
Abiansemal, Badung, WartaGlobalBali.Id – Di pagi pertama yang cerah menyongsong tahun 2026, komunitas Manggala Taksu Agung menghadirkan gelombang optimisme dan dedikasi nyata bagi bumi pertiwi. Dengan mengusung visi mulia “Pangrastiti Jagat”—sebuah komitmen menjaga keharmonisan alam semesta—komunitas ini menggelar rangkaian kegiatan sosial-spiritual di kawasan suci Pura Dalem Solo, Desa Sedang, Abiansemal, pada hari Minggu (4/1/2026).
Kegiatan yang mengedepankan implementasi konkret filosofi Tri Hita Karana ini, tidak hanya menjadi momen refleksi, tetapi juga aksi gotong royong yang melibatkan pengempon pura, tokoh masyarakat, agama, dan budaya.
1. Merawat Palemahan: Menanam Bibit Harapan di Tanah Suci
Agenda utama dibuka dengan simbolisasi penyerahan 70 bibit tanaman oleh perwakilan Manggala Taksu Agung, Jro Gede Widhi, kepada perwakilan Pengempon Pura Dalem Solo. Aksi penghijauan ini merupakan wujud nyata dari tanggung jawab moral terhadap aspek Palemahan, hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

Bibit-bibit tersebut kemudian ditanam secara gotong royong di sekitar areal pura. Setiap lubang tanam bukan hanya menyimpan akar pohon, melainkan juga harapan baru akan kelestarian lingkungan dan kesucian kawasan sakral tersebut.
2. Menyucikan Parhyangan: Persembahyangan dan Wejangan Penyejuk Hati
Sebelum kegiatan penanaman dimulai, suasana khidmat tercipta dalam persembahyangan bersama yang dipimpin oleh I Gusti Agung Ngurah Artha Wijaya, Pemangku Pura Dalem Solo. Ritual ini menguatkan aspek Parhyangan, hubungan manusia dengan Tuhan.
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Jro Sinar memberikan wejangan spiritual yang mendalam. Beliau menegaskan bahwa perjalanan Manggala Taksu Agung berlandaskan sepenuhnya pada Tri Hita Karana.

> "Kita memuliakan Tuhan (Parhyangan), mempererat persaudaraan sesama (Pawongan), dan hari ini kita membalas budi pada alam (Palemahan). Inilah bakti yang utuh untuk semesta," tutur Ibu Jro Sinar dengan penuh ketulusan.
3. Memperkuat Pawongan: Dharma Tula untuk Edukasi dan Sinergi
Kehangatan berlanjut di Wantilan Pura melalui sesi Dharma Tula atau diskusi edukatif. Acara ini dibuka oleh Anak Agung Gede Agung yang memaparkan rekam jejak Manggala Taksu Agung. Ia menyebutkan bahwa komunitas ini kini diisi wajah-wajah baru yang progresif, namun tetap berpegang teguh pada akar tradisi.
Diskusi semakin mendalam dengan pemaparan sejarah dari I Gusti Agung Ngurah Sumerta, Ketua Pengurus Purbakala Pura Dalem Solo. Beliau mengungkapkan sejarah kawasan yang memukau dan mencatat peningkatan signifikan kunjungan *pemedek* (peziarah) dari luar Bali, menunjukkan daya tarik spiritual pura yang universal.
Sesi ini juga menghadirkan pencerahan dari I Wayan Sukarya, Sekretaris PHDI Badung, yang menjawab secara edukatif berbagai polemik dan kesimpangsiuran informasi, termasuk terkait perayaan Nyepi, sehingga mampu memberikan pemahaman yang jelas kepada masyarakat yang di perkuat juga oleh pengurus PHDI saba Welaka Denpasar I Made Budiasa.
4. Dukungan Tokoh dan Apresiasi atas Kemandirian
Aksi ini mendapatkan dukungan moril luas. Agung Wisnu Murti, Ketua Satia Budi Pancasila, hadir bersama jajarannya, menunjukkan dukungan terhadap gerakan berbasis budaya dan kemanusiaan ini.
Sementara itu, I Gusti Ngurah Lanang Putra, Ketua Pengempon Pura Dalem Solo, menyampaikan kekagumannya. Ia menekankan bahwa keunikan gerakan Manggala Taksu Agung terletak pada kemandirian dan ketulusannya.

> "Kami sangat bangga melihat tindakan nyata yang lahir dari ketulusan hati melalui dana gotong royong. Ini adalah implementasi nyata dari ajaran budi pekerti yang kita terima sejak bangku sekolah, yang kini dihidupkan kembali dengan penuh kesadaran," ungkapnya.
5. Seruan Persatuan: Wadah Terbuka untuk Semua
Sebagai penutup kegiatan, Jro Gede Widhi menyampaikan seruan inklusif dan penuh semangat. Ia menegaskan bahwa Manggala Taksu Agung adalah wadah terbuka untuk semua kalangan.
> “Manggala Taksu Agung adalah wadah terbuka. Apapun organisasinya, apapun agamanya, mari kita berkumpul dan menuangkan gagasan dalam langkah nyata. Mari kita jaga Jagat Bali ini bersama-sama di bawah naungan kesadaran dan ketulusan,” pungkasnya.
Kegiatan ini tidak hanya meninggalkan jejak hijau di Pura Dalem Solo, tetapi juga menyemai benih solidaritas, pencerahan, dan komitmen kolektif untuk terus menjaga keharmonisan alam, manusia, dan spiritualitas Bali menuju “Pangrastiti Jagat”.
Tentang Manggala Taksu Agung:
Sebuah wadah pergerakan sosial-spiritual yang berfokus pada pelestarian nilai budaya, kemanusiaan, dan alam Bali melalui aksi-aksi mandiri yang berlandaskan prinsip gotong royong dan kearifan lokal Tri Hita Karana. (MCB)
KALI DIBACA

