Bali, WartaGlobalBali.Id – Sabtu, 28/3, Baru kali ini seorang narasumber bikin awak media geleng-geleng kepala sambil nahan tawa sekaligus geram. Bukan karena materi klarifikasinya yang rumit, tapi karena harga dirinya yang ternyata dipatok dengan angka wow!
Tim redaksi WartaGlobalBali.Id awalnya berniat baik. Kami ingin mengonfirmasi sekaligus memberi ruang klarifikasi kepada Made Hiroki, nama yang tengah panas menjadi buah bibir publik pasca polemik dengan Ni Luh Djelantik. Alih-alih mendapat penjelasan jernih, kami malah dihadapkan pada negosiasi ala pasar tradisional—tapi dengan nominal selangit.
Dalam percakapan yang tertera jelas di layar ponsel redaksi, Made Hiroki dengan santainya melempar syarat yang bikin bulu kuduk merinding:
“Semua di dunia ini engga gratis.”
“Minimal media bayar aku 100 juta.”
“Harga diri ku tinggi bos.”
Astaga. Sejak kapan klarifikasi publik berubah jadi jualan? Sejak kapan harga diri diukur dengan satuan rupiah dan dijadikan syarat wawancara?
Wawancara atau Transaksi Jual Beli?
Redaksi kami dengan sabar menjelaskan bahwa wawancara ini untuk kepentingan edukasi publik dan pemberitaan yang berimbang. Bukan, bukan untuk iklan, bukan pula untuk konten berbayar. Namun nyatanya, penjelasan itu seperti angin lalu. Sang narasumber tetap pada pendirian: no money, no klarifikasi.
Mari kita bedah sedikit. Dalam etika jurnalistik yang berlandaskan pada independensi, seorang narasumber—terutama yang tengah menjadi sorotan karena isu publik—tidak punya hak untuk mematok tarif demi memberikan klarifikasi. Informasi yang menyangkut kepentingan umum bukanlah komoditas yang bisa diperjualbelikan. Kalau begini caranya, jangan heran kalau nanti masyarakat harus patungan dulu buat bisa tahu kebenaran dari sumber pertama.
Bukan Sekadar Ngotot, Tapi Menghambat Akses Publik
Yang lebih mengkhawatirkan, jika pola pikir seperti ini dibiarkan, maka transparansi publik akan terancam. Informasi bakal berubah jadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang kantongnya tebal. Padahal, hak publik untuk mendapatkan kebenaran adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Made Hiroki memang bukan nama asing dalam pemberitaan beberapa waktu belakangan. Namanya sempat mencuat dalam sengkarut polemik dengan Ni Luh Djelantik yang berujung pada ancaman langkah hukum. Namun alih-alih memperjelas posisi, upaya kami untuk menggali fakta dari yang bersangkutan kini malah mentok di angka Rp100 juta.
Sikap Redaksi: Hak Jawab Tetap Terbuka, Tapi Jangan Main Harga
WartaGlobalBali.Id menegaskan bahwa ruang hak jawab adalah hak konstitusional yang tidak bisa dibeli atau dijual. Kami tetap membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin meluruskan informasi, tanpa syarat materi. Kami menjaga independensi, bukan karena kami tidak butuh uang, tapi karena integritas publik di atas segalanya.
Kami hanya ingin bertanya dengan sedikit sarkas:
Apakah sekarang era jurnalistik berganti rupa menjadi customer service berbayar? Apakah konfirmasi harus lewat payment gateway dulu? Dan apakah "harga diri" yang tinggi memang harus dibuktikan dengan angka di rekening?
Jika kebenaran harus ditebus dengan harga fantastis, maka biarlah kami tetap berpihak pada publik yang tak punya kuota untuk sekadar bertanya.
Catatan Redaksi:
Kami mendokumentasikan seluruh percakapan ini sebagai bagian dari investigasi. Bukan hanya soal satu individu, tapi ini menyangkut arah komunikasi publik ke depan. Apakah kita akan membiarkan ruang klarifikasi berubah menjadi ruang transaksional? Pikirkan sendiri, bos.
(MCB)
KALI DIBACA

