
Denpasar, WartaGlobalBali.Id, 30 Januari 2026 – Sebuah terobosan strategis untuk membuka lanskap baru pariwisata Bali digulirkan langsung dari jantung ibukota. Dr. Yonathan Andre Baskoro, S.H., LL.M., M.AP, Anggota Komisi I DPRD Kota Denpasar, melakukan pertemuan kerja dan diskusi mendalam dengan Wakil Menteri Pariwisata RI, Ibu Ni Luh Puspa, di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (29/1) siang lalu. Pertemuan ini melahirkan konsep konkret untuk mengembangkan Sport Tourism sebagai pilar baru, sekaligus mengatasi masalah fundamental yang mengganggu citra Pulau Dewata.
Dalam kapasitasnya selaku anggota legislatif yang juga Pemerhati Hukum dan Hak Asasi Manusia serta Founder LSM Pemuda bukan Pemula Dr. Yonathan menekankan bahwa upaya menciptakan pariwisata berkelanjutan dan berkualitas adalah juga bentuk perlindungan terhadap hak masyarakat atas lingkungan yang baik dan ekonomi yang maju.
Prasyarat Utama: Tuntaskan Sampah, Wujudkan Kebersihan Kelas Dunia
Diskusi pembuka fokus pada persoalan mendesak: "sampah". Kedua pihak bersepakat bahwa isu ini adalah musuh bersama yang harus diselesaikan untuk mencapai visi 'Pariwisata Kelas Dunia'.
"Kami sepakat, sampah harus segera tuntas di Bali. Ini prasyarat mutlak untuk pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," tegas Dr. Yonathan, menirukan pokok pembicaraan. Kebersihan lokasi wisata, termasuk sanitasi dan toilet umum, harus menjadi perhatian serius. Ibu Wamenpar Ni Luh Puspa, yang adalah putri asli Bali dari Buleleng, menambahkan pentingnya gerakan menyeluruh. "Bali harus dijaga kebersihannya, dimulai dari rumah tangga, lalu desa, kecamatan, hingga kabupaten/kota. Ini kerja kolektif," pesannya.
Tangkap Tren Global: Wellness, Olahraga, dan "The Tropical Padel Experience"
Dr. Yonathan mengamati dan menyampaikan analisis tren terkini kepada Wamenpar. Terjadi pergeseran signifikan di mana wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, kini tidak hanya mencari budaya, alam, atau kuliner, tetapi juga pengalaman wellness dan olahraga yang terintegrasi.

"Ini peluang emas yang harus kita tangkap. Citra Bali tidak boleh tersekat hanya pada beach club. Banyak wisatawan sekarang secara spesifik mencari fasilitas kesehatan dan pusat olahraga premium," jelas Yonathan.
Ia mencontohkan fenomena Padel yang sedang meledak. "Banyak tamu datang ke Bali dengan satu agenda khusus: bermain Padel dengan nuansa 'tropical' yang tak ditemukan di tempat lain. Ini kekuatan diferensiasi kita. The Tropical Padel Experience bisa jadi brand tersendiri," sarannya kepada Ibu Wamen.
Konsep Revolusioner: "Bali Bundling" 3 Hari 2 Malam
Memanfaatkan kekuatan Bali sebagai destinasi "paket komplit", Dr. Yonathan mengusulkan formula baru berupa paket bundling experience yang menggabungkan semua elemen secara menarik. Contoh konkretnya adalah paket "Bali Bundling: Culture, Culinary & Sport" 3 Hari 2 Malam:
- Hari 1: Immerse in Culture. Menjelajahi situs budaya dan menyaksikan pentas seni tradisional yang autentik.
- Hari 2: Fuel & Play. Menikmati kuliner otentik khas Bali di pagi hari, dilanjutkan sesi bertanding Padel di siang hari, dan menutupnya dengan petualangan watersport di sore hari.
- Hari 3: Cherish & Collect. Berbelanja oleh-oleh dan craft khas Bali sebagai kenangan.
Untuk mendukung konsep ini, ia mendorong kolaborasi ekosistem. "Hotel-hotel yang minim fasilitas olahraga dapat menjalin kemitraan strategis dengan penyedia fasilitas olahraga di luar. Ini menciptakan nilai jual tambahan, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat usaha lokal," paparnya.
Kualitas dan Lokalitas: Dua Pilar Penopang
Namun, Dr. Yonathan yang juga pemerhati hukum mengingatkan, fasilitas olahraga tersebut harus memenuhi standar kualitas internasional dalam hal infrastruktur, manajemen, dan pelayanan (treatment). Lebih dari itu, harus ada sentuhan identitas Bali.
"Fasilitasnya harus qualified, tetapi juga harus memiliki nuansa dan arsitektur Bali. Saat seorang turis bermain Padel di bawah payung hijau kelapa dengan ukiran tradisional di sekelilingnya, itu pengalaman unik yang membedakan kita. Ini soal menciptakan value," tandasnya.
Visi Jangka Panjang: Menjadikan Bali Tuan Rumah Turnamen Internasional
Merespon hal tersebut, Ibu Wamenpar Ni Luh Puspa memberikan mandat dan dukungan untuk langkah yang lebih ambisius: mendorong Bali sebagai tuan rumah turnamen olahraga bertaraf internasional.

"Turnamen Padel Internasional di Bali belum ada. Ini peluang besar! Dengan konsep yang matang, kita bisa mulai dari level Asia, kemudian naik ke level Dunia. Potensi kita sangat mendukung," ujar Wamenpar dengan optimis. "Lapangan-lapangan di Bali kualitasnya sudah bagus-bagus!"
Sport Tourism: Jendela Baru Pembangunan Bali
Menutup diskusi, Dr. Yonathan Andre Baskoro menyimpulkan dengan keyakinan penuh. "Jika kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan komunitas ini berjalan berkesinambungan, saya yakin Sport Tourism bukan hanya alternatif, melainkan jendela baru yang akan mengerek kualitas pariwisata Bali lebih tinggi. Ini akan berkontribusi besar, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga bagi pembangunan sosial dan lingkungan Bali ke depan."
Pertemuan strategis ini menandai babak baru dalam perencanaan pariwisata Bali yang lebih adaptif, sehat, dan berkelanjutan, mengalihkan fokus dari kuantitas kunjungan menuju kualitas pengalaman yang bernilai tinggi. (MCB)
KALI DIBACA

