Viral! Momen "Kocar-kacir" Mudik 2026: Antrean 25 Km di Gilimanuk, Ada yang Salah Duga Macet Sampai Pelabuhan - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Viral! Momen "Kocar-kacir" Mudik 2026: Antrean 25 Km di Gilimanuk, Ada yang Salah Duga Macet Sampai Pelabuhan

Saturday, 14 March 2026

Foto : Antrean pemudik mengular di hutan Cekik Gilimanuk, Sabtu 14/3/2026, terbaru ekor kemacetan sudah sampai Melaya 

Gilimanuk, wartaglobalbali.id –Viral di kalangan pemudik! Aksi "salam tempel" antar kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, benar-benar terjadi menjelang Idul Fitri 2026. Bukan salam tempel THR, melainkan bumper kendaraan yang nyaris berpelukan erat akibat kemacetan panjang yang mengular hingga puluhan kilometer.

Pantauan di lapangan pada Sabtu (14/3/2026) pukul 08.00 Wita menunjukkan pemandangan yang tak biasa. Jika biasanya kendaraan melaju kencang, kini mereka lebih cocok disebut sebagai "konvoi kecepatan siput". Antrean kendaraan dilaporkan sudah mencapai wilayah Tuwed, Kecamatan Melaya. Hitung-hitungan kasarnya, dari titik tersebut hingga ke area dermaga, barisan kendaraan membentang sejauh 25 kilometer! Saking panjangnya, mungkin para pemudik sempat berpikir untuk membuka lapak dagangan pinggir jalan.

Bukan Macet Biasa, Ada "Bottleneck" Misterius!

Uniknya, kemacetan ini seperti "sambal" yang tidak merata. Ada yang pedas di satu tempat, tapi hambar di tempat lain. Saat memasuki kawasan Pasar Melaya hingga pertigaan Hutan Cekik, lalu lintas justru berubah lengang bak jalanan di film horor. Fenomena ini menunjukkan adanya titik penumpukan atau *bottleneck* di beberapa lokasi yang bikin arus kendaraan tersendat, sementara di ruas lain pemudik bisa tancap gas sejenak sebelum kembali berjamaah di kemacetan berikutnya.

Curhat Pemudik: Salah Pilih Waktu Istirahat

Kisah heroik dan dramatis pun menghiasi perjalanan para pemudik. Salah satunya Yogik, seorang pemudik asal Banyuwangi yang rela berpuasa dari gerak cepat karena macet. Ia mengaku berangkat dari Denpasar sejak Jumat sore. Namun, karena membawa anak-anak yang mungkin sudah protes dengan "sound system" mobil yang itu-itu saja, ia memutuskan rehat di wilayah Negara.

"Tadi berangkat lagi jam 03.00 Wita, ini jam 08.30 Wita baru sampai pertigaan Hutan Cekik. Padahal di kepala saya, jam segitu sudah nyebrang," keluh Yogik sambil menguap, mungkin karena begadang sambil macet.

Nasib hampir serupa dialami Lukman Hadi, pemudik tujuan Situbondo. Ia sempat terjebak dalam "perangkap psikologis" kemacetan. Melihat antrean di Melaya, ia putuskan untuk beristirahat karena mengira macet akan terus menggelayot hingga ke pelabuhan. Namun, betapa terkejutnya ia saat kembali tancap gas dan mendapati jalanan dari Melaya ke Gilimanuk justru lengang.

"Saya kira macetnya panjang sekali, jadi saya istirahat dulu di Melaya sambil ngopi biar kuat. Eh, ternyata pas jalan lagi, di Melaya sampai Gilimanuk justru sudah lengang. Jadi sia-sia ngopinya," ujar Lukman setengah menyesal, setengah geli.

Para "Raksasa Jalanan" dan Sopir yang Tertidur Jadi Biang Kerok

Apa sebenarnya biang keladi dari drama panjang ini? Selain lonjakan volume pemudik, hadirnya para "raksasa jalanan" alias truk sumbu tiga turut memperparah keadaan. Badannya yang besar bikin kendaraan kecil gigit jari saat ingin mendahului. Belum lagi cerita dari Kapolres Jembrana, AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati, yang mengungkap ada beberapa sopir truk yang memilih "power nap" di tengah antrean. Alhasil, kendaraan di belakangnya ikut terdiam seribu bahasa.

Bukan cuma itu, insiden kendaraan "trouble" juga ikut meramaikan panggung kemacetan. "Kemarin malam ada truk trailer yang tiba-tiba 'batuk' dan mogok sebelum masuk wilayah Hutan Cekik. Itu jelas jadi ganjalan besar buat lalu lintas," jelas AKBP Citra. Beruntung, truk tersebut segera "disuntik mati" dan dipindahkan agar arus kembali mengalir.

Polisi Turun Tangan: "Raksasa" Diparkir, "Kupu-Kupu" Diarahkan

Melihat situasi yang semakin tidak karuan, kepolisian bersama instansi terkait bergerak cepat. Operasi "sisir" pun dilakukan. Truk-truk besar gahar diarahkan untuk "minggir" dulu ke kantong parkir UPPKB Cekik. Sementara itu, para pemudik pengguna sepeda motor dan mobil pribadi (si kupu-kupu malam) diarahkan menuju kantong parkir Terminal Cargo. Strategi ini dilakukan agar antrean lebih teratur dan tidak ada yang saling "kroyok" di jalan.

Kabarnya, Ada Tambahan Kapal, Truk Sumbu Tiga Mulai Dibatasi

Pihak pelabuhan juga tak tinggal diam. Sekitar 32 kapal penyeberangan di Selat Bali kini disiagakan untuk "mengangkut" para pemudik yang sudah kepalang letih. Sistem TBB (Tiba–Bongkar–Berangkat) dengan empat kapal yang beroperasi bergantian juga diterapkan, layaknya lari estafet yang diharapkan bisa mempersingkat waktu.

Yang paling membahagiakan, AKBP Citra mengonfirmasi bahwa koordinasi dengan kepolisian di Denpasar, Badung, dan Tabanan telah membuahkan hasil. "Kami sudah koordinasi lintas sektoral untuk membatasi truk, terutama yang sumbu tiga. Hari ini arus sudah mulai lebih lancar," ujarnya dengan nada lega.

Pesan dari Petugas: Jangan "Ngeblong", Periksa "Mental" Kendaraan!

Pihak kepolisian pun mengimbau para pemudik untuk tetap cool dan mengikuti arahan petugas. "Sebisa mungkin ikuti arahan, jangan ngeblong atau ambil jalur berlawanan. Ingat, pulang kampung itu untuk merayakan kemenangan, bukan untuk balap liar. Periksa juga kesiapan kendaraan dari rumah, jangan sampai trouble di jalan dan jadi 'selebritis' dadakan karena bikin macet," pungkas AKBP Citra dengan pesan bijak. (MCB)

KALI DIBACA