
Bali, wartaglobalbali.id - Minggu 23/8, Gereja yang biasanya sunyi dengan lantunan pujian paduan suara, mendadak berubah jadi club malam. Lampu strobe berkedip-kedip, subwoofer menggelegar, dan seorang DJ di atas panggung memutar musik elektronik dengan tempo tinggi. Bukan konser sekuler, ini dia yang disebut DJ Worship – dan Bali menjadi saksi fenomena kontroversial ini!
NH Community dengan berani mengusung metode penjangkauan jiwa yang nyeleneh. Lewat DJ Worship, mereka ingin membawa orang datang kepada Tuhan dengan cara yang ... well, nge-beat! Bukan tentang caranya, katanya, tetapi kepada siapa penyembahan itu ditujukan: Tuhan Yesus. Tapi pertanyaan besarnya: Apakah ini bentuk ibadah yang sah, atau sekadar strategi marketing rohani untuk mengejar kuantitas jemaat?
DJ Worship Bukan Cuma di Bali, Ini Fenomena Global!
Ternyata, Bali bukan pelopor. Fenomena "DJ di altar" sudah mengguncang dunia. Di Portugal, ada Padre Guilherme Peixoto, seorang imam Katolik yang namanya meledak setelah tampil di World Youth Day 2023 di Lisbon di hadapan 1,5 juta orang. Ia bahkan mendapat restu dari Paus Fransiskus sendiri yang menyuruhnya melanjutkan "passion" ini! Kini, Padre Guilherme punya 2,7 juta follower di Instagram dan 2,3 juta di TikTok.
Di Inggris, Pendeta Simon Stride dari Gereja Inggris malah menggelar 'Resurrection Rave' dengan lampu strobo dan mesin asap untuk menjangkau generasi muda. Lalu ada Rave Jesus, mantan DJ Tomorrowland yang banting setir bikin album I Met God on the Dancefloor. "Tuhan menciptakan semua suara. Jadi semua suara harus dipakai untuk memuliakan Dia," katanya.
Pro dan Kontra: Nyanyian Malaikat atau Gemuruh Neraka?
Di satu sisi, pendukung mengklaim ini adalah kreativitas dan inovasi. “Ini bagian dari panggilan saya untuk menghubungkan orang dengan Tuhan melalui tarian dan musik elektronik,” kata Pendeta Simon Stride. Pendeta Steve Bullock bahkan bikin sesi DJ yang "menceritakan kisah pengharapan dalam Kristus."
Di sisi lain, kritik pedas berhamburan. Setelah Padre Guilherme dijadwalkan tampil di klub malam Beirut, Lebanon, 18 orang—termasuk rohaniwan—melayangkan gugatan ke pengadilan! Mereka menilai aksi itu "melanggar etika dan ajaran gereja serta menodai citra agama Kristen." Di Jerman, komentar netizen menohok: "Ini bertentangan total dengan Alkitab!" dan "Tuhan tidak akan menyukai ini."

Sudahkah Disepakati Bimas Kristen? Ini Jawabannya!
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah DJ Worship sudah mendapat restu dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama?
Jawabannya: TIDAK ADA aturan khusus yang mengatur soal DJ Worship! Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dirjen Bimas Kristen terkait fenomena ini. Memang, Dirjen Bimas Kristen pernah meminta gereja untuk kreatif dalam melayani jemaat, dan gereja didorong untuk kreatif dalam pewartaan sesuai konteks. Tapi kreatif yang bagaimana? Batasannya di mana? Ini wilayah abu-abu yang bikin was-was!
DJ Worship: Kreativitas atau Komodifikasi Iman?
Yang bikin gerah, fenomena ini memicu pertanyaan teologis yang menggelitik: Apakah ini bentuk ibadah yang sejati, atau justru komodifikasi agama yang mengubah ritual sakral jadi hiburan pasar? Sebuah kajian akademis bahkan menyebut DJ Worship berpotensi mereduksi makna spiritual dengan mengalihkan fokus jemaat dari kontemplasi religius ke sensasi emosional semata.
Ini bukan tentang cara, tapi tentang kepada siapa? Argumen ini memang terdengar manis. Tapi kalau caranya merusak kekhidmatan dan mengaburkan batas antara ibadah dan hiburan duniawi, apa bedanya dengan konser biasa? Ini bukan lagi soal "roh", tapi soal "rasa" – sensasi sesaat yang sayangnya sering diklaim sebagai "hadirat Tuhan".
Nendang Habis atau menyesatkan?
DJ Worship adalah pisau bermata dua. Bisa jadi terobosan untuk menjangkau jiwa-jiwa yang jauh dari gereja. Bisa juga jadi bumerang yang menggerus esensi ibadah dan menjadikan iman sekadar tontonan. Sampai Bimas Kristen dan para pemimpin gereja angkat bicara secara resmi, fenomena ini akan terus jadi perdebatan sengit. Yang jelas, Bali, pulau dewata, kini juga jadi panggung "ibadah berdecibel tinggi" yang bikin kening berkerut dan hati bertanya-tanya. (MCB)

.jpg)