
Denpasar, wartaglobalbali.id – Menyikapi dinamika sosial dan pentingnya stabilitas keamanan di wilayah Bali, khususnya Denpasar, Badung, dan sekitarnya, para pimpinan jemaat, pendeta, dan umat Kristen diimbau untuk mengambil peran aktif dalam mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas).
Imbauan ini disampaikan secara resmi oleh Rm. Jonathan Soeharto, SH, M.Th, C.Med, CPLA, yang menjabat sebagai Ketua Aras Nasional PGPI Provinsi Bali, Ketua Musyawarah Pelayanan Umat Kristen (MPUK) Kabupaten Badung, sekaligus Sekretaris FKUB Kabupaten Badung, Sabtu (18/7/2026).
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga merupakan mitra strategis pemerintah dan aparat penegak hukum dalam menciptakan kedamaian di tengah masyarakat.
"Gereja memiliki posisi sentral dalam membangun harmoni sosial. Kami ingin mengajak seluruh elemen umat Kristen di Bali untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban, karena ini adalah tanggung jawab kita bersama," ujar Rm. Jonathan Soeharto.
Setidaknya ada tiga poin utama yang menjadi fokus imbauan Kamtibmas tersebut.
Pertama, menjaga kerukunan antarumat beragama melalui penguatan moderasi beragama. Umat Kristen didorong untuk aktif berdialog dengan desa adat, banjar, serta wadah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Toleransi tinggi selama pelaksanaan ibadah umat Kristen maupun hari raya umat lain harus terus dijaga. Setiap potensi gesekan sosial juga diharapkan dapat diselesaikan secara musyawarah dan kekeluargaan.
Langkah ini sejalan dengan berbagai program yang telah berjalan di Bali. Sebelumnya, Kementerian Agama RI terus memperkuat gerakan moderasi beragama melalui pendekatan yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung. Program prioritas FKUB tahun 2026 pun mencakup dialog lintas agama berkelanjutan serta penguatan desa sadar kerukunan berbasis kearifan lokal.
Kedua, berpartisipasi aktif dalam sistem keamanan lingkungan. Para pimpinan gereja diminta memastikan tertib administrasi kependudukan (KTP/KIPEM) bagi pendatang di lingkungan masing-masing. Koordinasi intensif dengan Babinkamtibmas, Babinsa, dan Pecalang juga harus dibangun, terutama saat menyelenggarakan acara besar. Kewaspadaan terhadap gerak-gerik mencurigakan di sekitar lingkungan gereja dan tempat tinggal juga perlu ditingkatkan.

Sinergi ini bukanlah hal baru di Bali. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Maranatha di Denpasar, misalnya, telah rutin menggandeng satuan polisi adat Bali atau pecalang untuk membantu pengamanan perayaan Natal. Kolaborasi ini bahkan telah berlangsung selama 10 tahun lamanya. Bendahara Pecalang Banjar Abasan, Kadek Riana, menyatakan bahwa kegiatan pengamanan oleh satuan pecalang juga rutin dilakukan setiap ibadah di hari Minggu.
Sinergi serupa juga terlihat dalam pengamanan perayaan Tri Hari Suci di wilayah Badung, di mana Polres Badung memfokuskan pengamanan pada 44 gereja dengan melibatkan 420 personel. Bahkan, Polsek Denpasar Timur (Dentim) secara rutin melaksanakan sambang kamtibmas ke Gereja Katedral sebagai wujud komitmen Polri untuk terus hadir di tengah masyarakat dan membangun komunikasi yang harmonis dengan tokoh agama.
Ketiga, menjadi agen pembawa damai dan mengedepankan pengendalian diri. Para pendeta dan pimpinan jemaat diimbau untuk menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas dan kepatuhan hukum melalui mimbar-mimbar gereja. Umat juga diedukasi untuk bijak bermedia sosial, menyaring informasi sebelum dibagikan, dan tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong (hoax). Jika terjadi sengketa atau kesalahpahaman, jalur mediasi hukum yang sah harus diutamakan.
Kepolisian Daerah Bali sendiri telah melaksanakan Operasi Cipta Kondisi (Cipkon) Agung-2026 dalam rangka pemeliharaan Kamtibmas menjelang hari raya besar keagamaan. Kapolda Bali sebelumnya juga menegaskan bahwa menjaga situasi Kamtibmas yang aman dan kondusif tidak dapat dilakukan sendiri oleh Polri, melainkan dibutuhkan kebersamaan, komunikasi yang baik, dan sinergi yang kuat dari seluruh elemen masyarakat.
Dengan adanya imbauan ini, diharapkan seluruh komponen masyarakat, khususnya umat Kristen di Bali, dapat bersama-sama mewujudkan Bali yang aman, damai, jagadhita, dan penuh kasih.
"Mari kita menjadi garam dan terang dunia melalui peran nyata kita dalam menjaga keamanan dan ketertiban," pungkas Rm. Jonathan Soeharto mengakhiri pernyataannya. (MCB)
KALI DIBACA

