Denpasar, wartaglobalbali.id – Kalau ngomongin Kartini, jangan cuma inget soal kebaya dan surat-suratnya. Hari ini, Kamis (23/4), semangat R.A. Kartini justru hidup di ruang sidang, kontrak bisnis, dan meja direksi. Salah satunya di Fanisa Wilson Law Firm, yang dipimpin langsung oleh Fitri Anisa sebagai Managing Partner.
Bocah-bocah zaman now mungkin mikir ranah hukum itu keras, dingin, dan didominasi aura maskulin. Tapi Fitri Anisa membantah mitos itu dengan aksi nyata. Bukan cuma jago bacain pasal, ia membuktikan kalau perempuan hukum bisa setajam pedang dan sehangat sumbu semangat Kartini.
Dari Meja Advokat Sampai Panggung Pemimpin
Di bawah komando Fitri, Fanisa Wilson Law Firm nggak cuma sekadar firma biasa. Ini adalah markas perempuan berdaya yang gesit, kritis, dan berani ambil risiko. Fitri menanamkan budaya: integritas itu harga mati, ketegasan itu busana sehari-hari, dan visi adalah peluru.
“Perempuan nggak perlu nunggu izin buat unjuk gigi,” begitu kira-kira pesan yang terus ditanamkan Fitri ke anak buahnya dan para klien muda sampai ekspartiat (WNA) yang datang.
Hasilnya? Firma ini mampu bersaing di level nasional dan internasional. Deal besar, gugatan rumit, sampai pendampingan korporasi lintas negara—semua dihadapi dengan kepala tegak dan senyum khas pejuang.
Kartini Masa Kini: Nggak Cuma Inspiratif, Tapi Juga Aksi
Hari Kartini kali ini memang spesial. Bukan sekadar seremonial potong tumpeng atau baca puisi. Fitri Anisa ingin perempuan sadar: kekuatan itu bukan tentang keras suara, tapi tentang dampak.
"Kartini mengajarkan kita berani mimpi. Sekarang saatnya perempuan Indonesia beraksi. Pimpin, ciptakan perubahan, dan kasih dampak nyata buat sekitar," ujar Fitri dalam pernyataan singkatnya.
Dan bukan cuma omongan belaka. Lewat Fanisa Wilson Law Firm, dia membuka peluang besar bagi para perempuan muda yang ingin terjun ke dunia hukum. Magang, mentoring, hingga ruang eksekutif—semua dibuka lebar.
Selamat Hari Kartini, Perempuan Masa Kini!
Pesan Fitri ke semua anak muda, terutama para cewek-cewek kece yang masih ragu buat melangkah:
“Jadi perempuan yang berani, cerdas, dan berdaya. Nggak perlu jadi laki-laki buat menang. Cukup jadi dirimu yang paling berani.”
So, rayakan Hari Kartini bukan dengan nostalgia semata. Tapi dengan gerakan nyata. Mulai dari kampus, kantor, organisasi, bahkan dari bangku pengacara.
Kartini sudah mulai. Sekarang giliran kalian yang lanjutin. (MCB)
KALI DIBACA

