
YOGYAKARTA – WartaGlobal.Id
Di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks, hubungan antara India dan Indonesia menyimpan kisah panjang yang melampaui kerja sama politik dan ekonomi. Kedua bangsa diikat oleh warisan peradaban, spiritualitas, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan yang telah terjalin selama berabad-abad.
Gagasan tersebut disampaikan oleh Ida Rsi Putra Manuaba, pendiri Ashram Gandhi Puri, yang memandang Ayodhya dan Yogyakarta sebagai dua simpul penting dalam jembatan peradaban India–Indonesia.
Menurutnya, perjalanan spiritual dan intelektualnya dimulai saat menempuh pendidikan di India pada 1992. Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi maupun teknologi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.
Semangat itulah yang kemudian diwujudkan melalui pendirian Ashram Gandhi Puri pada 6 September 1997. Sejak awal, lembaga tersebut mengusung misi membangun "jembatan kemanusiaan" melalui pendidikan, pelayanan sosial, dialog budaya, dan persahabatan lintas bangsa.
Dalam pandangannya, Ayodhya merupakan simbol dharma dan keteladanan hidup Sri Rama, sementara Yogyakarta menjadi penjaga kebudayaan Nusantara yang terus melestarikan nilai-nilai tersebut melalui berbagai warisan budaya, termasuk kisah Ramayana yang diabadikan dalam relief Candi Prambanan.
Ramayana, menurut Ida Rsi Putra Manuaba, bukan sekadar epos klasik, melainkan pedoman moral yang relevan hingga kini.
Sri Rama melambangkan integritas dan kepemimpinan yang berlandaskan dharma, Dewi Sita mencerminkan kesetiaan dan keteguhan hati, sedangkan Hanuman menjadi simbol pengabdian tanpa pamrih.
Hubungan budaya tersebut semakin diperkuat melalui diplomasi antarmasyarakat (people-to-people diplomacy).
Pada tahun 2024, Ida Rsi Putra Manuaba berkesempatan berdialog dengan Gubernur Uttar Pradesh, Anandiben Patel, serta Chief Minister Uttar Pradesh, Yogi Adityanath. Pertemuan itu membahas pentingnya memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, budaya, yoga, pelayanan sosial, dan hubungan antarmasyarakat sebagai fondasi persahabatan kedua negara.
Melalui Gerakan Shantisena dan Ashram Gandhi Puri, berbagai program pendidikan karakter dan pengabdian masyarakat terus dikembangkan, khususnya bagi generasi muda. Tujuannya adalah membentuk pemimpin masa depan yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan semangat melayani.
"Peradaban besar tidak dibangun oleh kebencian, melainkan oleh kemampuan menjaga nilai-nilai luhur, menghormati keberagaman, dan membangun persahabatan lintas bangsa," tegas Ida Rsi Putra Manuaba.
Ia meyakini bahwa masa depan dunia akan lebih ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi dibandingkan persaingan. Dunia, menurutnya, membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok.
Dari Ayodhya hingga Yogyakarta, dari Sungai Sarayu hingga tanah Jawa, dari Ram Mandir hingga Candi Prambanan, pesan yang diwariskan tetap sama: manusia mencapai kemuliaannya ketika hidup dalam dharma, melayani dengan kasih, dan mengabdikan diri bagi kebaikan bersama.
Semangat tersebut berpuncak pada filosofi kuno India, Vasudhaiva Kutumbakam—dunia adalah satu keluarga—yang menjadi pesan universal bagi terciptanya perdamaian, persaudaraan, dan peradaban yang saling menguatkan.
KALI DIBACA

