Tiga Generasi, Tiga Lambang, Satu Semangat Pengabdian KBP Suwandi Prihantoro - Warta Global Bali

Mobile Menu

Klik

Raning Taxt Berita

Memuat berita...

More News

logoblog

Tiga Generasi, Tiga Lambang, Satu Semangat Pengabdian KBP Suwandi Prihantoro

Wednesday, 7 October 2026

Foto istimewah

DENPASAR, BALI — Ada kisah pengabdian yang tidak sekadar berbicara tentang perjalanan karier, tetapi juga tentang kesinambungan nilai dan semangat melayani masyarakat.

Tiga generasi, tiga kali perubahan lambang Binmas, namun satu semangat tetap terjaga: pengabdian kepada masyarakat dan kedekatan Polri dengan rakyat.

Kisah itu tercermin dalam perjalanan KBP Suwandi Prihantoro, S.I.K., M.Han., Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Bali, yang telah melewati berbagai jenjang penugasan dan tanggung jawab di bidang pembinaan masyarakat.

Dari pangkat Kompol, AKBP, hingga kini Kombes Pol (KBP), perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses panjang dalam membangun pengalaman, kepemimpinan, sekaligus pemahaman tentang bagaimana Polri hadir di tengah masyarakat.

Jejak Pengabdian yang Mengukuhkan

Karier KBP Suwandi Prihantoro di bidang pembinaan masyarakat tercatat melalui sejumlah penugasan strategis, antara lain:

1. Kasi Binluh Subdit Bintibluh Ditbinmas Polda Sumatera Selatan
2. Kasubdit Binsatpam/Polsus Ditbinmas Polda Sumatera Selatan
3. Wadir Binmas Polda Jambi
4. Kabid Bimmas & Obvitnas Kedeputian V Kemenko Polhukam RI
5. Dirbinmas Polda Bali

Dari Sumatera Selatan, Jambi, hingga menjalankan tugas di tingkat nasional, kemudian kembali ke Pulau Dewata, setiap penugasan menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam memperkuat peran pembinaan masyarakat.

Bagi fungsi Binmas, kedekatan dengan masyarakat bukan sekadar konsep, melainkan bagian penting dari pelaksanaan tugas kepolisian.

Garda Terdepan di Tengah Masyarakat Bali

Di tengah semangat “Polisi Bersama Masyarakat”, jajaran Binmas Polda Bali memiliki posisi strategis sebagai salah satu garda terdepan dalam membangun komunikasi dan kemitraan antara Polri dengan masyarakat.

Di berbagai desa dan kelurahan, 726 Bhabinkamtibmas menjadi ujung tombak kehadiran Polri. Mereka tidak hanya menjalankan fungsi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga menjadi penghubung antara kepolisian dengan warga di wilayah binaannya.

Kehadiran Bhabinkamtibmas diharapkan mampu membuat masyarakat tidak hanya mengetahui keberadaan polisi, tetapi juga merasakan manfaat kehadirannya.

“Binmas bukan sekadar satuan tugas. Binmas adalah wajah Polri di tengah rakyat. Di mana ada warga, di situ kami hadir—mendengar, mendampingi, menjaga.”

Pernyataan tersebut menggambarkan filosofi bahwa membangun keamanan tidak dapat dilakukan hanya dengan pendekatan penegakan hukum. Dibutuhkan komunikasi, kepedulian, dan kemitraan yang berkelanjutan dengan masyarakat.

Tiga Lambang, Satu Nilai Pengabdian

Perubahan zaman membawa perubahan simbol dan lambang. Namun, nilai dasar pengabdian tetap menjadi benang merah yang menghubungkan satu generasi dengan generasi berikutnya.

Tiga generasi, tiga kali perubahan lambang, tetapi semangatnya tetap sama:

Mengabdi bukan semata-mata karena pangkat, melainkan karena amanah dan kepercayaan masyarakat.

Hadir bukan sekadar terlihat, tetapi harus mampu dirasakan manfaatnya.

Bersama masyarakat bukan hanya slogan, melainkan sebuah cara membangun keamanan dan ketertiban secara bersama-sama.

Nilai tersebut menjadi bagian dari proses regenerasi di tubuh Binmas. Pengalaman generasi terdahulu menjadi pijakan bagi generasi saat ini, sementara generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Menjaga Kedekatan Polisi dan Rakyat

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang terus berkembang, tantangan tugas kepolisian juga semakin kompleks. Karena itu, pendekatan yang humanis dan komunikasi yang terbuka menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik.

Dari desa hingga tingkat provinsi, Bhabinkamtibmas menjadi salah satu wajah terdekat Polri dengan masyarakat.

Di situlah makna “Polisi Bersama Masyarakat” menemukan bentuk nyatanya—bukan hanya dalam sebuah semboyan, tetapi melalui kehadiran, komunikasi, pelayanan, serta kepedulian yang dirasakan langsung oleh warga.

Perjalanan KBP Suwandi Prihantoro pada akhirnya bukan sekadar catatan perpindahan tugas dan kenaikan pangkat. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita panjang tentang pengabdian, kepemimpinan, dan upaya menjaga agar hubungan antara Polri dan masyarakat tetap dekat.

Tiga generasi boleh berganti. Lambang boleh berubah. Pangkat dan jabatan dapat bergeser. Namun satu hal yang diharapkan tetap hidup: semangat mengabdi dan hadir bersama masyarakat.

Reborn
Memuat konten...