Bali, wartaglobalbali.id – Minggu 26/4, Ada jaringan gereja di Indonesia yang ekspansinya bikin ritel minimarket gigit jari. Targetnya nekat: 1.000 gereja lokal dan 1 juta murid. Visinya mulia, kedengarannya seperti Amanat Agung. Tapi kalau dicermati, strateginya rapi banget kayak target kuartalan perusahaan.
Di Jabodetabek plus Banten aja, jaringan ini sudah menguasai lebih dari 20 lokasi. Mal premium, kota satelit, kota penyangga—semua disusupi. Riset wilayah, pemetaan kebutuhan, pemilihan lokasi, kolaborasi lokal. Mechanical-nya lebih rapi dari jaringan ritel nasional mana pun. Bali menjadi sasaran berikutnya, nggak salah? Yup pergerakan sudah dimulai dan masuk secara massive terstruktur mirip MLM yang jualan Produk berbungkus ayat dan firman, terlihat rohani kan?
Data Bilangan Research Center: 42,3% Bukan Jiwa Baru!
Yang bikin geleng-geleng: berdasarkan temuan Bilangan Research Center, 42,3% pertambahan jemaat gereja di Indonesia berasal dari jemaat pindahan, bukan jiwa baru yang belum percaya. Ibaratnya, tempat ibadah ini jago reallocation jemaat, bukan regenerasi iman.
Mereka buka gereja megah, modern, hype, dengan pendeta yang punya jutaan followers, tata ibadah sekelas konser musik. Jemaat berbondong-bondong pindah. Gereja lokal kecil yang dulu rame, sekarang bangkunya mulai renggang. Satu per satu jemaat pamitan dengan sopan—dan nggak balik-balik lagi.
Kue Nggak Membesar, Tapi Satu Pemain Makan Besar
Data BRC 2020-2023 menunjukkan pertumbuhan umat Kristen Indonesia cuma 0,8% per tahun. Matematikanya sederhana: kalau total kue nggak bertambah besar, tapi satu pemain ambil potongan makin gede, maka potongan siapa yang mengecil?
Jawabannya: gereja-gereja kecil yang pendetanya masih ngos-ngosan bayar sewa gedung dari kantong sendiri. Mereka tidak kalah dalam hal iman, tapi kalah dalam hal fasilitas. Padahal dua hal itu nggak seharusnya dibandingkan.
Gereja Bukan Pasar, Tapi Mekanisme Pasarnya Bekerja Kejam
Tidak ada yang jahat dalam cerita ini. Tidak ada konspirasi. Hanya mekanisme pasar yang bekerja di tempat yang seharusnya bukan pasar. Sayangnya, gereja dengan brand kuat, modal gede, dan skala beyond galaksi secara struktural memenangkan persaingan yang seharusnya tidak pernah ada.
Pertanyaan Jujur yang Tidak Pernah Muncul di Press Release
Ketika jaringan segede ini buka cabang di Bogor, Bekasi, Cirebon, Karawang, Sukabumi, dan puluhan kota lain, ada pertanyaan yang lebih jujur daripada sekadar menghitung jumlah cabang:
1. Berapa gereja yang mulai tutup di setiap kota yang dimasuki?
2. Berapa pendeta yang menyerah—bukan karena tidak dipanggil, tapi karena tidak bisa bersaing?
3. Berapa banyak jiwa baru yang benar-benar dimenangkan, bukan cuma jemaat mutasi?
Sarkasme Bijak: Jangan Sampai Target 1.000 Gereja = 1.000 Gereja Lain Sepi
Buka 1.000 gereja tidak salah secara teologis. Tapi kalau pertumbuhan hanya 0,8% dan strateginya cannibalizing jemaat yang sudah ada, jangan-jangan yang terjadi bukanlah kebangkitan rohani, melainkan konsolidasi pasar dengan kedok misi.
Jadi, kalau ada yang bangga dengan 1.000 gereja baru, tanya balik: berapa gereja yang tutup diam-diam? Bisa jadi jawabannya sama-sama 1.000. Hanya saja yang satu nulis press release, yang satu nulis surat perpisahan untuk 30 jemaat setianya.
Viral atau tidak, data bicara. Gereja bukan ritel. Jemaat bukan konsumen. Dan pertumbuhan bukan monopoli. Apakah ini yang disebut "Amanat Agung?" (MCB)
KALI DIBACA

