Siak, Riau, WartaGlobalBali.Id – Dunia pendidikan Indonesia kembali dibuat tercengang. Bukan karena prestasi membanggakan, tapi karena aksi nekat yang masuk akal? Jangan tanya.
Seorang siswa kelas IX SMP Sains Tahfiz Islamic Center Kabupaten Siak, Riau, berinisial MA (15) tewas usai senapan 3D rakitannya sendiri meledak tepat di kepalanya. Saat ujian praktik sains, bukan roket air atau gunung meletus dari kertas yang ditampilkan, tapi bedil!
Menurut kronologi, Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 10.30 WIB, korban yang menjadi peraga kelompoknya dengan bangga memamerkan senapan lontak buatan sendiri. Teman-temannya diminta menjauh. Lalu dor... bukan peluru yang melesat, tapi maut yang datang. Senapan berasap, meledak, pecahannya berserakan mengenai dinding, dan sayangnya serpihan paling tajam justru menghujani kepala korban sendiri.
Korban dilarikan ke RSUD Siak, namun nyawanya tak tertolong. Jenazah telah dimakamkan di Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak.
Disdik Siak Pura-Pura Terkejut, Padahal Mungkin Bangga Punya Siswa 'Noordin M Top Cilik'
Kepala Dinas Pendidikan Siak, Romy Lesmana Dermawan, dengan gaya diplomatik ala pejabat mengaku "terkejut". Lho, kok bisa terkejut? Apa tidak ada kurikulum "Merakit Senjata Api untuk Pemula" yang lolos penilaian?
Dengan muka datar, Romy bilang pihaknya masih menunggu penyelidikan polisi. "Kami belum bisa mendahului keterangan pihak kepolisian," katanya lugu, seolah-olah tidak ada guru yang mengawasi atau bahkan memberi ide gila bahwa ujian sains = bikin senapan.
Kami di Warta Global Bali geleng-geleng kepala. Biasanya anak SMP ujian bikin periskop dari kardus bekas, atau lilin lava dari minyak dan air. Tapi di Siak? Bikin senjata api 3D! Keren? Bukan. Kegilaan yang hakiki.
Kritik Pedas: Sistem Pendidikan Nasional Lagi-lagi Kecolongan
Ini bukan soal siswa nakal. Ini soal izin kegilaan. Siapa yang menyetujui proyek ujian praktik berupa replika senjata api yang bisa mematikan? Guru pembimbingnya dimana? Kepala sekolahnya tidur di kantor?
Kurikulum merdeka, iya merdeka bikin petasan atau merdeka bikin AK-47 versi 3D printer? Jangan salahkan anak. Anak SMP itu otaknya masih encer, imajinasinya tinggi, tapi pengawasan guru dan sistem harusnya filter utama. Nyatanya? Filter bolong kayak saringan teh.
Ini tanda bahwa pendidikan nasional kita sudah terlalu "bebas" tanpa sensor bahaya. Sekolah seolah jadi laboratorium anarkis, tempat anak-anak bebas merakit apa saja tanpa risk assessment. Hasilnya: satu generasi muda melayang sia-sia.
Red Alert! Densus 88 Harus Segera Awasi, Jangan-Jangan Ini Sel ISIS Terselubung
Sekarang bicara serius. Senapan 3D bukan mainan. Di negara maju, file cetak 3D untuk komponen senjata saja sudah diawasi ketat. Di Indonesia? Bisa diprint di sekolah untuk ujian.
Warta Global Bali mendesak Densus 88 Anti Teror untuk segera melakukan pemetaan. Jangan-jangan ini adalah bibit sel terorisme baru. Modusnya: menyusup ke kurikulum sains, mencetak "ilmuwan cilik" yang merakit senjata api, lalu suatu hari... boom.
Bukannya berlebihan, tapi ingat, banyak sel ISIS di masa lalu merekrut anak muda lewat komunitas otodidak dan workshop teknis. Sekarang mereka punya jalan baru: Sekolah Negeri.
Kami tidak bilang sekolah ini teroris. Tapi kami bilang: kebodohan sistem bisa menjadi lahan subur terorisme. Jika seorang bocah kelas IX bisa merakit senjata api mematikan tanpa ketahuan polisi, apalagi orang dewasa dengan niat jahat?
Catatan Redaksi Warta Global Bali:
"Turut berduka untuk keluarga korban. Tapi jangan hanya berduka. Pemerintah, Kemdikbud, dan Densus 88 harus bergerak. Siswa SMP meninggal karena senapan rakitan untuk ujian. Itu bukan kecelakaan biasa. Itu adalah alarm kencang bahwa sistem pendidikan kita sedang dipelesetkan menjadi pabrik senjata mini. Evaluasi total. Jangan sampai ada 'korban berikutnya' karena guru masih berpikir bahwa merakit senapan = sains."
Redaksi Warta Global Bali juga mengingatkan:
Anak-anak punya hak belajar yang aman. Bukan hak menjadi tukang rakitan peledak dadakan. Jika kurikulum sainsmu adalah bikin senjata, lebih baik sekolahmu diganti jadi pabrik amunisi sekalian. Daftar ke Kemhan saja, jangan ke Disdik.
Simak terus Warta Global Bali – Paling frontal, Independen, tapi paling jujur. (MCB)
KALI DIBACA

