
Poto Istimewa : afkan
Jakarta – Warta Global.Id.
Kejutan mengguncang pasar keuangan nasional. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Senin (27/7). Pengunduran diri tersebut diterima Presiden Prabowo Subianto, sementara Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas hingga gubernur definitif ditetapkan. Perry disebut mengundurkan diri dengan alasan pribadi, tanpa penjelasan lebih lanjut.
Pengunduran diri Perry menandai berakhirnya kepemimpinan yang mewarnai salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah ekonomi Indonesia. Sejak menjabat pada 2018, ia menghadapi pandemi COVID-19, mendorong percepatan digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS, hingga berjibaku mempertahankan stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
Bank Indonesia di bawah kepemimpinannya, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) berkembang menjadi tulang punggung transaksi digital nasional. Kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu transformasi terbesar dalam sistem pembayaran Indonesia, mempercepat inklusi keuangan dan mengurangi ketergantungan pada uang tunai.
Namun, periode keduanya juga diwarnai tekanan berat. Rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah akibat gejolak global dan tekanan terhadap perekonomian domestik. Bank Indonesia merespons dengan kenaikan suku bunga dan berbagai instrumen untuk menarik arus modal asing demi menopang nilai tukar.
Kepergian Perry memunculkan pertanyaan besar mengenai arah kebijakan moneter Indonesia. Sejumlah analis menilai tantangan terbesar pemerintah adalah menjaga independensi Bank Indonesia sekaligus memulihkan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.
Kini sorotan tertuju pada proses penunjukan gubernur baru. Sosok yang dipilih dinilai akan menentukan arah kebijakan moneter, stabilitas rupiah, serta kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Afkan.
KALI DIBACA

