Kisah Bung Karno Berlebaran Tidak Punya Uang - WARTA GLOBAL BALI

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Kisah Bung Karno Berlebaran Tidak Punya Uang

Sunday, 30 March 2025

 


Ir. SOEKARNO, Presiden Republik Indonesia pertama, menyimpan sejumlah kisah  menarik menjelang Idul Fitri. Meskipun seorang Presiden, Bung Karno ternyata tidak beda dengan rakyat biasa ketika menghadapi Lebaran.

 

Menjelang Lebaran, sang Proklamator menemui mantan Menteri Luar Negeri DR. Roeslan Abdulgani, meminta agar ia dicarikan uang.



“Cak, tilpuno Anang Thayib, kondo’o nek  aku gak duwe dhuwik (Indonesia: Cak, teleponkan Anang Thayib, beritahu kalau aku tak punya uang),” kata Bung Karno kepada Roeslan.

 

Anang adalah keponakan Roeslan, tinggal di Gresik, seorang pengusaha peci (kopiyah) merek Kuda Mas yang sering dikenakan oleh Soekarno.


 

“Beri aku satu peci bekasmu, saya akan lelang,” ujar Roeslan Abdulgani.

 

“Bisa laku berapa, Cak..?,” tanya Bung Karno.

 

“Wis ta laa, serahno ae soal iku nang aku. Sing penting beres (Indonesia: Sudahlah, serahkan saja soal itu pada saya yang penting beres),” sahut Roeslan.

 

Roeslan lalu menyerahkan kepada Anang satu peci yang bekas dipakai Soekarno. Roeslan kaget, ternyata jumlah peserta lelang begitu banyak, semuanya pengusaha asal Gresik dan Surabaya. Tapi yang membuatnya sangat terkejut ternyata Anang melelang tiga peci.



“Saudara-saudara. Sebenarnya hanya satu peci yang pernah dipakai Bung Karno. Tetapi saya tidak tahu lagi mana yang asli bekas Bung Karno.

 

Yang penting ikhlas atau tidak..?,” ucap Anang dihadapan peserta lelang yang sudah hadir

 

“Ikhlas..!!!,” seru para peserta lelang antusias.

 

“Alhamdulillah,” sahut Anang.

 

Zakat Fitrah Bung Karno

Dalam waktu singkat terkumpul uang sepuluh juta rupiah (kala itu sangat besar nilainya). Semua uang itu segera diserahkan Anang kepada Roeslan.

 

“Hei…asline lak siji se (Indonesia: Yang asli cuma satu kan..?),” kata Roeslan.


 

“Iyaa…sebenarnya dua peci lainnya itu yang akan saya berikan untuk Bung Karno,” ujar Anang.


 

“Tapi kok kedua peci itu jelek..??,” tanya Roeslan.

 

“Memang sengaja saya buat jelek. Saya ludahi, saya basahi, saya kasih minyak, supaya kelihatan bekas dipakai,” sahut Anang, lagi.

 

“Koen iki kurang ajar Nang, mbujuki wong akeh (Indonesia: Kamu kurang ajar Nang Nang…nipu banyak orang),” Roeslan, dengan nada ngamuk.

 

“Nek gak ngono gak oleh dhuwik akeh (Indonesia: Kalau nggak begitu mana mungkin bisa dapat banyak uang),” jawab Anang, enteng.

 

Roeslan kemudian menyerahkan semua uang hasil lelang kepada Soekarno.


 

“Cak, kok akeh men dhuwike…?? (Indonesia: Banyak banget uangnya),” ujar Bung Karno, kaget.


 

“Iku akal-akalane Anang (Indonesia: (Itu semua akal-akalan Anang),” jelas Roeslan.

 

Roeslan pun menceritakan bagaimana cara Anang mengganda kan peci.

 

“Kurang ajar Anang..! Nek ngono sing duso aku apa Anang..?? (Indonesia: Kalau begitu yang berdosa saya atau Anang ??),” tanya Bung Karno.

 

“Anang…,” sahut Roeslan, singkat.

 

“Dhuwik sakmono akehe jange digawe apa Bung..? (Indonesia: Uang begitu banyak sebenarnya akan digunakan untuk apa Bung..?),” tanya Roeslan.

 

“Gawe Zakat Fitrah ku… (Indonesia: untuk zakat fitrah ku),” jawab Bung Karno

 

“Gowoen kabeh dhuwik iki nang Makam Sunan Giri. Dumno nang wong-wong melarat nok kono (Untuk Zakat Fitrahku. Bawa semua uang ini ke Makam Sunan Giri. Bagikan pada orang-orang miskin di sana,”  jawab Bung Karno.

 

Cerita ini dipetik dari Buku Suka Duka Fatmawati Sukarno sebagaimana diceritakan kepada Kadjat Adrai. Hanya sekadar mengingatkan, beda standar moralitas dan integritas pemimpin dulu dengan sekarang  dan sebagai muhasabah diri kita. Semoga Bermanfaat. (B13NY)


KALI DIBACA