DR.ANAK AGUNG PUTU SUGIANTININGSIH.,S.IP.,M.AP (AKADEMISI UNIVERSITAS WARMADEWA) Menutup TPA Suwung, Bali Hadapi Ujian Besar Pengelolaan Sampah Berkelanjutan - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

DR.ANAK AGUNG PUTU SUGIANTININGSIH.,S.IP.,M.AP (AKADEMISI UNIVERSITAS WARMADEWA) Menutup TPA Suwung, Bali Hadapi Ujian Besar Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Wednesday, 17 December 2025
 

Denpasar Bali 18/Desember /2025 , WartaGlobal. Id
Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung oleh Pemerintah Provinsi Bali berpotensi memicu krisis sampah baru jika tidak didukung transformasi sistemik. 

Demikian diungkapkan Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningsih, S.IP., M.AP., akademisi Universitas Warmadewa, dalam analisis mendalamnya tentang tantangan transisi pengelolaan sampah di Bali.TPA Suwung, yang selama ini menjadi "gunungan sampah" pencemar udara, air, dan ruang hidup warga, dijadwalkan ditutup sebagai langkah monumental. Namun, menurut Sugiantiningsih, penutupan ini paradoksal: "Ke mana sampah Bali akan pergi setelah Suwung ditutup? Masalah ini bukan sekadar teknis, tapi struktural—melibatkan kebijakan, budaya konsumsi, kebiasaan masyarakat, hingga upacara adat yang menyumbang volume sampah besar."Ia merujuk teori "risk society" Ulrich Beck, yang menyebut sampah modern sebagai ancaman ekologis sistemik, serta konsep circular economy yang menekankan reduce, reuse, recycle. Dari sisi kebijakan publik, model Edwards III menyoroti hambatan di komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan birokrasi Bali.Budaya Bali Jadi Tantangan Unik
Upacara seperti odalan, ngaben, dan yadnya menghasilkan limbah organik-nonorganik masif, kini sering pakai plastik dan styrofoam yang bertentangan dengan Tri Hita Karana. Pola "kumpul-angkut-buang" masih dominan, dengan kesadaran pemilahan sampah rendah akibat minim pendampingan. 

"Pemerintah menawarkan eco enzyme, teba modern, dan lubang biopori, tapi program ini sering berhenti di sosialisasi seremonial," kritik Sugiantiningsih.Ia menilai kebijakan pemerintah top-down dan terfragmentasi antarprovinsi, kabupaten, desa adat, serta desa dinas, berisiko "memindahkan krisis" tanpa infrastruktur desa maupun rumah tangga.Strategi Mendesak Pasca-Penutupan
Untuk mencegah kekacauan, Sugiantiningsih usulkan langkah konkret:Pemilahan wajib di rumah tangga, banjar, dan desa adat dengan sanksi-insentif.

Revitalisasi awig-awig desa adat untuk pengelolaan sampah berbasis kearifan lokal.
Pendampingan teknis berkelanjutan untuk eco enzyme, teba modern, dan biopori.TPS3R serta bank sampah terintegrasi di setiap desa.Kampanye edukasi kritis soal dampak ekologis dan kesehatan.

"Penutupan Suwung harus jadi titik balik, bukan simbol politik. Sampah adalah cermin perlakuan kita terhadap alam—tanpa kesadaran kolektif, krisis baru akan terbuka lebih luas," tegasnya.

Pemprov Bali belum merespons secara resmi, tapi rencana penutupan TPA Suwung terus bergulir di tengah tekanan lingkungan dan sosial.

KALI DIBACA