Derby Akhir Zaman: Ketika Kadrun vs Dobrun Jadi Ajang Adu Cepat Kiamat Versi Masing-Masing - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Derby Akhir Zaman: Ketika Kadrun vs Dobrun Jadi Ajang Adu Cepat Kiamat Versi Masing-Masing

Monday, 9 March 2026


Bali, wartaglobalbali.id - Bersiap-siaplah, warga Twitter dan TikTok! Karena drama geopolitik emang lagi panas-panasnya, tapi gak ada yang bisa ngalahin Final Fantasy-nya para petarung media sosial: Kadrun vs Dobrun —pertarungan yang lebih panas dari CPU laptop pas lagi render video 4K.

Jadi, selamat datang di panggung spektakuler "War of Narratives". Dua kubu ini punya hobi yang sama: nongkrong sambil ngopi, baca kitab suci, lalu nge-twit sambil nge-judge. Mereka juga punya kekurangan yang sama: mata sebelah. Bukan karena sakit, tapi karena mereka milih buat menutup satu mata biar fokus ke sudut pandang agamanya sendiri. Sisanya? Skip, gak penting.

Yuk, kenalan sama tim pertama: Tim Kadrun (Kadal Gurun).

Mereka ini adalah squad yang selalu ngegas soal jihad melawan "Zionis-Salibis." Buat mereka, kiamat itu udah di depan mata. Saking yakinnya, kayaknya mereka lagi nge-DM Imam Mahdi, nanyain, "Gus, udah Gojek belom? Nanti turunnya jangan lupa bawa sensor kamera biar makin viral."

Tapi, ada problem kecil di internal tim Kadrun. Ada faksi yang super radar sama isu "Anti-Syiah." Pas lagi seru-serunya ngeliat perang, tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Eh, ini kan Rafidhah Syiah vs Yahudi. Udah deh, biarin aja mereka pada baku hantam. Kita mah duduk manis, makan kurma, sambil nunggu Dajjal muncul."

Nah, di sinilah letak bug-nya. Mereka anti sama Iran karena Syiah, tapi di sisi lain, Israel tetap musuh abadi. Akhirnya? Mereka nge-freeze. Bingung mau dukung siapa. Jadinya cuma bisa nge-tweet galau: "Pokoknya kiamat harus lewat jalur kami!" sambil terus nunggu Khilafah.

Sekarang, kita pindah ke tribun seberang: Tim Dobrun (Domba Gurun).

Di sisi lain, ada tim Dobrun. Mereka ini adalah hardcore fans-nya Israel dan AS. Buat Dobrun, setiap rudal yang ditembakkan ke Timur Tengah itu bukan hal menyeramkan, tapi kembang api pesta rakyat. Mereka percaya setiap ledakan adalah teaser dari film blockbuster favorit mereka: The Second Coming of Jesus.

Bagi Dobrun, Benjamin Netanyahu itu bukan cuma perdana menteri. Dia itu lebih kayak "Event Organizer" kondang buat acara Armageddon. Israel? Itu mah venue-nya, the Promised Land. Jadi kalau Israel lagi ngebom, Dobrun langsung pada heboh, "OMG! Ramalan Kitabiah terpenuhi! Cepet screenshoot!"

Diplomasi? HAM? Bye. Buat mereka, perang bukan tragedi kemanusiaan. Perang adalah trailer film kiamat yang udah mereka beli tiket VIP-nya dari jaman masih pake TV tabung. Mereka gak nonton berita, mereka nonton "sinetron nubuat" setiap hari.

Trus, lucunya apa?
Lucunya, dua kubu ini—yang setiap hari adu argumen, saling serbu di kolom komentar, dan sibuk nuduh sesat—sebenarnya punya satu mimpi indah yang sama: "Dunia harus cepet ancur."

Kadrun nunggu kiamat lewat jalur Khilafah.
Dobrun nunggu kiamat lewat jalur Israel Raya.
Mereka setuju untuk tidak setuju, tapi tujuannya sama: pengen jadi pemenang di ending cerita.

Lalu, siapa yang jadi korban?
Sementara Kadrun dan Dobrun asyik adu cepat nafsir ayat, di lokasi kejadian—Palestina, Iran, Lebanon—warga sipil cuma bisa pasrah sambil berdoa, "Semoga rudal gak mampir ke rumah. Jangan sampe rumah kita kena gara-gara ada orang di medsos yang lagi sibuk adu ayat soal perang suci."

Ironi puncak:

Di saat dua kubu ini sibuk ngotot soal siapa yang bakal naik tahta di akhir zaman, yang dari tadi senyum-senyum sambil ngitung duit adalah para pemegang saham industri senjata. Mereka gak peduli soal Yesus atau Imam Mahdi, yang penting orderan rudal terus laku.

Dan kita?
Kita yang gak ikut-ikutan fandom ini, cuma bisa nonton sambil ngopi dan geleng-geleng kepala. Kita jadi penonton derby paling absurd di abad ini. Pertandingan di mana semua orang berharap kiamat cepet dateng, tapi pengennya mereka yang megang remot kontrolnya. Sementara kita? Kita cuma berharap, semoga pas kiamat dateng, sinyal WiFi masih stabil biar bisa liat update-an terakhir mereka. (MCB)

KALI DIBACA