantangan Mengintai Frasa 'Part 1' - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Bali Belum Tersingkir, Tapi Tantangan Mengintai Frasa 'Part 1'

Friday, 9 January 2026

Denpasar Bali, 10/1/2026, WartaGlobal. Id

"Bali tersingkirkan secara perlahan" mencerminkan kekhawatiran masyarakat atas degradasi budaya, lingkungan, dan ketimpangan ekonomi di tengah ledakan pariwisata, meski data ekonomi menunjukkan pertumbuhan solid.

Klaim ini tidak sepenuhnya benar karena ekonomi Bali tumbuh 5-6% sepanjang 2025, didorong pariwisata mancanegara yang tembus 7 juta kunjungan.

Pertumbuhan Ekonomi Solid Ekonomi Bali mencatat PDRB triwulan I 2025 sebesar 5,52%, triwulan II 5,95%, dan triwulan III 5,88%, melebihi rata-rata nasional.

Kunjungan wisatawan asing Januari-Agustus 2025 capai 4,6 juta, proyeksi akhir tahun 7 juta orang, melampaui pra-pandemi.
 Namun, wisatawan domestik turun 3-5% akibat tiket mahal dan minim libur panjang.

Ancaman Degradasi Budaya dan LingkunganTanah adat terjual ke pemodal luar, desa adat terkikis, dan generasi muda kesulitan bersaing di luar pariwisata, menggerus identitas Bali.
Polusi pantai, sampah, dan hilangnya lahan hijau akibat pembangunan vila membuat Bali gagal masuk daftar pulau terindah Asia.
 Ketimpangan regional juga menurunkan partisipasi adat, berpotensi rusak daya tarik wisata.Dampak Sosial Ekonomi Jangka Panjang Keterbatasan SDM lokal hadapi digitalisasi, penguasaan aset asing, dan over-reliance pariwisata ciptakan kerentanan.
 Diversifikasi ekonomi via Balinomics 2025 diperlukan untuk hindari ketergantungan satu sektor.

Pemerintah dorong investasi strategis dan peningkatan produktivitas pertanian guna jaga keberlanjutan.

Apa solusi untuk menyelamatkan identitas Bali dari pariwisata 

Bali menghadapi ancaman degradasi identitas budaya akibat overtourism, namun solusi konkret dapat diterapkan melalui pendekatan berkelanjutan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

 Strategi ini mencakup penguatan regulasi, pemberdayaan lokal, dan diversifikasi destinasi untuk menjaga Tri Hita Karana sebagai fondasi kehidupan Bali.

Kepemilikan Lokal
Prioritaskan kepemilikan usaha pariwisata oleh masyarakat Bali melalui regulasi Perda yang membatasi investor asing pada lahan adat dan mendorong kemitraan lokal.

 Berikan pelatihan SDM, sertifikasi kompetensi, dan akses modal bagi desa wisata untuk ciptakan lapangan kerja berkualitas tanpa mengorbankan tradisi.

Diversifikasi 
Destinasi Pemerataan pembangunan ke Bali Utara dan Timur via pengembangan ekowisata, agrowisata, wisata spiritual, dan desa budaya untuk kurangi beban Bali Selatan.

Ini meminimalisir ketimpangan ekonomi dan cegah erosi budaya di pusat wisata seperti Kuta-Ubud.

Edukasi dan Regulasi Lakukan kampanye sadar wisata bagi wisatawan dan masyarakat, termasuk edukasi Tri Hita Karana di bandara serta aturan ketat soal sampah, polusi, dan komersialisasi upacara adat.

 Perkuat penegakan UU Pariwisata 2023 untuk sanksi pelanggaran budaya dan lingkungan.

Kolaborasi Berkelanjutan Dorong Balinomics 2025 dengan investasi strategis di sektor non-pariwisata seperti pertanian dan digital, sambil terapkan teknologi untuk monitoring overtourism. Kolaborasi multi-stakeholder pastikan manfaat ekonomi merata sambil lindungi identitas Bali jangka panjang

KALI DIBACA