Doa Puasa Ester Nasional 2026 di Bali: 402 Peserta Puasa 24 Jam Tiga Hari Berturut-turut, Gubernur Koster: Ini Kepedulian Spiritual Luar Biasa!
By
REDAKSI PUSAT
-
Tuesday, 28 April 2026
Foto : Gubernur Bali, Wayan Koster, secara resmi membuka kegiatan Doa Puasa Ester Nasional (DOPEN) 2026, Selasa (28/4)
BADUNG, wartaglobalbali.id – Langit Jimbaran seolah membuka pintu keheningan saat Gubernur Bali, Wayan Koster, secara resmi membuka kegiatan Doa Puasa Ester Nasional (DOPEN) 2026, Selasa (28/4). Di tengah gemericik angin laut selatan yang membawa wewangian kemenyan dan doa, Hotel Infinity di kawasan eksklusif Jimbaran berubah menjadi pusaran energi spiritual lintas iman yang menggetarkan.
Sebanyak 402 peserta dari 24 provinsi se-Indonesia berkumpul bukan untuk pesta, melainkan untuk berpuasa total 24 jam tanpa makan dan minum selama tiga hari penuh, dari 28 April hingga 1 Mei 2026. Mereka datang membawa beban doa: keselamatan, keharmonisan, dan kesejahteraan untuk Pulau Dewata.
“Excellent Spirit”: Ketika Puasa Ester Menyentuh Filosofi Bali
Dengan tema Excellent Spirit, DOPEN 2026 bukan sekadar ritual keagamaan. Gubernur Koster, dalam sambutannya yang sarat makna, menyebut kegiatan ini selaras dengan visi suci pembangunan daerah Nangun Sat Kerthi Loka Bali — sebuah falsafah yang berarti menjaga kesucian dan keharmonisan alam, manusia, serta kebudayaan Bali demi kesejahteraan lahir batin yang berkelanjutan.
“Acara ini sungguh luar biasa. Diisi dengan berpuasa selama tiga hari oleh seluruh peserta, dengan tujuan mulia mendoakan Pulau Bali, termasuk Pemerintah Provinsi Bali dan seluruh masyarakat Bali, agar hidup aman dan sejahtera,” ujar Koster dengan nada haru yang menggetarkan ruangan.
Foto : Gede Suralaga Kaban Kesbangpol Provinsi Bali turut hadir
Bagi masyarakat Bali yang akrab dengan konsep Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan: harmoni dengan Tuhan, sesama, dan alam), aksi puasa dan doa lintas agama ini seperti sebuah cermin spiritual. Puasa Ester yang dikenal dalam tradisi Kristen sebagai bentuk pertobatan dan perjuangan iman (Kitab Ester 4:16) menemukan resonansinya dengan kearifan lokal Bali yang menjunjung tinggi pengorbanan demi keseimbangan semesta.
Tiga Hari, 24 Jam, Satu Tujuan: Bali Damai dan Sejahtera
Tak biasa. Itulah kata yang paling tepat. Sebab, puasa tanpa setetes air dan sepatah nasi selama 24 jam berturut-turut dalam tiga hari adalah tingkat pengorbanan yang ekstrem. Namun, ke-402 peserta dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang terus bergetar dalam doa, justru memancarkan aura ketenangan yang anehnya begitu nendang secara spiritual.
Ketua Panitia Pelaksana DOPEN 2026, Pendeta Noni Helda, menjelaskan dengan suara bergetar penuh iman:
“Ini adalah bentuk pengabdian spiritual tertinggi. Mereka tidak hanya berdoa dengan bibir, tetapi dengan seluruh tubuh dan jiwa. Puasa 24 jam penuh selama tiga hari adalah matiraga modern — mematikan hawa nafsu demi menghidupkan harapan bagi Bali.”
Dari 24 provinsi yang hadir, terlihat wajah-wajah dari Papua, Sumatera, Kalimantan, hingga NTT. Mereka datang dengan segala keterbatasan, namun membawa kekayaan doa yang tak ternilai. Sebuah deklarasi doa nasional pun dibacakan: “Kami menyerukan damai bagi Bali, biarlah pulau ini tetap menjadi mercusuar kesucian di tengah gelombang dunia.”
Gubernur Koster: “Saya Mohon Maaf, Mari Jaga Bali Bersama”
Di momen yang penuh getaran batin itu, Gubernur Koster tidak hanya memberikan apresiasi. Ia merendah.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat Bali, saya menyampaikan terima kasih serta apresiasi setinggi-tingginya atas doa yang luar biasa ini. Saya juga memohon maaf apabila dalam penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih terdapat kekurangan.”
Kalimat permintaan maaf seorang pemimpin di tengah ritual doa lintas agama adalah simbol politik dan spiritual yang langka. Itu seperti penyucian diri seorang pemimpin sebelum menerima energi doa dari ribuan bibir yang berpuasa.
Koster pun optimistis: “Jika seluruh elemen masyarakat terus menjaga persatuan, keharmonisan sosial, serta kelestarian budaya dan lingkungan, maka Bali akan selalu mendapat tempat di hati masyarakat global — sebagai destinasi yang damai, suci, indah, dan berbudaya.”
Foto : Ketua PGPI Bali Pdt Jonathan Soeharto SH,M.Th.
Toleransi yang Hidup: Ketika PGPI Bali Bersatu
Tidak ketinggalan, Ketua Persatuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Provinsi Bali, Pdt. Jonathan Soeharto, S.H., M.Th., C.Med, serta Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Bali, Gede Suralaga, turut hadir menyambut langsung Gubernur. Kehadiran mereka adalah simbol bahwa Bali adalah laboratorium harmoni sejati — di mana pejabat pemerintah, tokoh agama, dan ribuan umat dari berbagai denominasi bisa berlutut dalam doa yang sama untuk tanah yang sama.
Viral? Ini Bukan Sekadar Konten, Ini Gerakan Jiwa
Di era media sosial, acara seperti DOPEN 2026 bisa jadi viral bukan karena tarian atau hiburan, tetapi karena kejanggalannya di tengah dunia yang sibuk, bising, dan konsumtif. Bayangkan: 402 orang dewasa memilih lapar dan haus selama tiga hari hanya untuk mendoakan sebuah pulau yang bukan tempat tinggal mereka semua. Itulah simbol cinta tanpa syarat.
Bali, yang sering dikenal dengan pantai dan malamnya yang gemerlap, kini menunjukkan sisi lain: ia juga layak didoakan dengan puasa 24 jam. Bahwa kemajuan dan pariwisata bukanlah segalanya. Karena menurut Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kesejahteraan sejati adalah ketika alam, manusia, dan Tuhan berjumpa dalam harmoni.
Dan di Hotel Infinity, Jimbaran, harmoni itu hadir dalam wujud doa puasa Ester yang menggema dari Sabang sampai Merauke.
Bali pun berbisik: terima kasih, para pejuang doa. Pulau ini kini lebih suci karena kalian berani lapar demi cinta. Itulah "KASIH TUHAN" tanpa Syarat. (MCB)