Kamboja Melesat, Indonesia Tertinggal? Ekspor Mete Tembus US$1,75 Miliar, Vietnam Tetap Jadi Raja Pengolahan - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Kamboja Melesat, Indonesia Tertinggal? Ekspor Mete Tembus US$1,75 Miliar, Vietnam Tetap Jadi Raja Pengolahan

Saturday, 25 July 2026


Poto Istimewa sorotan 

JAKARTA, 25 Juli 2026 — Warta Global Bali.Id
Kamboja mencatat lonjakan signifikan dalam ekspor mete mentah sepanjang semester pertama 2026. Berdasarkan laporan Khmer Times, negara tersebut membukukan pendapatan sebesar US$1,75 miliar dari ekspor 1,03 juta ton mete mentah selama Januari–Juni 2026, meningkat 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

   Presiden Cashew Nut Association of Cambodia (CAC), Uon Silot, mengatakan hampir seluruh hasil ekspor mete Kamboja dikirim ke Vietnam untuk diolah sebelum kembali dipasarkan ke berbagai negara tujuan ekspor.

   Pencapaian ini menegaskan semakin kuatnya posisi Kamboja sebagai pemasok bahan baku utama bagi industri pengolahan mete Vietnam. Selain mete, sektor pertanian Kamboja juga ditopang komoditas unggulan lain seperti padi, karet, singkong, pisang, mangga, kelengkeng, dan lada. Luas perkebunan mete di negara itu diperkirakan telah mencapai sekitar 700.000 hektare yang tersebar di 10 provinsi.

   Sementara itu, Vietnam masih mempertahankan dominasinya sebagai pusat pengolahan dan eksportir produk mete dunia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai Vietnam, pada Juni 2024 negara tersebut mengekspor 62,64 ribu ton kacang mete senilai US$376,32 juta. Meski volumenya turun 7,5 persen dibandingkan Mei 2024, nilai ekspor justru meningkat 1,6 persen, mencerminkan penguatan harga di pasar internasional.

   Secara tahunan, ekspor Juni 2024 juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan volume 4,5 persen dan nilai 9,5 persen dibandingkan Juni 2023.
Selama semester pertama 2024, Vietnam telah mengekspor 353,5 ribu ton kacang mete dengan nilai US$1,94 miliar, meningkat 26,2 persen dari sisi volume dan 18,7 persen dari sisi nilai dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

   Fenomena ini menunjukkan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan antara Kamboja dan Vietnam. Kamboja fokus meningkatkan produksi bahan baku, sementara Vietnam memperoleh nilai tambah melalui industri pengolahan dan jaringan ekspor global yang telah mapan.

   Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi sinyal penting. Sebagai salah satu negara penghasil mete di Asia Tenggara, Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan produktivitas kebun, memperkuat industri pengolahan dalam negeri, serta memperluas akses pasar ekspor agar tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah.

   Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap kacang mete, keberhasilan Kamboja dan Vietnam memperlihatkan bahwa daya saing tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga kemampuan membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir. Tanpa penguatan industri pengolahan dan strategi ekspor yang lebih agresif, Indonesia berpotensi tertinggal dalam persaingan komoditas bernilai tinggi tersebut.


Afkan.

KALI DIBACA