AL-WAQIYAH AYAT 1–38 Ketika Dunia Tidak Lagi Menjadi Ukuran Karya Jurnalis | Refleksi Personal - Warta Global Bali

Mobile Menu

Klik

Raning Taxt Berita

Memuat berita...

More News

logoblog

AL-WAQIYAH AYAT 1–38 Ketika Dunia Tidak Lagi Menjadi Ukuran Karya Jurnalis | Refleksi Personal

Friday, 2 October 2026


Denpasar Bali.WartaGlobal.Id
Ada ayat yang dibaca untuk mencari ketenangan.
Ada pula ayat yang dibaca untuk menampar kesadaran.

Bagi diriku, Surah Al-Waqiyah ayat 1–38 bukan sekadar rangkaian ayat tentang hari kiamat dan pembagian manusia. Ia adalah cermin.

Cermin yang tidak bertanya:

“Berapa banyak yang kamu miliki?”

Tetapi bertanya:

“Di kelompok mana kamu sedang menempatkan dirimu?”

Inilah paradoks kehidupan.

Manusia sibuk mengejar dunia seolah-olah akan hidup selamanya, sementara Al-Waqiyah mengingatkan bahwa ada satu peristiwa yang tidak seorang pun dapat tawar-menawar: ketika kehidupan dunia kehilangan kekuasaannya.

1. Yang Merasa Tinggi Bisa Jatuh

Ayat-ayat awal Al-Waqiyah menggambarkan datangnya peristiwa besar yang mengguncangkan tatanan kehidupan.

Paradoksnya sederhana:

Hari ini manusia merasa mengendalikan keadaan.
Besok keadaan bisa menunjukkan bahwa manusia tidak mengendalikan apa-apa.

Jabatan bisa berubah.
Uang bisa habis.
Popularitas bisa hilang.
Orang yang hari ini dipuji, besok bisa dilupakan.

Karena itu, bagi diriku, kekuatan ayat ini bukan sekadar menakutkan tentang akhir zaman.

Ia mengajarkan kerendahan hati.

Jangan terlalu sombong ketika berada di atas.

Sebab kehidupan mempunyai satu hukum yang sangat sederhana:

Tidak ada posisi duniawi yang bersifat abadi.

2. Tiga Golongan—Tiga Cermin Kehidupan

Al-Waqiyah kemudian memperlihatkan tiga kelompok manusia:

Ashabul Yamin — golongan kanan.
Ash-Shabiqun — orang-orang yang terdahulu dalam kebaikan.
Ashabul Syimal — golongan kiri.

Di sinilah paradoksnya menjadi tajam.

Manusia sering sibuk menentukan:

“Siapa yang lebih kaya?”
“Siapa yang lebih terkenal?”
“Siapa yang lebih berkuasa?”

Tetapi Al-Waqiyah memberikan ukuran yang berbeda.

Bukan kekayaan.

Bukan jabatan.

Bukan jumlah pengikut.

Melainkan kedudukan manusia di hadapan Allah.

Maka pertanyaan yang lebih penting bagi diriku bukan:

“Aku terlihat hebat di mata siapa?”

Tetapi:

“Aku sebenarnya sedang berjalan ke arah mana?”

3. Dunia Mengajarkan Mengejar, Al-Waqiyah Mengajarkan Menyadari

Manusia mengejar banyak hal.

Mengejar uang.
Mengejar pengakuan.
Mengejar status.
Mengejar perhatian.
Mengejar kemenangan dalam perdebatan.

Ironisnya, semakin banyak yang dikejar, kadang semakin sedikit ketenangan yang diperoleh.

Inilah paradoks kehidupan:

Kita membeli banyak hal untuk merasa cukup, tetapi rasa cukup tidak selalu bisa dibeli.

Al-Waqiyah mengembalikan ukuran itu kepada akhirat.

Bukan berarti dunia harus ditinggalkan.

Tetapi dunia jangan sampai menjadi tuhan kecil di dalam hati.

4. Bagiku, Ayat 1–38 Adalah Audit Diri

Jika Al-Waqiyah dibaca sebagai sebuah audit, maka pertanyaannya menjadi sederhana:

Apa yang sebenarnya sedang aku kumpulkan?

Harta?

Atau amal?

Nama?

Atau nilai?

Pengakuan?

Atau kebermanfaatan?

Kemenangan?

Atau kebenaran?

Karena ada satu kenyataan yang sangat garing tetapi keras:

Di hadapan kematian, CV sepanjang apa pun tidak otomatis menjadi tiket keselamatan.

Jabatan berhenti.

Gelar berhenti.

Kekayaan berhenti.

Popularitas berhenti.

Yang tersisa adalah apa yang telah dikerjakan manusia.

5. Paradoks Orang Kuat

Bagiku, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis.

Bukan pula berarti selalu menang.

Kekuatan justru muncul ketika seseorang mampu berkata:

“Aku tahu dunia ini sementara, maka aku tidak akan membiarkan dunia mengendalikan seluruh hidupku.”

Itulah bentuk kekuatan yang lebih sunyi.

Tidak perlu diumumkan.

Tidak perlu dipamerkan.

Tidak membutuhkan tepuk tangan.

Sebab seseorang yang benar-benar sadar akan akhirat tidak terlalu sibuk membuktikan dirinya kepada semua orang.

6. Al-Waqiyah Mengajarkan Posisi, Bukan Sekadar Ambisi

Ayat 1–38 menggambarkan kenikmatan dan kedudukan yang diperoleh golongan yang mendapatkan keselamatan.

Bagi diriku, pesan itu bukan sekadar tentang “ingin mendapatkan surga.”

Lebih dalam daripada itu:

Aku harus bertanya apakah perilakuku hari ini pantas diarahkan menuju ke sana.

Sebab manusia sering ingin hasil yang baik tanpa mau membangun proses yang baik.

Inilah paradoks terbesar:

Ingin tempat yang mulia, tetapi kadang masih memelihara perilaku yang merendahkan diri sendiri.

Maka Al-Waqiyah menjadi pengingat untuk memperbaiki arah.

Bukan hanya memperbaiki tujuan.

7. Kesimpulan: Jangan Kalah oleh Dunia yang Sementara

Bagi diriku, kekuatan Surah Al-Waqiyah ayat 1–38 bukan sekadar pada pengharapan terhadap kenikmatan akhirat.

Kekuatan terbesarnya adalah kesadaran.

Bahwa kehidupan mempunyai akhir.

Bahwa manusia mempunyai posisi.

Bahwa pilihan mempunyai konsekuensi.

Dan bahwa dunia tidak layak dijadikan ukuran terakhir tentang keberhasilan seseorang.

Karena itu, aku tidak ingin hanya bertanya:

“Apa yang sudah aku dapatkan?”

Aku ingin bertanya:

“Apa yang sudah aku lakukan dengan apa yang Allah titipkan?”

Sebab pada akhirnya—

Yang paling mahal bukan apa yang berhasil kita miliki.
Yang paling mahal adalah apa yang berhasil kita pertanggungjawabkan.

Dan mungkin inilah tamparan paling sederhana dari Al-Waqiyah:

Jangan terlalu sibuk menjadi besar di dunia, sampai lupa mempersiapkan diri untuk kehidupan yang jauh lebih besar daripada dunia.

Aku berpikir.
Aku membaca.
Aku merenung.
Lalu aku mengaudit diriku sendiri.

Karena Al-Waqiyah bukan hanya tentang hari ketika dunia berakhir.
Ia juga tentang hari ketika semua kepalsuan berakhir.

— Netti | Jurnalis Indonesia
Memuat konten...