
TABANAN, wartaglobalbali.id — Sebuah tragedi berdarah kembali menodai tanah dewata, Jumat (24/7) dini hari. Seorang pria bernasib sial, KD (warga Buleleng), tewas mengenaskan dihajar massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya.
Viralnya aksi main hakim sendiri ini bermula dari ulah KD yang nekat menggasak satu ekor ayam aduan milik I Wayan Adi Suteja (31) sekitar pukul 01.30 WITA. Pemilik yang curia berteriak histeris, sontak membangunkan puluhan warga yang sudah geram dengan hilangnya ternak belakangan ini. Tertangkap basah, KD tak berkutik. Massa yang emosi langsung melayani pukulan bertubi-tubi hingga nyawanya melayang di tempat.
Amuk massa tak berhenti di situ. Sepeda motor KD pun ikut menjadi korban, dibakar hingga hangus oleh warga yang "kepanasan". Ironisnya, polisi yang tiba pukul 02.00 WITA hanya bisa menemukan jasad KD terbujur kaku. Dari TKP, polisi menyita barang bukti: ayam korban, golok, serta tas berisi tang, ketapel, dan uang tunai.
Warga mengaku muak karena aksi pencurian ayam sudah sering terjadi. Tapi, apakah amukan massa ini solusi? Atau hanya menambah daftar panjang kasus kekerasan di negeri ini? Polisi pun mengimbau agar warga tak main hakim sendiri. Jenazah KD kini dievakuasi ke RS Semara Ratih.
Dengan tubuh gemetar, anak korban yang usianya diperkirakan baru menginjak bangku SD itu melihat jasad sang ayah yang terbujur kaku. Air matanya jatuh deras membasahi pipi, sementara tangisannya pecah menyayat-nyayat udara dini hari.
"Bapak... Bapak... bangun, Pak! Bapak...!"
Jeritannya berulang kali menggema di antara kerumunan massa. Sebuah tragedi yang menyesakkan dada, melihat warga yang menjunjung nilai-nilai budaya, adat bahkan spiritual namun menjadi beringas yang membabi buta, ada apa dengan Bali?
Sarkas untuk kita semua: Hanya demi ayam, nyawa melayang dan motor hangus. Tragis sekaligus memalukan. (MCB)
KALI DIBACA

