Bali di Persimpangan:  Akankah Pariwisata Mengorbankan Keberlanjutan Lahan Pertanian? Part II - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Bali di Persimpangan:  Akankah Pariwisata Mengorbankan Keberlanjutan Lahan Pertanian? Part II

Saturday, 10 January 2026

PersawahanJati Luwih

Bali Indonesia, 11/1/2026, WartaGlobal. Id

Bali Dalam beberapa tahun terakhir, pulau Dewata ini telah mengalami peningkatan pesat dalam sektor pariwisata, yang menjadi penyumbang utama ekonomi lokal. Namun, di balik gemerlapnya sektor ini, tersimpan keprihatinan mendalam mengenai nasib lahan pertanian Bali yang semakin berkurang. Penggusuran lahan persawahan untuk proyek-proyek pembangunan seperti hotel, vila, dan fasilitas pariwisata lainnya telah menimbulkan dampak yang signifikan, bukan hanya pada ketahanan pangan, tetapi juga pada identitas budaya masyarakat Bali.


Ketergantungan pada Pariwisata
Bali telah menjadi tujuan primadona wisata dunia, menarik jutaan wisatawan setiap tahunnya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pariwisata menyumbang lebih dari 60% dari total PDRB Bali. Namun, ketergantungan ini menciptakan tantangan serius. Ketika lahan pertanian berkurang, banyak yang bertanya: dapatkah Bali terus mengandalkan pariwisata jika daya tarik budaya dan alamnya berkurang?

Penggusuran Lahan Pertanian
Kisah sedih terjadi di banyak daerah, di mana sawah-sawah hijau yang subur kini beralih fungsi menjadi gedung-gedung megah. Seorang petani lokal, Nyoman (45), mengungkapkan kekecewaannya: “Kami melihat tanah kami dijual untuk pembangunan, tapi siapa yang akan memberi makan kita? Pariwisata tidak akan bisa bertahan tanpa pangan yang cukup.”

Dampak Sosial dan Lingkungan
Sektor pertanian di Bali bukan hanya tentang penyediaan makanan; itu juga merupakan komponen penting dari kekayaan budaya. Tradisi dan warisan pertanian, seperti sistem subak (pengelolaan irigasi tradisional), kini dalam ancaman. Dengan semakin berkurangnya lahan pertanian, hilangnya tradisi ini dapat berdampak negatif pada budaya Bali dan mengurangi pengalaman yang diharapkan oleh wisatawan.

Apakah Ada Solusi?
Sejumlah aktivis dan organisasi lokal kini berjuang untuk menyuarakan pentingnya mempertahankan lahan pertanian. Mereka menuntut pemerintah untuk lebih berpihak pada pelestarian lingkungan dan pertanian berkelanjutan. "Kita perlu menemukan keseimbangan. Pariwisata penting, tetapi tidak boleh mengorbankan lahan kita," ujar Made, seorang aktivis lingkungan.

Pemerintah daerah juga mulai mengakui pentingnya isu ini. Beberapa inisiatif telah diluncurkan untuk mendukung pertanian organik dan pariwisata berkelanjutan, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai solusi jangka panjang.


Bali kini berada di persimpangan jalan. Jika tidak ada perubahan, masa depan pulau ini sebagai tujuan wisata yang berkelanjutan dapat terancam. Usaha untuk melestarikan dan mempromosikan lahan pertanian harus menjadi prioritas, demi menjaga keseimbangan antara ekonomi pariwisata dan identitas budaya yang telah berabad-abad dibangun. Hanya dengan melakukan langkah-langkah proaktif, Bali dapat mempertahankan keindahannya dan memastikan keberlanjutan untuk generasi yang akan datang.

KALI DIBACA