
KARANGASEM, WartaGlobal.Id — Lapangan bola voli bukan sekadar tempat mengejar kemenangan. Di tengah kehidupan masyarakat desa, olahraga dapat menjadi ruang perjumpaan, pembentukan karakter, sekaligus tempat anak muda membangun solidaritas dan kepercayaan diri.
Semangat itulah yang terlihat dalam Turnamen Bola Voli yang digelar generasi muda Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan yang mempertemukan klub-klub dari Seraya Barat, Seraya Tengah dan Seraya Timur tersebut turut mendapat perhatian Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Tutik Kusuma Wardhani, S.E., M.M., M.Kes.
Kehadiran Tutik tidak hanya menjadi dukungan terhadap kegiatan olahraga, tetapi juga menjadi momentum untuk menyerap aspirasi generasi muda di tingkat desa.
Tutik mengapresiasi inisiatif anak-anak muda Seraya yang mampu mengubah energi anak muda menjadi kegiatan yang produktif.
Menurutnya, aktivitas olahraga memiliki dimensi yang lebih luas. Selain menjaga kesehatan fisik, olahraga dapat menjadi sarana membangun disiplin, mental kompetitif, kerja sama, serta memperluas wawasan.
“Kalau tidak ada kegiatan seperti ini, saya khawatir generasi milenial justru kehilangan arah. Saya sebagai generasi yang sudah tidak muda lagi tentu wajib mendukung kegiatan positif dari kaum milenial,” ujar Tutik.
Bukan Sekadar Turnamen, Tetapi Investasi SDM
Bagi Tutik, pembinaan generasi muda tidak cukup dilakukan melalui ruang pendidikan formal. Desa juga membutuhkan ruang-ruang sosial yang memungkinkan anak muda berinteraksi secara sehat.
Turnamen olahraga menjadi salah satu ruang tersebut.
Ia berharap kegiatan di Seraya tidak berhenti ketika pertandingan berakhir. Sebaliknya, turnamen dapat menjadi awal terbentuknya pembinaan olahraga yang berkelanjutan.
Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah isu yang selama ini menjadi perhatian Tutik sebagai anggota Komisi IX DPR RI, termasuk kesehatan, kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan generasi muda.
“Harapan saya kegiatan seperti ini terus berlanjut. Jangan hanya berhenti pada turnamen. Kita ingin kualitas SDM di Desa Seraya semakin baik, sehat, cerdas dan memiliki karakter,” katanya.
Dekat dengan Anak Muda, Bukan Sekadar Datang Saat Kampanye
Tutik juga mengaitkan kedekatan dengan generasi muda dengan fungsi representasi politik.
Ia mengatakan kader Partai Demokrat diarahkan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk terus berada dekat dengan masyarakat, termasuk generasi muda.
“Para kader diperintahkan oleh Ketum AHY agar selalu dekat dengan rakyat, dekat dengan generasi milenial yang akan menjadi harapan bangsa ke depannya. Bagaimana kita bisa mengedukasi mereka untuk menjadi SDM yang sehat, cerdas dan berkualitas,” tegasnya.
Dalam konteks demokrasi, kedekatan wakil rakyat dengan masyarakat bukan hanya persoalan kehadiran secara fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana aspirasi masyarakat dapat didengar, dicatat dan diperjuangkan melalui fungsi representasi serta pengawasan.
Dari Lapangan Desa, Aspirasi Anak Muda Berbicara
Menariknya, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa aspirasi anak muda tidak selalu hadir dalam bentuk forum resmi atau ruang-ruang birokrasi.
Kadang, aspirasi itu muncul dari lapangan desa.
Dari olahraga, anak muda belajar tentang menang tanpa merendahkan lawan dan kalah tanpa kehilangan harga diri. Dari kompetisi, mereka belajar bahwa prestasi membutuhkan proses.
Karena itu, pesan Tutik kepada peserta turnamen cukup sederhana: menjunjung tinggi sportivitas.
“Yang paling penting adalah sportivitas. Bertanding dengan semangat, tetapi tetap menjaga persaudaraan,” pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Tutik juga menyerahkan sejumlah peralatan olahraga bola voli sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan generasi muda.
Turnamen tersebut diikuti 15 klub se-Desa Seraya, yakni Abinaya, Yehinem, Porgam, Yeh Kali, Batu Telu, Porjama, Paras Paros, SPC, Tumpas A, Tumpas B, Kancil, BTM, BTVC, Kejongan dan Delod Sema.
Olahraga sebagai Antitesis Generasi yang Kehilangan Arah
Di era ketika anak muda berhadapan dengan derasnya arus informasi digital, ruang aktivitas positif menjadi semakin penting.
Lapangan olahraga menjadi salah satu bentuk sederhana dari ruang tersebut.
Di sana, anak muda tidak hanya memegang bola. Mereka belajar mengendalikan emosi, membaca permainan, bekerja dalam tim dan menghormati aturan.
Paradoksnya, teknologi membuat generasi muda semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat secara sosial.
Karena itu, kegiatan seperti Turnamen Bola Voli Desa Seraya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pertandingan.
Bola boleh dipukul keras. Persaingan boleh panas. Tetapi persaudaraan tidak boleh putus.
Itulah nilai yang seharusnya dibawa pulang dari sebuah turnamen: bukan hanya siapa yang menjadi juara, tetapi siapa yang tumbuh menjadi manusia yang lebih sehat, disiplin dan bermartabat.
WartaGlobal.Id — Tajam Membaca Peristiwa, Terukur Menyajikan Fakta.

.jpg)