Sapa Gubernur Balas Melengos, Mbok Ni Luh Djelantik Ngejar Pegangan Tangan: “Krisis Empati atau Cuma Salah Fokus?” - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Sapa Gubernur Balas Melengos, Mbok Ni Luh Djelantik Ngejar Pegangan Tangan: “Krisis Empati atau Cuma Salah Fokus?”

Friday, 17 April 2026

Foto : Moment ketika kedua tokoh bertemu di Acara Darma Santi Nasional Art Center 27/4/26, Ni Luh Djelantik DPD RI Dapil Bali bertegur sapa dengan Gubenur Bali, namun tidak diindahkan, sampai mbok Ni Luh mengejar dan berusaha memberikan jabat tangan secara formal 

Denpasar, wartaglobalbali.id – Ada yang bilang pemimpin itu pelayan rakyat. Tapi semalam, di tengah hiruk-pikuk persiapan Darma Santi Nasional di Art Center Denpasar, seorang Senator Mbok Ni Luh Djelantik DPD RI Wakil Bali, justru mendapat layanan express ala kereta api: cepat, dingin, dan tanpa senyum.


Kronologi kejadian dimulai Jumat (17/4) malam. Di sela-sela perjalanan menuju lokasi acara keagamaan yang sarat nilai kasih sayang itu, seorang Ni Luh Djelantik DPD RI berpapasan dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster.

Mbok Ni Luh berniat mulia: menyapa dan bersalaman. Tapi apa yang terjadi? Gubernur yang terhormat disebut-sebut hanya melengos. Iya, melengos. Seperti orang yang baru lupa di mana letak tombol AC di mobil mewahnya.

Tak cukup sampai di situ, Mbok Ni Luh yang—mungkin—masih punya harapan pada keteladanan pemimpin, ngejar dan menggenggam tangan Pak Gubernur. Bayangkan. Seorang Senator DPD RI Wakil Bali ngejar pejabat nomor satu di Pulau Dewata hanya demi jabat tangan. Bukan untuk minta proyek, bukan untuk foto selfi, hanya sekadar sapa.

Sementara di sisi lain, Pak Gubernur Bali nyeletuk, " Masak lama - lama!", Mbok Ni Luh hanya membalas, "Ya..Ampun.." sebuah Drama berseri dari kedua tokoh tersebut. Yang satu ramah, yang satu lagi... dinginnya minta ampun.

Kelas Sekolah Kepribadian, Siapa Takut?

Video amatir yang viral dalam hitungan jam ini sontak memicu gelombang sindiran. Warganet yang biasanya sibuk dengan konten kucing lucu, kini kompak menulis:

“Pak Gubernur, di Bali itu ada filosofi Tri Hita Karana. Harmoni dengan Tuhan, sesama, dan alam. Itu lho, yang sesama jangan dilengos-lengosin.”

“Mbok-nya aja punya empati buat ngejar salam. Ini gubernur atau patung di Taman Nusa?”

Bahkan, seorang pegiat sosial dari akun @ngelindho_bali menulis, “Ini saatnya kepala daerah masuk kelas sekolah kepribadian lagi. Bukan buat belajar pidato, tapi belajar menerima perbedaan pendapat dan masukan dengan hati lapang. Jangan cuma lapang waktu mau pencalonan ulang.”

Sarkas memang. Tapi bukankah pemimpin bijak itu bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling lebar tangannya untuk menyapa?

Bali Milik Semua, Bukan Satu Golongan

Mari kita luruskan. Ini bukan soal politik. Ini soal empati. Pemimpin yang angkuh, arogan, dan terkesan sombong itu seperti nasi jinggo tanpa sambal—ada bentuknya, tapi hambar dan gak ada yang kangen.

Seorang pemimpin bijak, menurut catatan merah dari kejadian ini, adalah yang:

1. Mendengarkan sebelum dilengosi balik.
2. Menerima kritikan tanpa merasa direndahkan.
3. Menyapa tanpa mengejar-ngejar.

Kritik dan saran bukan musuh. Justru itu vitamin pahit biar gak sakit power tripping.

Kepada Pak Gubernur, jika suatu saat membaca ini: Mbok Ni Luh yang ngejar tangan Bapak itu simbol kecil dari rakyat yang masih mau menyapa. Jangan sampai suatu hari, rakyat malah milih diam dan tak peduli. Karena saat rakyat diam... itu tandanya mereka sudah lelah melihat pemimpin yang hanya sibuk dengan angkuhnya sendiri.

“Dengarkan masukan, kritik, dan saran saya. Saya jamin Anda jadi pelayan rakyat yang punya empati sepenuh hati.” — Pimred Warta Global Bali, saksi sekaligus ‘korban’ Teguran Gubernur.

Gubernur boleh sibuk, tapi jangan sampai menyapa rakyat terasa seperti ikut lomba lari estafet. Lari-lari dikejar Mbok-mbok, demi salam. Ckckck...(MCB)


KALI DIBACA