Pulihkan Ruh Kongres Kebudayaan, HPK Lirik Bali sebagai Episentrum dan Benteng Peradaban Bangsa - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Pulihkan Ruh Kongres Kebudayaan, HPK Lirik Bali sebagai Episentrum dan Benteng Peradaban Bangsa

Saturday, 23 May 2026

Foto : Penglingsir Puri Agung Satria atau Puri Agung Denpasar, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi (Cok Rat). kehadiran Ketum HPK beserta jajarannya, Sabtu 23/5


Denpasar, wartaglobalbali.id – Sebuah gerakan kebudayaan nasional mulai digerakkan dari Pulau Dewata. Di tengah ancaman tergerusnya identitas dan distorsi sejarah yang berkepanjangan, Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (HPK) mengambil inisiatif strategis untuk menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Nusantara 2026. Langkah ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah misi peradaban untuk memulihkan roh kongres yang selama ini kehilangan jati dirinya.

Ketua Umum HPK, Dr. Ir. Hadi Prajoko, S.H., M.H., bersama Sekretaris Jenderal Agung Rizkhi Zaifudhin, A.Md.T., S.H., hadir langsung ke Bali pada Sabtu (23/5) lalu. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Ketua DPD HPK Bali, Ir. Budi Darma, dan Sekretaris Romo Benny. Rombongan segera melakukan anjangsana budaya ke kediaman Penglingsir Puri Agung Satria atau Puri Agung Denpasar, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi (Cok Rat).

Serap Aspirasi dari Para Penglingsir dan Tokoh Budaya

Dalam pertemuan yang berlangsung khidmat itu, rombongan HPK berdialog langsung dengan sejumlah tokoh adat dan budaya Bali untuk menghimpun saran serta masukan penting terkait penganut kepercayaan asli Nusantara. Aspirasi ini akan menjadi fondasi utama menjelang Kongres Kebudayaan HPK yang direncanakan bergulir di lima provinsi, dimulai dari Jawa Timur dan berlabuh utama di Bali.

Foto : Beberapa Tokoh Budaya turut hadir

Sejumlah nama besar hadir dalam forum tersebut, di antaranya:

1. Ida Rsi Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba beserta istri
2. Jro Mangku Made Dwija Nurjaya
3. Jro Mangku Wahyu
4. Den mas Harjo Sujatmiko
5. Bernard Keytimu

Kehadiran para tokoh ini menegaskan bahwa perjuangan kebudayaan bukanlah milik satu golongan, melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa yang menghormati akar sejarahnya.

Cok Rat: Semangat Puputan adalah Cikal Bakal Kebangkitan Budaya

Dalam dialog yang berlangsung hangat, Penglingsir Puri Agung Satria, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi (Cok Rat) , menyampaikan pandangan mendalam yang menggetarkan. Baginya, sejarah panjang perjuangan Bali bukanlah catatan duka semata, melainkan fondasi semangat yang harus terus diwariskan.

"Semangat Puputan merupakan cikal bakal dari sebuah kebangkitan Budaya yang harus diwariskan dari generasi ke generasi, " tegas Cok Rat dengan nada penuh wibawa di hadapan rombongan HPK.

Lebih lanjut, pria yang juga dikenal sebagai sesepuh adat ini menegaskan bahwa hingga saat ini, Bali masih kokoh menjaga tradisinya karena memiliki ruh yang tak pernah padam. Ia menyebutnya sebagai "Metaksu" —sebuah konsep spiritual mendalam yang terus hidup dalam keseharian masyarakat Bali.

"Bali adalah episentrum yang tetap menjaga adat dan budaya. Ia mempunyai ruh Metaksu yang hidup dalam masyarakat sehari-hari. Harmonis dengan alam, manusia, dan Tuhannya. Di sinilah letak kekuatan sejati kebudayaan kita," ujar Cok Rat disambut anggukan para tokoh yang hadir.

Pernyataan Cok Rat ini seakan menjadi jawaban mengapa Bali layak menjadi tuan rumah dan simbol kebangkitan kebudayaan nasional. Semangat Puputan yang heroik dan filosofi Tri Hita Karana yang adiluhung dinilai sejalan dengan misi HPK untuk mengembalikan kesadaran Eco-Teologis bangsa.

Kilas Balik: Kemerdekaan Lahir dari Kesadaran Budaya

Ketua Umum HPK Hadi Prajoko mengingatkan kembali sebuah fakta sejarah yang kerap dilupakan: kemerdekaan Indonesia tidak semata lahir dari dentuman senapan dan bambu runcing.

"Kemerdekaan adalah buah dari kesadaran kolektif yang tumbuh perlahan—kesadaran untuk merebut kembali martabat, kedaulatan, dan jati diri peradaban bangsa yang lama dirampas kolonialisme," tegas Hadi dalam keterangannya.

Foto : Pertemuan tersebut diprakarsai oleh Rm Benny dan Ida Rsi Siliwangi saat anjangsana di kediaman Penglisir Puri Agung Satria Denpasar 

Ia memaparkan bahwa kesadaran itu pertama kali termanifestasi dalam Kongres Kebudayaan 1817, yang kemudian menyalakan bara perlawanan fisik dari Nyi Ageng Serang, Ki Ageng Serang, hingga Perang Diponegoro (1825–1830). Semangat yang sama terus menyala, menandai Kebangkitan Nasional, Kongres Kebudayaan 1887, hingga berdirinya Budi Utomo pada 1908—embrio pertama organisasi kebangsaan modern.

"Puncaknya adalah Kongres Pemuda 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Ikrar yang menyatukan ribuan pulau dalam satu tekad: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa," tambahnya.

Bali: Episentrum yang Tak Pernah Menyerah

Mengapa Bali dipilih sebagai salah satu poros utama kongres? Sekjen HPK, Agung Rizkhi Zaifudhin, menjelaskan bahwa Bali bukan sekadar destinasi wisata. Bali adalah episentrum, etalase, sekaligus benteng terakhir kebudayaan bangsa.

"Jauh sebelum proklamasi, Bali telah menulis catatan perlawanan dengan darah: Puputan Badung (1906), Puputan Klungkung (1908), dan puncaknya Puputan Margarana (1946) —persembahan jiwa terakhir demi tegaknya Republik," ujar Agung dengan nada haru.

Ia juga menyoroti Kongres Kebudayaan 1937 di Bali sebagai simpul penting yang menghubungkan geliat kebudayaan dengan kesadaran kebangsaan. Para tokoh kebudayaan, masyarakat adat, hingga penghayat kepercayaan inilah yang kemudian bergabung dalam BPUPKI dan merumuskan dasar negara. Salah satu pendiri HPK, Mr. Wongsonegoro, adalah bukti nyata bahwa kebudayaan dan kebangsaan adalah dua sisi mata uang yang sama.

Mengkritik Kongres Zaman Now: Kehilangan Ruh

Namun, di balik semangat heroik masa lalu, HPK melontarkan kritik tajam. Menurut mereka, Kongres Kebudayaan hari ini telah kehilangan ruhnya.

"Dahulu, kongres tumbuh dari bawah—dari kesadaran murni para pelaku kebudayaan. Kini, ia cenderung berjalan dari atas ke bawah, digerakkan birokrasi dan kepentingan formal. Suara masyarakat adat, budayawan, dan penghayat kepercayaan semakin terpinggirkan," sesal Hadi Prajoko.

Belum lagi ancaman distorsi sejarah dan paradigma orientalisme yang secara sistematis menempatkan bangsa ini sebagai inferior, jauh dari akar peradabannya sendiri, dan kehilangan rasa percaya diri.

Kesadaran Eco-Teologis dan Masa Depan Bangsa

Melalui Kongres Kebudayaan Nusantara, HPK ingin mengembalikan kedalaman makna yang selama ini tersembunyi di balik ekspresi budaya. Bukan sekadar wajah seremonial atau keindahan estetika, melainkan nilai-nilai luhur yang membentuk kepribadian bangsa.

"Bangsa ini berdiri di atas kesadaran Eco-Teologis, menempatkan manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari semesta. Ini melahirkan ko-eksistensi: hidup bersama, saling menghidupi, antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa. Tradisi dan upakara adat di Bali adalah perwujudan paling utuh dari kesadaran itu," jelas Hadi Prajoko menegaskan.

Kongres yang akan digelar serempak di lima provinsi ini adalah langkah nyata menggali, merawat, dan meneruskan warisan adiluhung kepada generasi mendatang. Hal ini sejalan dengan amanat Pasal 32 UUD 1945 yang mewajibkan negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

"Karena kebudayaan bukanlah masa lalu yang dikenang. Ia adalah fondasi yang menentukan ke mana bangsa ini melangkah, tetaplah Suci dalam Pikiran, Perbuatan dan Perkataan (Trikaya Parisuda)," tutup Ida Rsi Siliwangi memberikan wejangan.

Dengan digaungkannya kembali nilai-nilai luhur dari Bali—dari semangat Puputan hingga filosofi Tri Hita Karana yang dijaga turun-temurun oleh para penglingsir Puri Agung—HPK berharap Kongres Kebudayaan 2026 menjadi titik balik kebangkitan jati diri bangsa yang selama ini terpendam. (MCB)

KALI DIBACA