
DENPASAR, BALI —WartaGlobal.Id
Hubungan ekonomi Bali dan Timor-Leste memasuki ruang baru. Bukan lagi sebatas hubungan pariwisata, pendidikan, mobilitas masyarakat, maupun perdagangan, tetapi mulai diarahkan pada pembangunan ekosistem bisnis yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Bali–Timor Leste Business Forum yang digelar Selasa, 8 September 2026, pukul 09.00–12.00 WITA di Aula Rektorat Lantai 3, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar.
FGD tersebut mengusung agenda utama penyusunan Blueprint Bali–Timor Leste Business Forum berbasis Gold Economy, Green Economy, dan Blue Economy.
Forum dipimpin Dr. Ketut Subadra, SH, MH, MM, CPLA, dengan melibatkan kalangan akademisi dan pelaku usaha dari Bali serta perwakilan Timor-Leste.
Dari Timor-Leste hadir tiga perwakilan, yakni Carolina Maria da Silva, Konsul Jenderal Timor-Leste di Bali; Gregorio Soares Pinto, Asisten Atase Imigrasi Timor-Leste di Bali; serta Manuel Pereira Cardoso, Asisten Atase Pendidikan Timor-Leste di Bali.
Forum juga dihadiri AWK bersama sejumlah akademisi dan pengusaha dari Bali dan Timor-Leste.
Bukan Sekadar Forum Pertemuan
FGD ini menjadi penting karena Timor-Leste kini berada dalam fase baru integrasi ekonomi kawasan.
ASEAN secara resmi menyetujui Timor-Leste sebagai anggota ke-11 pada Oktober 2025. Proses tersebut sekaligus membuka ruang integrasi yang lebih besar bagi perdagangan, investasi, jasa, mobilitas manusia dan kerja sama ekonomi regional.
Dengan posisi geografis yang relatif dekat, Bali memiliki peluang menjadi salah satu simpul penghubung antara pelaku usaha Indonesia dan pasar Timor-Leste.
Karena itu, penyusunan Blueprint Bali–Timor Leste Business Forum memiliki arti strategis: menentukan sektor apa yang akan menjadi prioritas, siapa pelakunya, bagaimana model investasinya, serta bagaimana kerja sama tersebut menghasilkan manfaat ekonomi nyata bagi kedua pihak.
Pemerintah Timor-Leste sendiri sebelumnya telah mendorong penguatan hubungan ekonomi dengan Indonesia melalui forum bisnis yang membahas perdagangan, investasi serta pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah.
Bali Memiliki Pasar Internasional yang Besar
Dari sisi Bali, fondasi pasarnya juga cukup kuat.
Data BPS menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara langsung ke Bali sepanjang 2025 mencapai 6.948.754 kunjungan, meningkat 9,72 persen dibandingkan 2024.
Lebih menarik lagi, data statistik pariwisata Bali mencatat wisatawan asal Timor-Leste mencapai 49.796 kunjungan pada 2025, meningkat dari 45.479 kunjungan pada 2024.
Angka tersebut memang masih kecil dibandingkan pasar utama Bali. Namun justru di situlah ruang pertumbuhannya.
Pasar Timor-Leste tidak harus dibaca hanya dari jumlah wisatawan. Potensinya dapat diperluas melalui pendidikan, kesehatan, hospitality, perdagangan produk Bali, jasa profesional, ekonomi kreatif, teknologi digital, pertanian, perikanan, energi terbarukan hingga investasi.
Dengan kata lain, hubungan Bali–Timor-Leste dapat dibangun dari model people-to-people connection menuju business-to-business connection.
Tiga Pilar: Gold, Green, dan Blue Economy
Blueprint yang dibahas dalam FGD diarahkan pada tiga pendekatan utama.
Pertama, Gold Economy.
Konsep ini dapat diarahkan pada pengembangan ekonomi berbasis nilai tambah, kreativitas, pengetahuan, budaya dan sumber daya manusia.
Bali memiliki keunggulan pada industri kreatif, seni, budaya, hospitality, pendidikan, desain, digital economy serta jasa profesional.
Timor-Leste memiliki peluang untuk menjadi pasar sekaligus mitra pengembangan sektor-sektor tersebut.
Kedua, Green Economy.
Kerja sama dapat diarahkan pada energi terbarukan, pengelolaan lingkungan, pertanian berkelanjutan, ekonomi sirkular, teknologi hijau serta pembangunan pariwisata yang rendah emisi.
Ini menjadi semakin relevan karena pembangunan ekonomi kawasan Asia Tenggara bergerak menuju investasi yang semakin memperhitungkan aspek keberlanjutan.
Ketiga, Blue Economy.
Kedekatan geografis Bali dan Timor-Leste membuka peluang kerja sama di sektor kelautan dan pesisir.
Potensinya mencakup perikanan berkelanjutan, marine tourism, konservasi laut, pengolahan hasil laut, logistik maritim dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.
Tantangan Ada di Implementasi
Namun, membangun forum bisnis tidak cukup hanya dengan mempertemukan pengusaha.
Tantangan terbesar justru berada pada implementasi setelah forum selesai.
Blueprint harus mampu menjawab sejumlah pertanyaan mendasar:
- Apa sektor prioritas Bali–Timor-Leste?
- Berapa nilai perdagangan yang ingin dicapai?
- Investasi apa yang konkret dan feasible?
- Siapa investor dan pelaku usahanya?
- Bagaimana mekanisme pembiayaan?
- Bagaimana perlindungan investasi?
- Bagaimana prosedur perizinan lintas negara?
- Bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa?
- Bagaimana keterlibatan UMKM?
- Bagaimana memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat?
Tanpa indikator tersebut, forum bisnis berisiko berhenti menjadi agenda networking dan dokumentasi.
Sebaliknya, apabila blueprint disusun dengan target yang terukur, forum dapat berkembang menjadi business platform yang mempertemukan kebutuhan pasar Timor-Leste dengan kapasitas produksi, jasa dan investasi Bali.
Momentum Baru Setelah Timor-Leste Masuk ASEAN
Masuknya Timor-Leste ke ASEAN memberikan dimensi baru bagi agenda tersebut.
ASEAN mencatat proses integrasi Timor-Leste mencakup berbagai instrumen hukum dan ekonomi regional. Timor-Leste juga telah melakukan aksesi terhadap berbagai instrumen ASEAN sebagai bagian dari proses integrasi tersebut.
Artinya, hubungan Bali–Timor-Leste ke depan tidak hanya berlangsung dalam konteks hubungan bilateral Indonesia–Timor-Leste.
Ada dimensi yang lebih besar: integrasi ekonomi ASEAN.
Dalam konteks tersebut, Bali dapat mengambil posisi bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai salah satu pusat konektivitas bisnis, pendidikan, kebudayaan dan investasi menuju Timor-Leste.
Dari "Forum" Menjadi "Mesin Pertumbuhan"
Kunci keberhasilan Bali–Timor Leste Business Forum bukan terletak pada seberapa besar acara dilaksanakan, melainkan pada apa yang terjadi setelah peserta meninggalkan ruang FGD.
Blueprint idealnya menghasilkan roadmap 3–5 tahun, daftar proyek prioritas, business matching, database investor, skema pembiayaan, target perdagangan dan investasi, serta mekanisme evaluasi tahunan.
Dengan pendekatan tersebut, forum tidak berhenti pada slogan “Connecting Opportunities, Building Prosperity”.
Slogan itu harus diterjemahkan menjadi proyek nyata.
Bali memiliki pasar internasional, infrastruktur pariwisata, sumber daya manusia dan ekosistem bisnis. Timor-Leste memiliki pasar yang sedang berkembang dan momentum integrasi ASEAN.
Pertemuan kedua kekuatan tersebut berpotensi menjadi pintu masuk bagi kerja sama ekonomi baru di kawasan timur Indonesia dan Asia Tenggara.
Pertanyaannya sekarang bukan apakah Bali dan Timor-Leste memiliki peluang untuk bekerja sama. Peluang itu jelas ada.
Harapan Terbesar FGD memberikan Pangsa Pasar yang berimbang serta ikut serta dalam Ekonomi Global terdepan.


.jpg)