Metatah Massal di Buleleng Jadi Momentum Edukasi Spiritual Generasi Muda, Tutik Kusuma Wardhani Serahkan 106 Stel Pakaian - Warta Global Bali

Mobile Menu

Klik

Raning Taxt Berita

Memuat berita...

More News

logoblog

Metatah Massal di Buleleng Jadi Momentum Edukasi Spiritual Generasi Muda, Tutik Kusuma Wardhani Serahkan 106 Stel Pakaian

Sunday, 11 October 2026


Poto Istimewa 


Gotong Royong Rawat Tradisi Leluhur, Perkuat Persaudaraan Pasemetonan Sri Karang Buncing

BULELENG  Bali— WartaGlobal.Id

Pelestarian adat dan tradisi Hindu Bali tidak sekadar menjaga warisan leluhur, tetapi juga menanamkan nilai spiritual, memperkuat persaudaraan, serta membangun karakter generasi muda. Semangat tersebut tercermin dalam pelaksanaan upacara Metatah Massal Pasemetonan Sri Karang Buncing yang digelar bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Wayang, Sabtu (10/10/2026), di Griya Padukuhan Batu Mekencuh, Desa Adat Bangkah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.

Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Bali dari Fraksi Partai Demokrat, Tutik Kusuma Wardhani, S.E., M.M., M.Kes., hadir memberikan dukungan nyata terhadap pelestarian tradisi adat dan keagamaan. Dalam kesempatan tersebut, ia menyerahkan bantuan 106 stel pakaian seragam metatah untuk peserta laki-laki dan perempuan.

Upacara ini diikuti 106 peserta yang berasal dari berbagai dadia Pasemetonan Sri Karang Buncing se-Kabupaten Buleleng. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai kebersamaan sekaligus memastikan tradisi leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bukan Sekadar Ritual, tetapi Pendidikan Spiritual

Tutik Kusuma Wardhani menilai, metatah massal memiliki makna yang lebih luas daripada pelaksanaan ritual keagamaan. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi spiritual bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai luhur agama Hindu, mengendalikan Sad Ripu atau enam sifat negatif dalam diri manusia, serta menjaga akar budaya dan adat Bali.

Menurutnya, tradisi yang dijalankan secara bersama-sama juga menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Penyelenggaraan metatah secara massal melalui semangat gotong royong dapat membantu meringankan biaya upakara yang harus ditanggung keluarga. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesempatan untuk menjalankan kewajiban adat dan keagamaan tanpa harus menghadapi beban biaya secara berlebihan.

“Tradisi gotong royong metatah massal ini sangat membantu meringankan biaya warga, dan di sisi lain adat serta tradisi luhur tetap bisa kita lestarikan bersama,” ujarnya.

Sebagai bagian dari keluarga besar Sri Karang Buncing, Tutik juga mengajak seluruh krama untuk terus mempererat tali pasemetonan. Baginya, kegiatan ritual bersama merupakan ruang untuk menumbuhkan rasa persaudaraan, kepedulian sosial, dan semangat saling membantu.

Ia berharap, kegiatan metatah massal dapat menjadi agenda berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Pengurus Pasemetonan Sri Karang Buncing (P2SKB) Kabupaten Buleleng.

Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama

Keberhasilan penyelenggaraan upacara ini tidak hanya bertumpu pada dukungan tokoh masyarakat, tetapi juga pada partisipasi aktif warga.

Sejak tahap persiapan hingga puncak prosesi, krama Sri Karang Buncing bergotong royong melalui kegiatan ngayah dan menghimpun punia berupa kebutuhan logistik, antara lain kue, kopi, gula, air mineral, konsumsi, hingga dukungan dana.

Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan kuat ketika masyarakat memiliki kepedulian dan tujuan bersama.

Ketua Pengurus Pasemetonan Sri Karang Buncing Kabupaten Buleleng, Gede Komang, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan pelaksanaan metatah massal pertama yang diselenggarakan secara terpusat dan terorganisasi oleh pengurus tingkat kabupaten.

“Ini adalah tonggak sejarah baru bagi Pasemetonan Sri Karang Buncing di Buleleng. Kegiatan metatah massal ini baru pertama kali kita selenggarakan secara terorganisir oleh pengurus kabupaten, dan respons warga sangat luar biasa. Semua bergerak bergotong royong, ada yang ngayah, ada yang berpunia kopi, gula, konsumsi, hingga pakaian seragam dari Ibu Tutik Kusuma Wardhani,” jelasnya.

Gede Komang menambahkan, kegiatan tersebut direncanakan menjadi agenda rutin sebagai wujud sradha bakti kepada leluhur sekaligus memperkuat hubungan persaudaraan di antara krama Sri Karang Buncing.

Merawat Warisan Leluhur untuk Generasi Mendatang

Pelaksanaan upacara metatah massal dipuput oleh dua sulinggih, yakni Ida Dukuh Celagi Daksa Dharma Kirthi dan Ida Dukuh Karang Sila Samyoga, dengan dukungan sejumlah pemangku dari Pasemetonan Sri Karang Buncing serta Griya Padukuhan Batu Mekencuh.

Lebih dari sebuah upacara adat, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana nilai spiritual, solidaritas sosial, dan kepedulian ekonomi dapat berjalan beriringan.

Bantuan 106 stel pakaian dari Tutik Kusuma Wardhani menjadi bagian dari dukungan konkret terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Sementara itu, partisipasi warga memperlihatkan bahwa kekuatan utama pelestarian budaya terletak pada kesadaran kolektif untuk menjaga tradisi.

Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, metatah massal Pasemetonan Sri Karang Buncing menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang. Tradisi harus dipahami, dijalankan, dan diwariskan melalui pendidikan spiritual, gotong royong, serta persaudaraan yang terus dirawat dari generasi ke generasi.

WartaGlobal — Mengawal Tradisi, Merawat Persaudaraan, dan Merekam Fakta.

Memuat konten...