ENAM TAHUN KESATRIA KERIS BALI Ketua Umum Ismaya "Teguhkan Semangat Ngayah Menjaga Taksu Bali" - Warta Global Bali

Mobile Menu

Klik

Raning Taxt Berita

Memuat berita...

More News

logoblog

ENAM TAHUN KESATRIA KERIS BALI Ketua Umum Ismaya "Teguhkan Semangat Ngayah Menjaga Taksu Bali"

Sunday, 6 September 2026


Ketua Umum I Ketut Putra Ismaya Jaya (Jero Bima),Poto netti 

DENPASAR Bali-WartaGlobal.Id

Enam tahun perjalanan Yayasan Kesatria Keris Bali menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menjaga warisan budaya, nilai leluhur, dan jati diri Bali.

Di bawah kepemimpinan Ketua Umum  I Ketut Putra Ismaya Jaya (Jero Bima)

Kesatria Keris Bali terus membawa semangat ngayah sebagai bentuk pengabdian terhadap budaya. Peringatan HUT ke-6 pada September 2026 tidak sekadar menjadi seremoni organisasi, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana generasi hari ini menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan bermakna.

Semangat tersebut dirangkum dalam filosofi:

“Mulat Sarira Nyujur Rahayu.”

Sebuah pesan untuk senantiasa melakukan introspeksi, memperbaiki diri, serta mengarahkan langkah menuju kebaikan dan keharmonisan.

Keris Bukan Sekadar Pusaka

Bagi Kesatria Keris Bali, keris tidak berhenti sebagai benda pusaka.

Di dalamnya terdapat sejarah, filosofi, seni, pengetahuan, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, menurut semangat yang dibangun Ketua Umum Ismaya, pelestarian keris harus berjalan bersama dengan upaya membangun kesadaran masyarakat.

Keris harus dikenal, dipahami, dirawat dan diwariskan.

Bukan hanya sebagai benda koleksi, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya.

Ngayah Menjaga Taksu Bali

Di tengah derasnya perubahan zaman, semangat ngayah menjadi semakin penting.

Ngayah bukan sekadar kegiatan sosial atau budaya. Ia merupakan bentuk pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan dan kesadaran bahwa menjaga warisan leluhur merupakan tanggung jawab bersama.

Di sinilah Kesatria Keris Bali menempatkan dirinya.

Ketua Umum Ismaya menegaskan pentingnya menjaga taksu Bali melalui tindakan nyata—merawat tradisi, memperkuat pengetahuan, membuka ruang edukasi, dan melibatkan generasi muda.

Sebab taksu tidak lahir hanya dari seremoni.

Taksu tumbuh dari ketulusan, pengetahuan, disiplin, kreativitas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.

Tantangan Generasi Sekarang

Bali menghadapi perubahan yang sangat cepat.

Globalisasi, perkembangan teknologi, industri pariwisata dan perubahan gaya hidup membuat generasi muda semakin jauh dari sebagian warisan tradisional.

Karena itu, pelestarian keris harus mampu menemukan cara baru agar tidak menjadi budaya yang hanya dikenang.

Warisan leluhur harus menjadi pengetahuan yang dipahami generasi penerus.

Keris harus diperkenalkan bukan dengan pendekatan yang eksklusif, tetapi melalui edukasi, diskusi, penelitian, dokumentasi dan kegiatan budaya yang dapat menjangkau anak muda.

Di sinilah kepemimpinan Ismaya bersama Kesatria Keris Bali diuji: bagaimana menjadikan pelestarian budaya bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan yang berkelanjutan.

Mulat Sarira

Peringatan enam tahun juga menjadi momentum mulat sarira.

Organisasi kebudayaan harus terus melakukan evaluasi terhadap perjalanan yang telah dilalui.

Apa yang sudah dilakukan?

Apa yang belum tercapai?

Dan yang paling penting, apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena sebuah kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena memiliki sejarah panjang.

Kebudayaan bertahan karena ada manusia yang mau merawatnya.

Enam Tahun dan Langkah Berikutnya

Enam tahun perjalanan Yayasan Kesatria Keris Bali bukanlah garis akhir.

Justru menjadi titik untuk memperkuat langkah.

Penguatan edukasi keris, dokumentasi pusaka, penelitian budaya, regenerasi pelestari, serta kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan warisan tersebut tidak terputus.

Ketua Umum Ismaya bersama keluarga besar Kesatria Keris Bali membawa pesan bahwa menjaga Bali tidak hanya berarti menjaga alam dan ruang fisiknya.

Menjaga Bali juga berarti menjaga ingatan, identitas dan jiwa kebudayaannya.

Keris boleh tersimpan di dalam warangka.

Namun filosofi dan nilai yang dikandungnya harus tetap hidup dalam kehidupan manusia.

Sebab pada akhirnya, menjaga keris adalah bagian dari menjaga taksu Bali.

Selamat HUT ke-6 Yayasan Kesatria Keris Bali.

Mulat Sarira Nyujur Rahayu.

Ngayah untuk budaya.
Ngayah untuk leluhur.
Ngayah untuk Bali.

Memuat konten...