140 Pelajar Hainan School Diajari “Rem Digital”:  SPASI Bali Ingatkan, Sekali Klik Bisa Jadi Masalah - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

140 Pelajar Hainan School Diajari “Rem Digital”:  SPASI Bali Ingatkan, Sekali Klik Bisa Jadi Masalah

Saturday, 8 August 2026


                         Poto Istimewa 

DENPASAR Bali-WartaGlobal.Id
 Sebanyak 140 pelajar Hainan School Denpasar mendapat pelajaran penting yang mungkin tidak ditemukan hanya dari buku pelajaran: bagaimana menjaga diri ketika memasuki dunia maya.

Melalui sosialisasi bertema “Aman di Dunia Maya”, DPC SPASI Provinsi Bali hadir memberikan edukasi kepada siswa kelas 4, 5 dan 6 SD serta siswa kelas 1 SMP Hainan School, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di SD Hainan School, Jalan Tukad Badung X Blok B No. 3, Renon, Denpasar, tersebut menghadirkan Ketua DPC SPASI Provinsi Bali, Betty Prissila Djunaedi, S.H., bersama jajaran pengurus SPASI Bali sebagai narasumber.
Pesannya jelas: anak-anak tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan internet. Mereka juga harus diajarkan kapan harus berhenti, apa yang tidak boleh dibagikan, serta bagaimana bertindak ketika menemukan persoalan di dunia maya.

Jangan Asal Klik, Jangan Asal Sebar
Di era ketika informasi dapat berpindah dari satu telepon genggam ke telepon genggam lainnya hanya dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat dengan mudah menjadi viral.
Masalahnya, tidak semua yang viral adalah benar.

Pelajar diberikan pemahaman agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial, tidak ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta tidak menjadikan kolom komentar sebagai tempat untuk menghina atau merendahkan orang lain.
“Berhenti sejenak sebelum mengunggah sesuatu” menjadi prinsip penting dalam menggunakan media sosial.
Sebab, apa yang dianggap sekadar candaan oleh seseorang belum tentu dianggap lucu oleh orang lain.

Data Pribadi Bukan untuk Konsumsi Publik
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah keamanan data pribadi.
Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang sangat aktif menggunakan perangkat digital. Karena itu, mereka perlu mengetahui bahwa informasi seperti kata sandi, alamat rumah, nomor telepon, foto dokumen, lokasi dan informasi pribadi lainnya tidak boleh diberikan kepada sembarang orang.

Keamanan digital dimulai dari kebiasaan sederhana: tidak sembarangan membagikan informasi pribadi dan tidak mudah percaya kepada orang yang dikenal hanya melalui internet.
Melihat Pelanggaran, Jangan Ikut Diam
SPASI Bali juga menekankan pentingnya keberanian untuk mengambil sikap ketika menemukan tindakan yang merugikan atau membahayakan di ruang digital.

Pelajar tidak harus menjadi “polisi internet”. Namun, mereka harus tahu bahwa menyebarkan ulang konten bermasalah bukanlah solusi.
Jika menemukan perundungan, ancaman, penipuan, pelecehan atau konten berbahaya, langkah yang lebih tepat adalah menyimpan bukti seperlunya, tidak ikut menyebarkan, kemudian melaporkannya kepada orang tua, guru atau pihak yang berwenang.

Internet Bukan Wilayah Tanpa Hukum
Edukasi tersebut juga memperkenalkan aspek hukum dalam penggunaan teknologi informasi.
Indonesia memiliki UU Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU ITE, yang mengatur berbagai perbuatan dalam ruang elektronik.

Artinya, ruang digital bukan tempat tanpa aturan.
Apa yang dilakukan seseorang melalui akun media sosial, aplikasi pesan maupun platform digital dapat memiliki konsekuensi apabila memenuhi unsur pelanggaran hukum.
Karena itu, para pelajar diajak memahami prinsip sederhana:

Jangan mengetik sesuatu yang tidak berani dipertanggungjawabkan.
SPASI dan Sekolah Bangun Benteng dari Bangku Pendidikan
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun kesadaran digital sejak usia sekolah.

Dari pihak Hainan School, kegiatan dikoordinasikan oleh Elvi Mariati Pintubatu, M.Pd., Koordinator Pendidikan Yayasan Hainan.
Sejumlah stakeholder sekolah yang terlibat antara lain Elvi Maria selaku Kepala Sekolah SMP dan Ni Putu Ayu Armawati, S.M., S.Pd. selaku Kepala Sekolah SD.
Sementara SPASI Bali hadir melalui Betty Prissila Djunaedi, S.H., Ketua DPC SPASI Provinsi Bali, bersama jajaran pengurus.

Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa perlindungan anak di era digital tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga.
Sekolah, orang tua, organisasi masyarakat, aparat penegak hukum dan lingkungan sosial memiliki tanggung jawab bersama membangun budaya digital yang sehat.
Generasi Digital Harus Punya “Rem”
Anak-anak hari ini tumbuh bersama internet. Mereka lebih cepat mengenal media sosial, video pendek, permainan daring dan berbagai platform digital.

Namun, kemampuan mengoperasikan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengendalikan diri.
Sebab, teknologi tanpa literasi dapat menjadi bumerang.

Pesan yang dibawa SPASI Bali di Hainan School pun sederhana:
Gunakan internet untuk belajar.
Gunakan media sosial untuk berkarya.
Gunakan teknologi untuk berbagi manfaat.

Dan jangan pernah menggunakan dunia maya untuk menyakiti orang lain.
Pada akhirnya, menjadi netizen yang baik bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki pengikut.

Tetapi siapa yang mampu meninggalkan jejak digital yang baik, aman dan bertanggung jawab.

KALI DIBACA