Bali, WartaGlobalBali.Id - Jumat 27/3, Ada yang bilang, dunia intelijen itu senyap, penuh taktik, dan geraknya kayak kucing di atas karpet basah. Tapi kali ini, BAIS TNI malah bikin adegan yang viral bangetbukan karena operasi rahasia, tapi karena seorang aktivis disiram air keras. Ibarat film, ini salah satu adegan paling absurd di tahun 2026.
Puncaknya? Kursi Kepala BAIS TNI, Letjen Yudi Abrimantyo, tiba-tiba kosong. Bukan pensiun, bukan rotasi biasa, tapi "mengundurkan diri". Istilah yang bikin orang mikir: ini militer atau kantor startup yang lagi rebranding?
Mundur atau "Dimundurkan dengan Sopan"?
TNI bilang ini bentuk tanggung jawab pimpinan. Empat prajurit yang diduga menyiram Andrie Yunus dari KontraS sudah diamankan. Nah, sang jenderal pun pamit dengan gaya elegan: "penyerahan jabatan."
Di telinga publik, kalimat itu terdengar se-elegant ucapan "kita break dulu ya"—padahal salah satu pihak sudah uninstall perasaan.
Kapuspen TNI? Pilih menghilang dari konferensi pers. Entah karena takut salah ngomong, atau memang naskahnya belum kelar. Publik pun disuguhi plot setengah matang.
Pujian dan Skeptisisme Berdampingan
Di satu sisi, ini patut diapresiasi. Jarang-jarang institusi sebesar TNI langsung menunjukkan "atasan ikut bertanggung jawab". Biasanya yang kena cuma level bawah, sementara atasannya duduk manis sambil bilang, "Itu di luar kendali saya."
Kali ini kursi Kabais ikut goyang. Lumayan, ada rasa keadilan meski baru secuil.
Tapi di sisi lain, publik punya hak skeptis. Karena kita sudah terlalu sering nonton episode yang sama:
· Oknum dihukum.
· Pimpinan digeser halus.
· Kasus tenggelam pelan-pelan.
· Besok muncul lagi dengan judul baru, aktor baru, tapi naskahnya copy-paste.
Korban Masih Luka, Publik Masih Bertanya
Sementara drama jabatan bergulir, Andrie Yunus tetap harus menghadapi luka fisik, trauma psikologis, dan rasa tidak aman. Ini bukan soal citra institusi. Ini soal manusia yang diserang dengan cara brutal, hanya karena melakukan kerja advokasi HAM.
KontraS dan Andrie sendiri bilang: ini baru permukaan.
· Dalang intelektualnya siapa?
· Motifnya apa?
· Apakah ini aksi liar oknum, atau ada rantai komando yang lebih panjang dari antrean proyek negara?
Ending Masih Abu-Abu
Kita sekarang ada di titik klasik Indonesia banget: panggung pertanggungjawaban megah, dialog meyakinkan, tapi ending masih menggantung.
Apakah ini awal dari pembongkaran besar sampai ke akar?
Atau cuma ganti aktor supaya cerita cepat dilupakan?
Semoga saja bukan sekadar ganti pemain.
Karena kalau hanya itu, siap-siap nonton sekuelnya: "Penyerahan Jabatan Jilid 2."
Penontonnya tetap kita-kita lagi. Duduk, geleng-geleng kepala, sambil berharap kali ini plot twist-nya benar-benar bernama keadilan. (MCB)
KALI DIBACA

