Workshop “Guru BK Berdampak, Siswa Berdaya”: Universitas Bali Dwipa Dorong Sinergi Guru dan Siswa untuk Penguatan Kesehatan Menta - Warta Global Bali

Mobile Menu

Klik

Raning Taxt Berita

Memuat berita...

More News

logoblog

Workshop “Guru BK Berdampak, Siswa Berdaya”: Universitas Bali Dwipa Dorong Sinergi Guru dan Siswa untuk Penguatan Kesehatan Menta

Saturday, 22 August 2026

Poto Istimewa: Afkan 

DENPASAR, BALI —Warta Global.Id. Universitas Bali Dwipa membuka seminar bertajuk “Guru BK Berdampak, Siswa Berdaya” sebagai ruang penguatan kapasitas guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam menghadapi dinamika perkembangan peserta didik di lingkungan sekolah.

Kegiatan tersebut diikuti para guru BK dari berbagai wilayah di Bali. Seminar ini diarahkan untuk memperkuat peran guru BK agar tidak hanya hadir ketika siswa menghadapi persoalan, tetapi juga mampu membangun lingkungan pendidikan yang mendukung kesehatan mental, ketahanan diri (resiliensi), serta kesadaran diri (self-awareness) peserta didik.

Seminar turut dihadiri unsur pemerintah daerah, di antaranya Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali serta Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa, kemudian dilanjutkan sambutan Rektor Universitas Bali Dwipa, Dr. Ir. I Nyoman Sucipta, M.P., CH, CHT., CHM.
Dalam sambutannya, "Pendidikan, dimana sekolah mampu melahirkan generasi muda sehat secara mental dan jasmani, siap menghadapi segala permasalahan. Adapun peran guru sebagai pendidik mampu merangkul siswa apalagi terjadi permasalahan di lingkungan sekolah.”

Pesan tersebut menempatkan guru BK pada posisi strategis. Di tengah perubahan karakter dan pola komunikasi generasi muda, guru dituntut mampu membaca persoalan siswa secara lebih utuh, bukan sekadar memberikan teguran ketika terjadi pelanggaran.
Pola Pendidikan Harus Mengikuti Perubahan Generasi

Dalam kesempatan berikutnya, perwakilan Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali menyampaikan bahwa pendekatan pendidikan terhadap peserta didik perlu menyesuaikan karakter generasi yang berkembang saat ini.

Menurutnya, terdapat perbedaan karakter antara generasi yang saat ini berada dalam lingkungan pendidikan, termasuk Generasi Z dan Generasi Alpha. Karena itu, pola pengajaran tidak dapat sepenuhnya menggunakan pendekatan lama.

“Sistem pengajaran anak berbeda, terkait ada beberapa generasi Z dan Alpha. Adapun sistemnya lebih mengedepankan kebebasan berekspresi atau pilihan,” tuturnya.

Setelah menyampaikan pesan tersebut, kegiatan seminar secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali.

Kesehatan Mental Menjadi Pokok Pembahasan
Seminar menghadirkan dua narasumber yang memiliki latar belakang psikologi, yakni 
- Achmad Fauzi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang membawakan materi mengenai teknik konseling, 
-Ni Made Pradya Amadeandra Kusuma, M.Psi., Psikolog, dengan materi mengenai perkembangan remaja.

Keduanya mengangkat tema besar:
“Membangun Kesehatan Mental, Resiliensi dan Self-Awareness untuk Masa Depan Bermakna.”
Materi tersebut menjadi relevan karena guru BK berada di garis depan dalam mendampingi siswa yang menghadapi persoalan akademik, sosial, keluarga maupun persoalan perkembangan diri.

Namun, tantangannya bukan sekadar bagaimana guru BK mampu memberikan solusi. Lebih jauh, pendekatan konseling harus mampu menciptakan ruang aman agar siswa berani menyampaikan persoalan tanpa merasa dihakimi.

Di sinilah konsep guru BK berdampak menjadi penting. Guru BK bukan hanya menjadi tempat siswa datang ketika masalah sudah terjadi, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pencegahan dan penguatan karakter siswa.

Guru BK dan Siswa Harus Berjalan Bersama
Seminar ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara guru dan siswa. Sekolah idealnya tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang tumbuh bagi peserta didik secara mental, sosial, emosional dan intelektual.

Guru yang mampu memahami karakter siswa akan lebih mudah membangun komunikasi. Sebaliknya, siswa yang merasa didengar dan dihargai akan memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan potensi serta menghadapi tekanan secara sehat.

Karena itu, penguatan kompetensi guru BK tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Forum seperti ini harus menghasilkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam praktik pendampingan siswa di sekolah.
Apresiasi untuk Narasumber
Pada penghujung kegiatan, Rektor Universitas Bali Dwipa memberikan cenderamata kepada kedua narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam memberikan materi dan wawasan kepada para peserta.

Workshop “Guru BK Berdampak, Siswa Berdaya” diharapkan menjadi momentum memperkuat kompetensi guru BK di Bali sekaligus mendorong lahirnya pola pendampingan siswa yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari nilai yang tercantum di rapor. Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan terlihat ketika sekolah mampu membantu peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, mampu mengenali dirinya, memiliki daya tahan menghadapi masalah, dan berani menentukan pilihan secara bertanggung jawab.

Afkan.

Memuat konten...