Bukan Cuma Jahitan yang Kacau! Anggota DPD Ini Pasang Badan Lawan "Rasis Berkedok Mediasi", Korban Dianiaya Dua Kali - Warta Global Bali

Mobile Menu

Klik

Raning Taxt Berita

Memuat berita...

More News

logoblog

Bukan Cuma Jahitan yang Kacau! Anggota DPD Ini Pasang Badan Lawan "Rasis Berkedok Mediasi", Korban Dianiaya Dua Kali

Thursday, 13 August 2026
Foto :  Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik atau Niluh Djelantik, anggota DPD RI asal Bali bersama Pimred Warta Global Bali, Maichel Benediktus atau akrab disapa Romo Benny
Denpasar, wartaglobalbali.id, Jumat 14/8 – Dunia maya kembali bergejolak. Bukan karena politik atau ekonomi, tapi karena kasus rasisme yang memilukan dari Bali. Seorang pelanggan asal Lombok, RHW atau Hilda, tidak hanya menjadi korban cacian rasis dari pemilik Sintya Tailor, Ni Made Tiadnyani. Lebih parah, ia kembali "dianiaya" di meja mediasi yang seharusnya menjadi ruang pencarian keadilan.

Video audiensi yang viral justru memperlihatkan betapa korban dipojokkan dan diintimidasi secara halus oleh tokoh yang hadir. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, muncul malaikat pelindung: Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik atau Niluh Djelantik, anggota DPD RI asal Bali terpilih, yang dengan berani pasang badan melawan gelombang intimidasi.

Kronologi: Dari "Tunggu 15 Menit" Jadi Ancaman "Saya Bunuh Kamu"

Kisah ini berawal dari urusan jahit-menjahit yang seharusnya sederhana. Kronologi dari pihak pelanggan mengungkapkan bahwa Hilda telah membayar lunas jasa jahit sejak 30 Juni 2026 dan dijanjikan selesai keesokan harinya. Namun hingga 3 Juli 2026, pesanan tak kunjung rampung. Merasa dibohongi dengan janji palsu, Hilda pun meminta uangnya kembali.

Permintaan ini sontak memicu amarah sang penjahit, Ni Made Tiadnyani alias Sintya. Dalam rekaman video yang mengguncang jagat maya, Sintya tidak hanya merendahkan Hilda dengan kalimat rasis yang membandingkan daerah asal, tetapi juga melontarkan ancaman fisik yang mengerikan: "Saya gerakkan orang Bali biar kamu mati, biar saya suruh tukang pukul saya bunuh kamu".

Kemarahan Sintya semakin menjadi dengan kata-kata: "Kalau aku nggak ingat dengan hukum, sudah ku sikat mulutmu, udah ku pukul pakai tongkat".

Ironi Mediasi: Korban Dipojokkan, Pelaku Dibelai

Viralnya kasus ini mendorong digelarnya mediasi di Polsek Abiansemal pada Minggu (19/7/2026). Hasilnya: berdamai. Namun rekaman video sidang yang kembali viral pada 13 Agustus 2026 justru memicu gelombang kemarahan baru.

Dalam video tersebut, Hilda tampak duduk dengan raut wajah tegang, lebih banyak mendengarkan nada bicara tegas anggota DPD Dapil Bali, Arya Wedakarna, yang justru mengarah kepada korban. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan terkesan membela pelaku: "Terus udah terjadi gimana? Sekarang mau diapain ibu ini di depan saya? Emang ibunya salah? Maunya gimana, emang mau ditutup?".

Lebih parah, Arya menyentil soal nasib keluarga Sintya dan mengancam Hilda dengan UU ITE jika menyebarkan video. "Kalau misalkan ditutup nih, Bapak Ibu... Bapak Ibu ini suaminya sama-sama penjahit loh. Dia punya anak masih sekolah. Kalau kamu emosi Ibunya ditutup, digruduk misalkan, mau kamu kasih makan?" ujar Arya dalam video tersebut.

Niluh Djelantik: "Jangan Gentar Nak, Ibu Niluh Bersamamu!"

Di sinilah drama memuncak. Melihat korban yang terpojok, Niluh Djelantik—yang dikenal sebagai desainer sepatu kelas dunia dengan perolehan suara DPD RI tertinggi 377.152 suara—langsung angkat bicara melalui kolom komentar.

Dengan tegas dan penuh empati, Niluh menuliskan pesan yang menghangatkan hati sekaligus menusuk para pembela pelaku:

"Om Swastyastu, kepada adik manis pelanggan yang dicaci maki oleh ibu penjahit yang rasis itu; jangan kuatir nak, Ibu Niluh bersamamu. Jangan gentar atas intimidasi dari siapapun."

Niluh sebelumnya juga telah mengecam keras tindakan rasisme tersebut. "Terlepas dari apa pun masalahnya, tidak ada alasan yang membenarkan rasisme. Mohon segera diselesaikan secara adil," tegasnya.

Kritik Pedas: Keadilan atau "Pembelaan Kolega"?

Publik pun bertanya-tanya. Mengapa ada anggota dewan yang justru terkesan membela pelaku rasis dan mengancam korban? Apakah ini bentuk solidaritas sesama "pejabat" atau memang ada yang salah dengan nalar keadilan di negeri ini?

Niluh Djelantik dengan sikap beraninya telah menunjukkan bahwa membela kebenaran tidak butuh jabatan, butuh nyali. Ia siap melawan intimidasi dan memberikan pendampingan moral bagi rakyat kecil yang tertindas.

Hikmah di Balik Kerusuhan

Kasus Sintya Tailor ini mengajarkan satu hal: rasisme dan ancaman kekerasan tidak pernah bisa dibenarkan, apa pun alasannya. Bahkan alasan "lagi makan" atau "pelanggan tidak sabar" tidak bisa menjadi pembenar atas ujaran kebencian bernuansa SARA.

Publik kini menunggu langkah nyata aparat penegak hukum. Apakah kasus ini akan berakhir sebagai "damai" yang menguntungkan pelaku, atau ada keadilan nyata bagi korban yang nyawanya terancam?

Yang jelas, di tengah kegelapan intimidasi, ada Niluh Djelantik yang menjadi cahaya. Semoga keberaniannya menular pada para penegak hukum lainnya. Karena jika bukan kita yang melawan rasisme, siapa lagi? (MCB) 
Memuat konten...