
BIMA,WartaGlobalBali.Id – Jika Anda pikir sinetron malam terakhir Anda terlalu tidak masuk akal, coba simpan remote-nya. Polres Bima Kota baru saja meluncurkan musim terbaru dari realitas mereka sendiri, dengan judul provokatif: "Siapa Takut? Dari Bawah Sampai Pucuk, Kita Satu Komando (Narkoba)." Alur ceritanya berlapis, penuh kejutan, dan membuat penonton bergumam, "Lah, ini kantor polisi atau jaringan MLM narkoba?"
Episode 1: Sang Bintang Utama yang Cepat Buka Mulut
Semua berawal dari *Karol*, anggota polisi, dan istrinya. Mereka seperti karakter yang langsung ketahuan di babak pertama karena bermain api (atau lebih tepatnya, sabu dan ekstasi). Ditangkap Polda NTB, Karol langsung berubah menjadi 'panduan tur' untuk penyidik. "Mau ketemu bosnya? Sini saya tunjukkan," kira-kira begitu alur pengakuannya.
Episode 2: Sang Bos yang Malah Jadi Supplier
Dari petunjuk Karol, lampu sorot beralih ke *Malaungi*. Posisinya? Kepala Satuan Narkoba. Ya, Anda tidak salah baca. Jabatannya seperti tukang kebun yang malah jadi penyiram gandum ilalang. Logikanya hilang di sini. Bukannya memberantas, yang ada malah mendistribusikan. Saat akan diamankan, Malaungi sudah kabur ke Bali, seolah-olah sedang 'liburan kerja'. Ditangkap, tasnya bukan berisi baju renang, tapi 488 gram sabu. Tes urinenya juga lebih warna-warni daripada pelangi, positif tiga jenis zat terlarang. Otak di mana, Bang? Di sidang kode etik, dia yang terpojok pun berteriak, "Saya tidak sendirian! Nama atasan saya adalah..."
Episode 3: Sang 'Pemilik Warung' yang Cuma Mau Setoran Bulanan
Dan masuklah *Didik*, sang Kapolres. Dalam sidang yang sama, terungkap 'skema keanggotaan premium'. Didik dituding menerima "uang tutup mulut bulanan" agar warung narkoba bawahannya aman dari razia. Filosofinya sederhana: "Biar saya yang amankan, asal ada uang bulanan." Praktik kepemimpinan yang inspiratif, bukan? Hingga berita ini diturunkan, Didik masih berstatus 'diperiksa', bukan tersangka. Sebuah cliffhanger yang membuat publik bertanya, "Ini kecolongan biasa, atau memang skenario?"
Bonus Episode: Skandal Seks dan 'Murahnya Harga Generasi'
Drama ini tidak hanya tentang narkoba, tapi juga skandal. Seorang saksi (LC) berbicara pada aktivis @BadaiNTB, mengaku pernah 'dipesan' oleh Didik dan istrinya untuk pesta bertiga, lengkap dengan 'suplemen' ekstasi sebagai appetizer. "Biar semangat," kata mereka mungkin. Aktivis tersebut juga mengeluhkan gampangnya akses dan murahnya harga narkoba di Bima. "Kasihan generasi kita. Rusak semua," ujarnya. Ya, sementara para petinggi sibuk dengan bisnis dan pesta mereka, yang dibayar adalah masa depan anak muda.
Review Kritikus:
*Plot: 9/10. Tidak terduga dan penuh konflik internal. Ironi tingkat tinggi.
*Aktor: 10/10. Totalitas tanpa batas. Menjadi polisi sekaligus bandar dan pengguna.
*Setting: Kantor Polres. Sangat meta.
*Pesan Moral: -100/10. Mengerikan, tapi sayangnya, terasa terlalu akrab dengan realita di beberapa tempat.
Pesan dari Produser (Kami):
Ini bukan fiksi. Ini adalah potret nyata yang memalukan dari institusi yang seharusnya menjadi pelindung. Dari anggota biasa hingga Kapolres, terlibat dalam lingkaran setan yang sama. Mereka bukan hanya mengkhianati seragam, tetapi juga menghancurkan masyarakat yang mereka janji lindungi. Sementara publik menunggu keadilan untuk semua level, satu pertanyaan menggantung: "Masih ada yang percaya sama mereka?"
Tayang selanjutnya: Akankah Propam benar-benar membersihkan rumah? Atau hanya sekadar mengganti pemain untuk musim depan? Stay tuned. (MCB)
KALI DIBACA

