
Program Udayana Mengabdi Perkuat Diversifikasi Produk dan Pemasaran Digital Masyarakat Pesisir
KARANGASEM — WartaGlobal.Id Penguatan ekonomi masyarakat pesisir kembali menjadi perhatian melalui kolaborasi perguruan tinggi, masyarakat dan organisasi masyarakat sipil.
Di Desa Seraya Timur, Kabupaten Karangasem, Bali, Minggu (20/9/2026), Program Udayana Mengabdi mendorong pengembangan potensi hasil laut melalui inovasi produk dan pemanfaatan pemasaran digital.
Program tersebut mengangkat tema “Pemberdayaan Ekonomi Nelayan Desa Seraya Timur melalui Inovasi Diversifikasi Produk Hasil Laut dan Optimalisasi Pemasaran Digital.”
Kegiatan ini menempatkan masyarakat pesisir bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pelaku utama dalam pengembangan potensi ekonomi lokal.
Hasil laut yang selama ini dipasarkan dalam bentuk bahan mentah didorong agar memiliki nilai tambah melalui pengolahan, diversifikasi, pengemasan, branding dan pemasaran.
Kawan Alam Indonesia Dorong Jejaring Kolaborasi
Dalam kegiatan tersebut, Kawan Alam Indonesia turut berpartisipasi melalui Wanda Syahputra, Founder Kawan Alam Indonesia sekaligus Ketua Divisi Pengembangan Organisasi dan Keanggotaan, serta I Wayan Juliantara Putra, S.Kel., Ketua Divisi Kemitraan dan Hubungan Antar Lembaga.
Wanda mengatakan, potensi masyarakat pesisir membutuhkan dukungan pengetahuan, inovasi, jejaring dan akses pasar agar dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
“Potensi masyarakat pesisir sebenarnya sangat besar. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk mempertemukan potensi tersebut dengan pengetahuan, inovasi, jejaring, dan akses pasar.
Karena itu, kolaborasi seperti ini penting untuk terus dibangun agar masyarakat tidak hanya menjadi objek kegiatan, tetapi menjadi pelaku utama dalam pengembangan potensi wilayahnya,” ujar Wanda.
Menurutnya, penguatan masyarakat tidak cukup hanya melalui kegiatan sesaat. Dibutuhkan hubungan kelembagaan dan kemitraan yang dapat membuka akses masyarakat terhadap berbagai sumber daya.
Kawan Alam Indonesia, kata Wanda, dapat mengambil posisi sebagai salah satu penghubung antara masyarakat, akademisi, pemerintah, komunitas, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya.
Akademisi Tekankan Nilai Tambah dan Keberlanjutan
Perspektif akademik dalam kegiatan tersebut turut diperkuat oleh Dr. Nyoman Dati Pertami, S.P., M.Si., dari Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, yang tercatat sebagai Koordinator Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.
Menurut Dati, pengembangan ekonomi pesisir harus melihat sumber daya perairan secara menyeluruh. Pemanfaatan hasil tangkapan tidak hanya diarahkan pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan sumber daya.
“Pemberdayaan masyarakat pesisir perlu melihat potensi sumber daya yang ada secara utuh. Tidak hanya bagaimana hasil tangkapan dimanfaatkan, tetapi juga bagaimana hasil tersebut dapat diberikan nilai tambah melalui pengolahan, inovasi, pengemasan, hingga pemasaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberlanjutan sumber daya perairan menjadi bagian penting dalam setiap upaya pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.
Pendekatan tersebut memiliki keterkaitan dengan kegiatan pengabdian Universitas Udayana sebelumnya di Seraya Timur yang menyasar pemberdayaan kelompok perempuan nelayan melalui pengolahan dan pengemasan produk ikan tongkol, termasuk aspek pemasaran dan penguatan kolaborasi.
Produk Laut Tak Lagi Sekadar Komoditas Mentah
Persoalan nilai tambah menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan ekonomi nelayan.
Hasil tangkapan yang dijual sebagai bahan mentah memiliki keterbatasan dalam membangun nilai ekonomi. Sebaliknya, pengolahan menjadi produk siap konsumsi membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai tahapan dalam rantai nilai.
Mulai dari pengolahan, pengemasan, penyimpanan, branding hingga pemasaran menjadi bagian yang perlu diperkuat.
Digitalisasi pemasaran juga memberikan peluang bagi produk masyarakat pesisir untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Namun, perluasan pasar tidak otomatis terjadi hanya karena penggunaan media digital.
Kualitas produk, konsistensi produksi, kemasan, identitas merek, kemampuan membuat konten, pelayanan konsumen dan pengelolaan pemasaran tetap menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan usaha.
Kemitraan Diharapkan Tidak Berhenti pada Seremonial
Sementara itu, I Wayan Juliantara Putra, S.Kel., menilai pengembangan ekonomi masyarakat pesisir membutuhkan ekosistem kemitraan yang berkelanjutan.
“Kita melihat bahwa masyarakat memiliki potensi dan pengalaman yang sangat penting. Peran kita adalah bagaimana membangun jembatan agar potensi tersebut dapat bertemu dengan pihak-pihak yang memiliki pengetahuan, teknologi, akses, maupun jejaring pasar.
Dari sinilah kemitraan bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Wayan.
Ia menyatakan Kawan Alam Indonesia membuka ruang komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap lingkungan, masyarakat pesisir dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Bagi organisasi tersebut, kolaborasi di Seraya Timur diharapkan tidak berhenti pada satu agenda. Pengembangan jejaring, penguatan kelembagaan masyarakat, inovasi produk serta pembukaan akses pasar menjadi bagian yang dapat dikembangkan dalam tahap berikutnya.
Seraya Timur dan Potensi Ekonomi Pesisir
Desa Seraya Timur memiliki rekam jejak sebagai salah satu lokasi kegiatan pengabdian yang berkaitan dengan pengembangan produk perikanan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Pengalaman tersebut menjadi modal sosial bagi pengembangan program berikutnya. Melalui Program Udayana Mengabdi 2026, pendekatan pemberdayaan kembali diarahkan pada penggabungan inovasi hasil laut dengan pemanfaatan kanal pemasaran digital.
Bagi masyarakat nelayan, tantangannya bukan semata bagaimana mendapatkan hasil tangkapan, tetapi bagaimana hasil tersebut dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih baik sekaligus tetap menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
Karena itu, penguatan ekonomi pesisir membutuhkan lebih dari sekadar bantuan. Pengetahuan, teknologi, inovasi, akses pasar, kelembagaan dan kemitraan harus berjalan dalam satu ekosistem.
Dari Seraya Timur, kolaborasi antara akademisi, masyarakat dan organisasi seperti Kawan Alam Indonesia menunjukkan satu arah pengembangan: hasil laut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi didorong menjadi produk bernilai tambah yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.
Pada saat yang sama, keberhasilan program tetap bergantung pada keberlanjutan pendampingan dan kemampuan masyarakat mengambil peran utama dalam mengelola potensi wilayahnya.
Kawan Alam Indonesia
Bersama Masyarakat, Menjaga Alam, Menguatkan Pesisir.
Afkan.

.jpg)