
DENPASAR, wartaglobalbali.id – Sebuah pemandangan penuh haru dan sukacita tersaji di dalam dinding Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan, Denpasar, Bali, pada Minggu (25/10/2026). Di tengah suasana yang biasanya identik dengan kesunyian dan penyesalan, ratusan warga binaan pemasyarakatan (WBP) justru larut dalam sebuah ibadah penuh harapan. Ibadah Minggu yang digelar di Gereja Immanuel Lapas Kerobokan ini bukan sekadar rutinitas rohani, melainkan sebuah momentum dramatis yang menyentuh nurani: sebuah pengingat keras bahwa Tuhan tak pernah menutup pintu yang telah Dia buka.
Mengusung tema besar "Tuhan Tak Pernah Menutup Pintu yang Dia Buka" dengan sub-tema "Sesungguhnya Aku akan membuat sesuatu yang baru," ibadah ini menjadi oase di tengah padang gurun kehidupan para narapidana. Khotbah yang disampaikan oleh Ev. Maichel Benedictus—yang akrab disapa Romo Benny—mampu membakar semangat baru bagi 153 jemaat yang hadir dari total 303 warga binaan beragama Kristen di lapas tersebut.
Dengan mengangkat bacaan dari Yesaya 43:18-19, Romo Benny menyerukan sebuah seruan profetik yang menggema di seluruh ruang ibadah. "Janganlah kamu ingat hal-hal yang dahulu, janganlah kamu perhatikan hal-hal yang sudah berlalu. Sesungguhnya Aku akan membuat sesuatu yang baru," ujarnya lantang, mengutip ayat suci.
Dalam khotbahnya yang penuh daya ledak spiritual, Romo Benny mengupas tuntas dua hal penting dari ayat tersebut. Pertama, tentang perintah untuk melupakan hal-hal yang dahulu. Ia menegaskan bahwa ini bukan berarti melupakan kesalahan, melainkan sebuah perintah tegas agar penyesalan tidak terus-menerus membebani jiwa. "Tuhan sudah mengampuni—jangan terus menghukum diri sendiri. Masa lalu adalah tempat belajar, bukan tempat menetap," tegasnya dengan mata berkaca-kaca, disambut anggukan dan isak haru para jemaat.
Kedua, janji Tuhan yang sedang menyiapkan sesuatu yang baru. Romo Benny menekankan bahwa Tuhan tidak selesai dengan hidup seseorang. "Justru saat kita merasa paling tidak berharga, Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang baru. Dia bisa membuat jalan di tempat yang terasa mustahil—seperti jalan di padang gurun, sungai di tanah yang kering," paparnya, membangkitkan asa yang sempat padam.
Tidak hanya berhenti pada Yesaya, Romo Benny juga membenturkan realitas masa lalu dan masa depan dalam sebuah tabel kehidupan yang dramatis. "Masa lalu sudah terjadi, tidak bisa diubah, tempat untuk belajar, bukan untuk menetap. Dosa dan kesalahan sudah ditebus oleh Kristus. Sedangkan masa depan belum terjadi, ada di tangan Tuhan, tempat berharap, bukan takut. Rencana Tuhan adalah rancangan damai sejahtera," urainya, mengutip janji agung dalam Yeremia 29:11.
Tiga pesan inti menjadi puncak dari khotbah siang itu. Pertama, Tuhan menerima umat-Nya sebagaimana adanya, tanpa menunggu sempurna. Kedua, tempat ini—Lapas Kerobokan—bukanlah akhir cerita, melainkan tempat perhentian sementara untuk perbaikan dan pemulihan hati. Ketiga, hari ini bisa menjadi awal yang baru. "Tidak ada tembok yang terlalu tinggi untuk kasih Tuhan. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk pengampunan-Nya. Saudara berharga, Saudara diinginkan, Tuhan mencintai Saudara—hari ini, esok, dan selamanya," seru Romo Benny, memecah keheningan dengan gelombang pengharapan.

Ibadah yang berlangsung khusyuk namun penuh sukacita ini merupakan bagian dari program sosial spiritual rutin Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Provinsi Bali. PGPI yang diketuai Pdt. Jonathan Soeharto, S.H., M.Th., C.Med., CPLA., secara khusus menugaskan Romo Benny, yang juga pengurus PGPI untuk Humas dan Publikasi, untuk melayani di Lapas Kerobokan. Kegiatan pembinaan rohani Kristen ini telah berlangsung lama berkat kerja sama erat dengan pihak Lembaga Pemasyarakatan.
Kehadiran Pengacara kondang Dr. Togar Situmorang, S.H., M.H., MAP., C.Med., CLA., turut mewarnai jalannya ibadah. Ia terlihat menikmati setiap rangkaian acara, bahkan tak segan ikut menyumbangkan donasi dalam sesi game tanya jawab yang digelar di akhir khotbah. Antusiasme jemaat pecah saat game berhadiah tersebut berlangsung. Tawa dan sorak sukacita memenuhi ruangan, membuktikan bahwa suasana ibadah tidaklah kaku, melainkan hangat dan penuh keakraban. Pelayanan praise and worship yang dibawakan oleh Tim Worship Immanuel pun semakin menghanyutkan suasana dalam pujian penyembahan yang mendalam.
Pembina Rohani Kristen Lapas Kerobokan, Bapak Felki, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas pelayanan PGPI Bali yang telah diberikan. Ia juga menyampaikan bahwa Gereja Immanuel Lapas Kerobokan sedang mempersiapkan perayaan Natal bersama yang diharapkan akan jauh lebih meriah di tahun ini.
Namun, di balik sukacita itu, Felki sempat menyinggung sebuah fenomena menarik dan kontemplatif. Jumlah jemaat Kristen dan Katolik di lapas tersebut terus mengalami peningkatan signifikan. "Saat kedatangan kedua kalinya, jumlah jemaat hanya sekitar 130 orang. Namun sekarang semakin bertambah banyak. Artinya, orang Kristen kok semakin banyak dihukum ya, padahal doanya senantiasa semakin berkurang. Inilah bagian dari Sekolah Kehidupan, kita tidak tahu rencana Tuhan atas kehidupan kita masing-masing," ujarnya dengan nada reflektif, disambut senyum kecil dari para jemaat yang memahami makna sindiran halus tersebut.
Setelah ibadah ditutup, sebuah momen mengharukan tak terduga terjadi. Seorang jemaat asal Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), meminta agar ibunya yang berada di kampung halaman didoakan. Sang ibu diketahui sedang menderita sakit paru-paru. Inilah bukti nyata kasih sayang seorang anak, yang meskipun sedang menjalani masa hukuman di balik jeruji besi, tetap rindu dan senantiasa berdoa untuk kesehatan orang tuanya.
Ibadah ditutup dengan doa berkat yang dipimpin langsung oleh Romo Benny, didampingi istrinya yang setia mendampingi pelayanan. Usai doa, jemaat pun dipersilahkan pulang, namun sebelum itu, panitia telah menyiapkan logistik nasi bungkus untuk perjamuan kasih yang dinikmati bersama-sama.
Melalui ibadah ini, pesan kuat telah disampaikan: bahwa di balik tembok beton Lapas Kerobokan, Tuhan masih bekerja. Dia sedang membuat jalan di padang gurun, dan sungai di tanah yang kering. Masa lalu boleh kelam, tetapi masa depan telah disiapkan Tuhan dengan penuh harapan. (MCB)

.jpg)