Publisher
ADMIN REDAKSI
-
Saturday, 3 October 2026
Poto Istimewa
Dinner Bali–Timor-Leste Memperlihatkan Normalisasi Profesional: Jurnalis dan Kepala Pemerintahan Tetap Bisa Berdiri pada Posisi Masing-Masing
DENPASAR — WartaGlobal.Id
Malam dinner dalam rangkaian Bali–Timor-Leste Business Forum 2026 memperlihatkan sebuah pemandangan yang menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai peristiwa sosial, tetapi sebagai potret kedewasaan profesional.
Seorang jurnalis yang sebelumnya pernah menjadi sorotan publik akibat isu mengenai hubungan atau perseteruan dengan Gubernur Bali, Wayan Koster, terlihat dapat berinteraksi secara ramah dan profesional dalam ruang yang sama.
Tidak ada drama.
Tidak ada panggung untuk membuka kembali masa lalu.
Tidak ada kebutuhan mempertontonkan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Yang terlihat justru sebuah pesan sederhana tetapi penting:
Profesionalisme tidak harus memusuhi kekuasaan. Dan kritik terhadap pemerintah tidak harus berubah menjadi permusuhan pribadi.
AKUR BUKAN BERARTI TIDAK PERNAH KRITIS
Di sinilah kedewasaan seorang jurnalis sebenarnya diuji.
Seorang wartawan memiliki kewajiban menjalankan fungsi jurnalistik secara independen. Kepala pemerintahan memiliki mandat menjalankan pemerintahan.
Keduanya mempunyai posisi yang berbeda.
Tetapi perbedaan posisi tidak otomatis melahirkan permusuhan.
Justru kemampuan menempatkan diri sesuai ruang dan fungsi masing-masing menunjukkan kematangan mental, kecerdasan sosial, serta kontrol profesional.
Gubernur tetap Gubernur.
Jurnalis tetap jurnalis.
Ketika berada dalam forum sosial dan diplomatik, keduanya dapat berbicara secara manusiawi. Ketika masuk ke wilayah kebijakan publik, jurnalis kembali menjalankan fungsi kontrol sosialnya.
Itulah profesionalisme.
DATA FORUM MENUNJUKKAN KONTEKSNYA BUKAN SEKADAR DINNER
Bali–Timor-Leste Business Forum 2026 bukan sekadar acara seremonial.
Forum yang berlangsung di Tsinghua Southeast Asia Center, Denpasar, pada 2 Oktober 2026, mempertemukan pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, UMKM dan pemangku kepentingan Indonesia–Timor-Leste.
Data yang dipublikasikan menunjukkan nilai ekspor Bali Januari–Agustus 2026 mencapai sekitar US$276,34 juta, sementara perdagangan Bali dengan Timor-Leste berdasarkan Surat Keterangan Asal pada periode yang sama mencapai sekitar US$18,85 juta. Komoditas yang diperdagangkan antara lain kerajinan kayu, furnitur, kerajinan logam, tekstil dan produk tekstil.
Artinya, forum tersebut mempunyai dimensi ekonomi, diplomasi, investasi dan hubungan antarnegara.
Dalam konteks seperti itu, kemampuan seorang jurnalis berkomunikasi secara profesional dengan kepala pemerintahan justru merupakan modal sosial, bukan kelemahan.
JURNALIS CERDAS TAHU KAPAN HARUS MENGKRITIK
Ada paradigma yang perlu diluruskan.
Jurnalis kritis tidak identik dengan jurnalis yang harus selalu bermusuhan dengan pejabat.
Sebaliknya, jurnalis yang selalu mencari konflik belum tentu kritis.
Kritik jurnalistik harus mempunyai dasar:
data, dokumen, fakta, verifikasi, kepentingan publik dan keberimbangan.
Ketika fakta mendukung pemerintah, wartawan wajib memberitakannya.
Ketika kebijakan pemerintah bermasalah, wartawan juga wajib mengkritisinya.
Keduanya bukan kontradiksi.
Itulah independensi.
Gubernur Bali sendiri sebelumnya menyampaikan agar pers tetap kritis dan objektif, tetapi juga berani menyampaikan hal positif maupun negatif berdasarkan kondisi sebenarnya.
YANG MENARIK JUSTru BUKAN FOTO AKURNYA
Yang menarik bukan sekadar dua figur yang terlihat ramah dalam sebuah dinner.
Yang lebih menarik adalah kemampuan manusia untuk melakukan normalisasi hubungan tanpa harus menghapus sejarah.
Masa lalu tidak perlu dipalsukan.
Jika pernah terjadi perbedaan pendapat, biarkan menjadi bagian dari perjalanan.
Jika pernah ada pemberitaan keras, itu merupakan bagian dari dinamika pers.
Jika pernah ada kritik, selama dilakukan berdasarkan fakta dan kepentingan publik, maka kritik tidak harus menjadi dendam pribadi.
Di sinilah mental profesional bekerja.
Masalah boleh pernah ada. Tetapi masalah tidak harus diwariskan menjadi permusuhan.
JURNALIS YANG JENIUS MEMBACA RUANG
Seorang jurnalis yang matang tidak hanya mampu membaca berita.
Ia mampu membaca situasi, karakter, momentum, kepentingan dan ruang komunikasi.
Ada waktunya bertanya.
Ada waktunya mengkritik.
Ada waktunya melakukan investigasi.
Ada waktunya berdialog.
Dan ada waktunya cukup tersenyum dalam sebuah dinner tanpa kehilangan identitas sebagai jurnalis.
Kemampuan seperti itu bukan berarti lunak.
Justru sebaliknya.
Itu menunjukkan seseorang memahami batas antara ego pribadi dan profesi.
PARADOKSNYA SEDERHANA
Jurnalis yang benar-benar kuat tidak perlu bermusuhan dengan pejabat untuk membuktikan dirinya independen.
Sebaliknya, pejabat yang benar-benar matang tidak perlu alergi terhadap wartawan hanya karena pernah diberitakan kritis.
Karena demokrasi memang dibangun bukan dari keseragaman suara.
Demokrasi hidup dari perbedaan.
Dan profesionalisme diuji ketika orang-orang yang berbeda posisi masih mampu duduk dalam satu meja tanpa kehilangan martabat masing-masing.
AKUR BUKAN RECEH
Maka pemandangan dinner Bali–Timor-Leste tersebut layak dibaca lebih dalam.
Bukan soal siapa mendekati siapa.
Bukan soal siapa mencairkan hubungan.
Bukan pula soal apakah masa lalu telah dilupakan.
Melainkan tentang satu hal:
apakah manusia cukup dewasa untuk memisahkan persoalan personal dari tanggung jawab profesional?
Jika jawabannya iya, maka itu bukan receh.
Itu adalah bentuk kecerdasan emosional dan profesionalisme sosial.
Jurnalis tetap boleh kritis.
Pemerintah tetap boleh dikritik.
Tetapi ketika ruang sosial dan diplomasi mengharuskan semua pihak duduk bersama, maka sikap saling menghormati adalah pilihan yang jauh lebih berkelas daripada mempertontonkan konflik.
Sebab jurnalisme bukan pekerjaan mencari musuh.
Jurnalisme adalah pekerjaan mencari kebenaran, fakta dan kepentingan publik.
Dan orang yang memahami itu tidak akan kehilangan ketajamannya hanya karena mampu tersenyum kepada orang yang pernah menjadi objek kritiknya.*Afkan.