?

Oleh: afkan Poto Istimewa
Denpasar – Warta Global.Id
Tragedi tewasnya seorang pria yang diduga mencuri ayam di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, tidak semata-mata menjadi perkara kriminal biasa. Peristiwa itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah insiden tersebut mencerminkan persoalan kesejahteraan, rasa aman, dan kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum di Bali?
Berdasarkan informasi kepolisian, korban meninggal dunia setelah diduga dikeroyok massa ketika dipergoki mengambil ayam aduan. Polisi kemudian menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus pengeroyokan tersebut, sementara proses hukum masih berjalan. Aparat juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aksi main hakim sendiri.
Namun, di balik kronologi itu tersimpan persoalan yang lebih kompleks.
Jika benar warga telah berulang kali kehilangan ternak hingga memicu kemarahan kolektif, maka muncul pertanyaan mengenai efektivitas pencegahan kejahatan di tingkat lingkungan.
Di sisi lain, apabila seseorang nekat mencuri demi alasan ekonomi, maka isu kesejahteraan juga layak menjadi bahan evaluasi. Kedua persoalan tersebut tidak dapat disimpulkan hanya dari satu kasus, tetapi patut menjadi perhatian pemerintah dan aparat.
Bali selama ini dikenal sebagai wajah pariwisata Indonesia yang menjual citra keamanan, budaya, dan keramahan. Namun citra tersebut akan kehilangan makna apabila masyarakat di tingkat akar rumput masih dihantui pencurian, sementara sebagian warga memilih mengambil hukum ke tangan sendiri.
Fenomena main hakim sendiri bukanlah solusi. Sebaliknya, tindakan itu menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap mekanisme penyelesaian hukum. Negara memiliki kewajiban memastikan setiap orang, termasuk mereka yang diduga melakukan tindak pidana, memperoleh proses hukum yang adil.
Kasus di Baturiti semestinya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar penyelesaian perkara pidana. Pemerintah daerah perlu memperkuat program kesejahteraan masyarakat yang rentan, meningkatkan keamanan lingkungan, serta membangun kembali kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari ramainya kunjungan wisatawan atau besarnya investasi. Keberhasilan juga tercermin dari kemampuan menghadirkan rasa aman, mencegah masyarakat terjerumus dalam kejahatan, serta memastikan konflik diselesaikan melalui hukum, bukan melalui amarah massa.
Tragedi "maling ayam" seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan di Bali. Sebab ketika nyawa melayang akibat aksi main hakim sendiri, yang dipertaruhkan bukan hanya nasib para pelaku, melainkan juga wibawa hukum dan kualitas tata kelola pemerintahan.
Afkan.
KALI DIBACA

