"Pesta Tikus" di Rezim Prabowo: Bukan Film Horor, Tapi Eksekusi Mati untuk Koruptor Sawit! - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

"Pesta Tikus" di Rezim Prabowo: Bukan Film Horor, Tapi Eksekusi Mati untuk Koruptor Sawit!

Wednesday, 3 June 2026
Foto : Presiden RI Prabowo Subianto 

Jakarta, wartaglobalbali.id – Kamis 4/6, Ruang publik belakangan ini heboh oleh teriakan para "aktivis drama" yang konon anti-korupsi tapi malah sibuk membuat film propaganda murahan ala Pesta Babi. Katanya sih kritik. Tapi coba lihat sumber dananya? Awas, jangan-jangan babinya impor, tapi yang bayar LSM asing.

Kelompok yang mengaku oposisi ini tiba-tiba demam panggung, heboh mengkritisi kebijakan Presiden Prabowo. Namun, di balik topeng "pejuang rakyat", tercium bau busuk kepentingan asing. Para narator independen bahkan sudah membedah habis aliran modal asing di balik produksi film edgy tersebut. Artinya apa? Ada yang kepanasan karena negara mulai bergerak. Ada yang gelisah karena tuannya mulai diganggu.

Nah, jika mereka ingin bicara soal "pesta", maka rezim Prabowo justru sedang menggelar Pesta Tikus versi negara. Bedanya? Tikus di sini bukan hewan pengerat biasa, tapi tikus berdasi yang selama puluhan tahun menjadikan Indonesia sebagai ladang jarahan pribadi. Dan Prabowo Subianto baru saja membuka pintu pesta dengan membawa kapak, bukan kue ulang tahun.

Selama Puluhan Tahun, Tikus Berdasi Makan Hasil Bumi

Bayangkan: selama puluhan tahun, republik ini digerogoti oleh para tikus berdasi yang:

· Menguasai lahan sawit secara ilegal (seenak udel sendiri),
· Memainkan perizinan dengan gaya "orang dalam",
· Menggelapkan pajak dan penerimaan negara dengan berbagai skema ala sinetron korupsi,
· Melakukan transfer pricing dan under-invoicing layaknya pesulap uang,
· Sementara rakyat hanya mendapat remah-remah seperti ayam dipunguti nasinya.

Kerugian negara? Versi PBB bukan main-main. Bukan miliaran, bukan triliun biasa, tapi hingga Rp15.000 triliun! Ya, Anda tidak salah baca. Lima belas ribu triliun. Cukup untuk bangun 15 juta sekolah, atau beli pulau komplit dengan bandaranya.

Namun, para tikus ini tega membiarkan rakyat gigit jari. Mereka menumpuk kekayaan pribadi di luar negeri, sementara anak-anak Indonesia masih ada yang kurang gizi. Ironis memang. Tapi itulah kejahatan sistematis yang terlindungi oleh jejaring oligarki dan kepentingan asing yang ingin Indonesia tetap jadi pemasok bahan mentah, bukan negara maju.

Masuk Prabowo: Genderang Perang Ditabuh, Tikus Mulai Berlari

Hari ini, perpanjangan tangan para tikus itu mulai tersedak. Di bawah komando Presiden Prabowo Subianto, negara tidak lagi kompromi. Genderang perang ditabuh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara berani menyentuh tikus-tikus besar yang dulu dianggap "too big to touch".

Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan Kejagung disulap jadi tim pemburu hantu koruptor. Hasilnya? Lahan sawit ilegal disita, uang hasil korupsi ditarik paksa, dan para tikus dipaksa mengembalikan apa yang bukan hak mereka.

Lahan-lahan sitaan bernilai ratusan triliun itu tidak dibiarkan menganggur. Mereka langsung dialihkan pengelolaannya ke PT Agrinas untuk kepentingan negara dan rakyat. Jadi jangan heran kalau program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap jalan meski harga pangan global naik. Karena uangnya... dari para tikus yang ketangkap.

Empat Kali Bukti Nyata: Uang Triliunan Kembali ke Kas Negara

Bukan sekadar janji manis di atas panggung. Ini fakta dingin yang sudah terjadi dalam 4 tahap. Catat baik-baik, para tikus yang masih bersembunyi:

Tahap 1 (20 Oktober 2025)
Jaksa Agung menyerahkan uang pengganti kerugian negara Rp13,25 triliun dari perkara korupsi ekspor minyak sawit mentah (CPO). Jumlah ini cukup untuk beli 20 pulau di mana pun.

Tahap 2 (Desember 2025)
Satgas PKH dan Kejagumg kembali menyerahkan akumulasi uang penyelamatan keuangan negara sebesar Rp6,6 triliun. Tikus-tikus mulai keringatan.

Tahap 3 (10 April 2026)
Jaksa Agung kembali unjuk gigi dengan menyerahkan uang negara senilai Rp11,4 triliun dari denda administratif sektor kehutanan dan PNBP.

Tahap 4 (13 Mei 2026)
Jangan berkedip. Jaksa Agung kembali menyerahkan hasil denda administratif penertiban kawasan hutan senilai Rp10,27 triliun ke kas negara melalui Kementerian Keuangan.

Total sementara: Rp41,52 triliun lebih. Dan ini baru tahap awal, baru sawit, baru dari segelintir tikus.

Yang Paling Kocak: Oposisi Panik, Bukan Senang

Nah, ini bagian paling lucu. Saat negara mulai mengembalikan uang rakyat, tiba-tiba muncul kelompok oposisi yang paling keras berteriak. Mereka mengaku pejuang demokrasi, pembela rakyat, anti-korupsi, pro-transparansi, pro-HAM, pro-kucing oren, apalah.

Tapi mengapa ketika negara membongkar praktik korupsi puluhan tahun, mereka malah heboh bikin film murahan? Mengapa mereka justru sibuk mengalihkan isu ke "Pesta Babi"? Mungkin karena babinya... adalah tikus yang sedang diburu?

Mari bertanya jujur: jika Anda benar-benar pejuang anti-korupsi, bukankah Anda akan bersorak gembira melihat tikus-tikus besar ditangkap? Bukankah Anda akan menyambut baik penyitaan lahan ilegal dan pengembalian uang negara?

Atau jangan-jangan... mereka panik karena tuannya mulai digulung hukum? Jangan-jangan mereka mendapat "dana hibah" dari para tikus yang kabur? Atau jangan-jangan mereka memang dirancang untuk jadi alarm setiap kali negara mulai bergerak tegas?

Publik tidak buta. Rakyat tahu siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang sedang gelisah karena pendapatannya dari luar negeri terancam.

Dampak Langsung: Indonesia Kokoh di Tengah Krisis Global

Hasil buruan para tikus ini langsung terasa. Di tengah badai krisis pangan dan energi global yang membuat negara-negara maju sekalipun tiarap, Indonesia justru kokoh berdiri.

Mengapa? Karena anggaran negara diperkuat oleh uang yang dulu bocor. Rakyat terbebas dari ancaman krisis karena uang negara tidak lagi mengalir ke rekening pribadi para tikus, melainkan kembali untuk memperkuat ketahanan pangan, ketahanan energi, dan program-program pro-rakyat.

Program Makan Bergizi Gratis yang dulu dicibir "gak mungkin jalan", kini menjadi bukti nyata. Anak-anak Indonesia kurang gizi mendapat makanan layak. Dan sumber dananya? Sebagian dari uang para tikus yang tertangkap. Indah bukan?

Target Berikutnya: Masuk Radar Penindakan

Para tikus jangan senang dulu. Target pemerintah bahkan lebih besar. Praktik manipulasi ekspor, transfer pricing, under-invoicing, dan berbagai bentuk penghindaran kewajiban terhadap negara mulai masuk radar penindakan.

Jika seluruh kebocoran itu berhasil ditutup, nilainya bukan lagi ratusan triliun rupiah, melainkan ribuan hingga belasan ribu triliun rupiah yang selama ini menguap dari sistem ekonomi nasional.

Bayangkan jika Rp15.000 triliun itu kembali ke negara. Maka Indonesia bukan hanya bebas utang, tapi bisa jadi negara paling kaya di Asia. Sekolah gratis, rumah sakit gratis, makan gratis, transportasi gratis, bahkan mungkin liburan ke Mars gratis.

Itu bukan mimpi. Itu konsekuensi logis dari berhentinya "pesta tikus".

Kesimpulan: Pesta Tikus Belum Usai, Kini Negara yang Memimpin

Saat ini tikus-tikus itu mulai diburu. Asetnya disita. Keuntungannya ditarik kembali. Jaringannya dibongkar. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara berani menunjukkan bahwa kekayaan Indonesia harus kembali kepada rakyat Indonesia.

Jika ada kelompok yang merasa terganggu oleh keadaan ini, mungkin yang perlu ditanyakan bukanlah mengapa negara memburu tikus. Melainkan mengapa ada yang begitu gelisah ketika tikus-tikus itu mulai tertangkap.

Jadi, kepada para "oposisi" yang mendadak vokal dan diduga menjadi kaki tangan asing: berhentilah mengalihkan isu dengan narasi fiktif yang pesimis. Rakyat sudah muak dengan drama murahan. Rakyat ingin makan enak, bukan nonton film produksi LSM asing.

Pesta Tikus versi Prabowo belum usai. Kini saatnya negara mengambil alih kemakmuran untuk rakyatnya sendiri. Dan siapa pun yang tidak suka dengan pesta ini... selamat datang di era di mana tikus tidak lagi raja, melainkan target operasi. (MCB)


KALI DIBACA