DENPASAR Bali , WartaGlobal. Id
Pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar, berubah khidmat Senin pagi. Ratusan umat Hindu berkumpul mengikuti upacara _Warak Keruron_, _Ngelangkir_, dan _Ngelungah_ secara massal yang digelar komunitas Atma Widya bersama Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN).
Sebanyak 203 peserta hadir untuk menjalani ritual penyucian bagi pasangan yang pernah mengalami keguguran. Prosesi dipuput langsung oleh Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Sri Satya Jyoti dari Griya Bhuwana Dharma Santhi Sesetan.
Bagi masyarakat Hindu Bali, gugurnya janin bukan hanya peristiwa medis. Ada dimensi spiritual yang diyakini menyertainya.
“Upacara ini menjadi bentuk penghormatan terhadap kehidupan sekaligus sarana penyucian lahir dan batin bagi keluarga yang mengalami keguguran,” kata Pinandita I Wayan Dodi Arianta di sela upacara.
Dalam kepercayaan Bali, janin yang sudah terbentuk dianggap telah memiliki atman atau unsur kehidupan spiritual. Ketika meninggal dalam kandungan, keluarga perlu menjalankan ritual agar roh sang janin mendapat ketenangan, sekaligus membersihkan kondisi spiritual keluarga.
Secara etimologi, _Warak_ atau _Barak_ berarti merah yang melambangkan darah dan kehidupan. Sementara _Keruron_ berarti gugur atau berakhirnya kehidupan dalam kandungan.
Bukan Sekadar Adat, Tapi Pemulihan Batin
Selain Warak Keruron rangkaian upacara juga meliputi:
1. Warak Keruron
Pabersihan untuk orang tua yang mengalami keguguran atau menggugurkan kandungan.
2. Ngelangkir
Upacara untuk bayi yang gugur atau meninggal sebelum lepas tali pusar.
3. Ngelungah
Upacara untuk bayi yang meninggal sebelum tanggal gigi.
Pinandita Dodi menegaskan, ritual ini bukan hanya soal adat dan spiritual, tetapi juga membantu pemulihan psikologis peserta, terutama ibu yang mengalami trauma pasca keguguran.
“Banyak peserta datang dengan rasa cemas, sulit tidur, bahkan ketakutan. Ada yang cerita kaki terasa berat seperti digelantungi, tempat tidur seperti digoyang, sampai sakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi batin yang belum pulih ini yang kami coba rangkul,” ujarnya.
Pelaksanaan massal dipilih agar peserta merasa lebih nyaman dan tidak terbebani stigma sosial, terutama bagi yang mengalami keguguran di luar pernikahan resmi.
“Melalui upacara bersama seperti ini, peserta merasa lebih tenang karena tidak harus menjalani sendiri atau membuka persoalan pribadinya kepada lingkungan sekitar,” kata Dodi.
Biaya pendaftaran ditetapkan Rp650 ribu per pasangan, sudah termasuk sarana upacara seperti sanggah urip, sesajen, soda putih kuning, dan perlengkapan ritual lainnya. Peserta hanya perlu membawa perlengkapan sembahyang pribadi.
Menariknya, komunitas Atma Widya juga membuka ruang bagi pasangan yang belum berstatus suami istri sah untuk ikut, dengan penyesuaian tata upacara sesuai kondisi masing-masing.
Bagi umat Hindu Bali, @Warak Keruron adalah warisan budaya dan spiritual yang menjaga keseimbangan antara agama, adat, dan kemanusiaan. Di tengah duka kehilangan, ritual ini menjadi ruang untuk berdamai dengan diri sendiri dan mengikhlaskan kehidupan yang tak sempat lahir ke dunia.Netti/*
KALI DIBACA

