Buleleng, wartaglobalbali.id — Suasana hening Catur Brata Penyepian di Banjar Dinas Kajanan, Desa Joanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng, Kamis (19/3/2026) mendadak berubah kaya dangdut koplo—rame, tapi ujung-ujungnya ambyar. Yang sakral jadi rusuh, yang suci jadi basah (karena miras), dan yang moksha malah nyaris martil alias berurusan dengan besi.
Ya, di hari suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948, saat umat Hindu sedang Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan, di Banjar Dinas Kajanan malah terjadi pesta minuman keras yang berujung tebas-tebas punggung pakai samurai. Astungkara, korban selamat—tapi pasti trauma berat.
Berawal dari WA "Ngajak Ngopi" Tapi Isinya Arak
Kronologi dimulai sekitar pukul 09.30 Wita. Kadek Sastrawan (42), tuan rumah, ngirim WhatsApp ke Komang Agus Sudiartawan (28). Isinya? Bukan nanya kabar, apalagi ngajak melek. Tapi ngajak nongkrong minum-minum—pas hari yang katanya harus sunyi senyap.
Komang Agus pun datang. Datang sendiri? Oh tidak. Dia datang bersama rombongan cah gede yang jumlahnya sampai belasan orang: ada KS (50), PK (60), KW (45), NS (50), KR (45), GM (30), KN (25), PSu (24), dan KDW (19). Semua warga setempat. Semua kompak ngeyel terhadap sunyinya jagat raya.
"Nyinggung" di Saat Miring, Ujungnya Berdarah
Di tengah pesta, suasana mulai panas. Bukan karena api—soalnya Amati Geni—tapi karena omongan. Kadek Sastrawan disebut-sebut nyinggung Komang Agus. Pelaku sempat dinasihati agar tak ambil pusing. Tapi apa yang tejadi Bli? "Bukan kamu, ya kamu!" Eh, maksudnya "Bukan itu, ya itu..." (begitulah kura - kura,eh kira - kira). Intinya: emosi tak terbendung.
Komang Agus malah balik duduk di depan korban, tanya: "Apa yang kamu omongin itu saya?" Jawab korban: "Gak nyebut nama." Tapi kemudian nyeletuk: "Iya kamu, terus kenapa? Mau apa kamu?" Waduh, ini kalimat sakti pemantik drama action.
Komang Agus mendorong korban sampai jatuh dari kursi. Terjadilah sparring partner ala UFC Banjar. Berhasil dilerai, pelaku dipulangkan. Tapi cerita belum selesai.
"Ngejar Pakai Kursi, Dibalas Pakai Samurai"
Begitu pelaku mau pulang, eh korban malah ngejar sambil lempar kursi. Padahal etika perang adat itu lemparnya pakai sindiran atau sesangi, bukan pakai furnitur. Ditambah korban juga ambil botol bir sambil teriak ancang-ancang mau bunuh. Nah, kalau sudah begitu, yang tadinya miras party berubah jadi action movie.
Komang Agus lari ke rumah, ambil samurai, balik lagi, dan langsung nyeblag korban. Satu tebasan kena punggung Kadek Sastrawan. Darah pun tumpah di hari yang mestinya sunyi. Istri pelaku, ibu pelaku, dan beberapa saksi sontak melerai. Pelaku akhirnya pulang. Korban? Dilarikan pakai Suzuki Carry Pick Up hitam ke rumah sakit.
Viral di Medsos, Tepat di Hari Raya
Apesnya, detik-detik evakuasi korban sempat terekam dan diunggah oleh akun I Gusti Bagus Triguna KW. Jadilah Nyepi tahun ini viral bukan karena keheningan, tapi karena hiruk-pikuk tebas-tebas punggung yang dishare sampai ke linimasa.
Polres Buleleng melalui Kasi Humas Iptu Yohana Rosalin Diaz membenarkan kejadian ini. Pelaku kini diamankan, para saksi diperiksa, dan yang ikut nongkrong mungkin bakal kena juga karena nodai hari suci.
Komentar Warganet: "Nyepi di rumah aja, jangan nge-drugs"
Warganet pun ramai memberi komakar:
- @BliKomang_Badboy: “Baru kali ini lihat Ngurek versi modern, pake samurai dan WA.”
- @Sari_Bali_Asli: “Amati geni? Artinya api kompor pun tak dinyalakan. Tapi api amarah sepertinya ngegas terus.”
- @JeroBau_Cool: “Ini mah bukan Nyepi, tapi Nyere—nyerang pakai samurai.”
Penutup: Jangan Sampai Miras Bikin Bali "Kendor"
Kasus ini jadi pengingat bahwa *Nyepi* bukan cuma soal mati lampu dan mati jalan. Tapi soal mati rasa untuk hal-hal duniawi. Miras, chat WA, dan ego bisa menodai kesucian yang sudah dijaga turun-temurun. Maka, sebelum merayakan Nyepi tahun depan, mungkin ada baiknya—sing ngidang mekemit, eda kanti mekecoh (kalau tak mampu menjaga, jangan sampai menyesatkan).
Semoga kejadian ini jadi yang terakhir, dan keheningan Nyepi ke depan bener-bener "kedengaran", bukan malah "kedengeran suara ambulan". (MCB)
KALI DIBACA

