Hadapi Ledakan Populasi Lansia, Universitas Warmadewa dan Kemendukbangga/BKKBN Bali Susun Model Ilmiah Penentu Kualitas Hidup - Warta Global Bali

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Pendaftaran Jurnalis

Klik

Berita Update Terbaru

logoblog

Hadapi Ledakan Populasi Lansia, Universitas Warmadewa dan Kemendukbangga/BKKBN Bali Susun Model Ilmiah Penentu Kualitas Hidup

Wednesday, 5 August 2026


Poto Istimewa: Afkan 
DENPASAR – Warta Global.Id. Indonesia tengah memasuki fase penting dalam struktur demografi. Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat dan diproyeksikan menjadi salah satu tantangan terbesar pembangunan nasional.

   Persoalannya bukan lagi sekadar memperpanjang usia harapan hidup, tetapi bagaimana memastikan jutaan lansia tetap sehat, mandiri, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang layak.

   Kesadaran terhadap tantangan tersebut mendorong Universitas Warmadewa bersama Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Provinsi Bali menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Model Prediktor Partisipasi dan Kualitas Hidup Lansia di Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Bali.

   Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas–Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026 yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). 

  Fokus utamanya adalah melahirkan model ilmiah yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) dalam menghadapi meningkatnya populasi lansia di Indonesia.

   FGD dibuka oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS. Hadir pula Ketua Tim Peneliti Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningsih, S.IP., M.AP., bersama Prof. Dr. I Wayan Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd., Dr. Rhesa Anggara Utama, S.IP., S.H., M.Si., jajaran BKKBN Bali, serta mahasiswa Universitas Warmadewa.

   Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk mengumpulkan pengalaman lapangan, pandangan pemangku kepentingan, dan masukan akademisi guna memetakan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap partisipasi serta kualitas hidup lansia.

   "Sekolah Lansia bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang agar lansia tetap sehat, aktif, mandiri, produktif, dihargai, dan menjalani masa tua dengan bahagia serta bermakna," ujar Ni Luh Gede Sukardiasih.

   Sekolah Lansia Jadi Instrumen Pemberdayaan
Dalam diskusi, Sekolah Lansia menjadi salah satu program yang mendapat perhatian utama. Program ini dirancang untuk membangun tujuh dimensi Lansia Tangguh, meliputi aspek spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional, dan lingkungan.

   Pendekatan tersebut dinilai mampu menggeser paradigma lama yang memandang lansia sebagai kelompok yang hanya membutuhkan bantuan menjadi kelompok yang tetap memiliki potensi untuk berkontribusi bagi keluarga maupun masyarakat.

   Implementasi di Bali mulai menunjukkan perkembangan positif. Salah satunya di Ubud yang telah melibatkan 87 peserta. Angka tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan lansia terhadap ruang belajar, interaksi sosial, serta aktivitas yang mampu menjaga kesehatan fisik dan mental mereka.

   Riset Tidak Berhenti di Kampus
Ketua Tim Peneliti, Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningsih, menegaskan bahwa penelitian ini tidak berhenti sebagai karya akademik semata.

   "Hilirisasi riset harus menghasilkan model yang dapat dipakai pemerintah dan masyarakat. Karena itu, kami membutuhkan masukan langsung dari para pemangku kepentingan agar faktor partisipasi lansia, dukungan keluarga, kelembagaan, hingga keberlanjutan program dapat dipetakan secara utuh," katanya.

   Menurutnya, hasil penelitian diharapkan menjadi instrumen yang dapat digunakan pemerintah daerah dalam merancang kebijakan yang lebih efektif, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

   Keluarga Tetap Menjadi Pilar Utama
Selain penguatan Sekolah Lansia, penelitian ini menempatkan keluarga sebagai fondasi utama melalui penguatan Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL).

   Pendampingan keluarga dipandang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan, pemenuhan gizi, kesejahteraan psikologis, hingga mempertahankan kemandirian lansia. Dengan demikian, kualitas hidup lansia tidak hanya bergantung pada layanan pemerintah, tetapi juga pada ketahanan keluarga sebagai lingkungan terdekat.

   Mahasiswa Turun Langsung ke Masyarakat
Riset ini juga melibatkan mahasiswa melalui Program Mahasiswa Berdampak. Keterlibatan lintas disiplin diharapkan mampu memperluas edukasi kesehatan, literasi digital, aktivitas fisik, pendampingan psikososial, hingga kegiatan sosial yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.

   Sinergi antara akademisi, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat dipandang sebagai pendekatan yang lebih komprehensif dalam menghadapi tantangan penuaan penduduk.
Menuju Kebijakan Berbasis Bukti

   Hasil FGD memperkuat arah penyusunan model prediktor yang menempatkan kesehatan fisik dan mental, partisipasi sosial, dukungan keluarga, lingkungan, spiritualitas, kemandirian, serta keberlanjutan kelembagaan sebagai indikator utama kualitas hidup lansia.

   Model tersebut selanjutnya akan diuji dan disempurnakan sebelum direkomendasikan sebagai rujukan bagi pemerintah daerah maupun pemerintah desa dalam menyusun kebijakan menghadapi ledakan populasi lansia.

   Di tengah perubahan struktur demografi Indonesia, riset ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari meningkatnya angka harapan hidup, tetapi juga dari sejauh mana negara mampu memastikan setiap warga memasuki usia senja dengan sehat, bermartabat, mandiri, dan tetap memiliki peran di tengah masyarakat.

 Afkan.

KALI DIBACA