Paradoks; PEREMPUAN ADALAH CERMIN PERILAKU LELAKI Ketika Perempuan Berubah, Jurnalisme Tidak Boleh Hanya Bertanya: “Mengapa Dia Berubah?” - Warta Global Bali

Mobile Menu

Klik

Raning Taxt Berita

Memuat berita...

More News

logoblog

Paradoks; PEREMPUAN ADALAH CERMIN PERILAKU LELAKI Ketika Perempuan Berubah, Jurnalisme Tidak Boleh Hanya Bertanya: “Mengapa Dia Berubah?”

Sunday, 20 September 2026


Poto AI

DENPASAR  Bali — WartaGlobal.Id 

Ada kalimat yang sering terdengar dalam kehidupan relasi:

“Lihat bagaimana perempuan memperlakukan laki-laki, dari sana kita bisa melihat bagaimana laki-laki memperlakukannya.”

Kalimat itu menarik, tetapi secara ilmiah tidak boleh diperlakukan sebagai hukum sebab-akibat.

Perempuan bukan sekadar cermin laki-laki. Laki-laki pun bukan satu-satunya penyebab perubahan perilaku perempuan.

Namun dalam relasi, perilaku dua orang memang saling berinteraksi.

Di situlah paradoksnya.

Kita sering menghakimi reaksi seseorang tanpa menyelidiki rangkaian tindakan yang mendahului reaksi tersebut.


Cermin Itu Tidak Berdiri Sendiri

Penelitian mengenai perceived partner responsiveness—sejauh mana seseorang merasa pasangannya memahami, menghargai, memvalidasi, dan peduli—menunjukkan bahwa persepsi terhadap respons pasangan berkaitan dengan kualitas hubungan, kedekatan, kepuasan, dan kesejahteraan.

Artinya, dalam hubungan interpersonal, pertanyaan “Apakah saya didengar?” bukan persoalan sepele.

Ketika seseorang merasa didengar, ruang untuk membuka diri cenderung lebih besar.

Ketika seseorang merasa tidak dipahami atau tidak direspons, kualitas kedekatan dapat ikut berubah.

Maka ketika seorang perempuan mulai diam, menjauh, atau berhenti menjelaskan perasaannya, seorang jurnalis tidak semestinya langsung menulis:

“Perempuan itu berubah.”

Pertanyaan berikutnya harus muncul:

“Apa yang terjadi sebelum perubahan itu?”


PARADOKS I

Dia Meminta Kejujuran, Tetapi Tak Siap Mendengar Jawabannya

Perempuan:

“Aku ingin kamu jujur.”

Laki-laki menjawab.

Perempuan terluka.

Lalu muncul persoalan baru.

Namun terdapat paradoks lain:

Perempuan berbicara tentang sesuatu yang mengganggunya.

Laki-laki diam.

Perempuan bertanya lagi.

Tetap diam.

Perempuan akhirnya berhenti bertanya.

Kemudian muncul tuduhan:

“Kamu sudah berubah.”

Padahal perubahan perilaku tidak otomatis membuktikan perubahan karakter.

Ia dapat menjadi respons terhadap dinamika hubungan.

Riset tentang respons pasangan menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa pasangannya memahami dan peduli terhadap dirinya, hal tersebut berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih baik.

Karena itu, diam tidak selalu berarti tidak peduli.

Tetapi diam juga tidak otomatis berarti korban.

Diam harus dibaca melalui konteks.


PARADOKS II

Lelaki Ingin Dipahami, Tetapi Lupa Memahami

Hubungan bukan ruang pengadilan tempat satu orang menjadi hakim dan yang lain menjadi terdakwa.

Hubungan adalah ruang pertukaran.

Jika laki-laki menuntut perempuan memahami kesibukannya, perempuan juga memiliki hak untuk meminta dirinya dipahami.

Jika perempuan menuntut laki-laki terbuka, laki-laki juga berhak memiliki batas dan ruang pribadi.

Masalah muncul ketika tuntutan berlaku satu arah.

“Kamu harus memahami aku.”

Tetapi tidak pernah berubah menjadi:

“Aku juga harus memahami kamu.”

Penelitian pada pasangan menunjukkan bahwa self-disclosure dan persepsi terhadap respons pasangan berkaitan dengan kepuasan hubungan. Studi daily diary terhadap pasangan juga menemukan hubungan antara respons pasangan dan kepuasan relasi dari hari ke hari.

Dengan kata lain:

komunikasi bukan hanya tentang berbicara.

Komunikasi juga tentang bagaimana pesan itu diterima.


PARADOKS III

Semakin Sering Diabaikan, Semakin Sedikit Ia Menjelaskan

Pada awal hubungan, seseorang mungkin bertanya:

“Kenapa kamu begitu?”

“Kenapa kamu berubah?”

“Ada apa?”

“Bisa kita bicara?”

Jika pertanyaan itu berkali-kali tidak mendapatkan ruang dialog, manusia dapat mengubah strateginya.

Dari menjelaskan menjadi diam.

Dari mengejar menjadi menunggu.

Dari menuntut jawaban menjadi menerima kenyataan.

Tetapi sekali lagi, jurnalisme harus hati-hati.

Tidak setiap perempuan yang diam berarti sedang terluka.

Tidak setiap laki-laki yang diam berarti sedang mengabaikan.

Diam bisa merupakan pilihan komunikasi, kebutuhan ruang, konflik yang belum selesai, atau faktor lain di luar hubungan.

Karena itu, data dan kronologi lebih penting daripada asumsi.


PARADOKS IV

Kritik Melahirkan Pertahanan, Pertahanan Melahirkan Jarak

Dalam kajian komunikasi pasangan, pola konflik tertentu mendapat perhatian besar: kritik terhadap pribadi, sikap merendahkan, defensif, dan stonewalling atau menarik diri dari interaksi. Literatur Gottman menyebut empat pola tersebut sebagai Four Horsemen.

Polanya dapat menjadi lingkaran:

kritik → defensif → konflik → menarik diri → semakin sedikit komunikasi → semakin banyak prasangka.

Akhirnya kedua pihak merasa menjadi korban.

Laki-laki berkata:

“Dia tidak pernah mengerti aku.”

Perempuan berkata:

“Dia tidak pernah mendengarkan aku.”

Dan hubungan masuk ke dalam ruang yang paling berbahaya:

dua orang berbicara tentang satu sama lain, tetapi tidak lagi berbicara dengan satu sama lain.


PARADOKS V

Perempuan Bukan Cermin yang Harus Selalu Menampilkan Wajah Lelaki

Judul “Perempuan adalah cermin perilaku lelaki” kuat sebagai metafora jurnalistik.

Tetapi tidak boleh menjadi pembenaran untuk menyalahkan perempuan atas perilaku laki-laki.

Perempuan memiliki kehendak bebas.

Laki-laki juga demikian.

Setiap orang membawa pengalaman, karakter, nilai, trauma, kebutuhan, dan pilihan masing-masing.

Karena itu formula jurnalistiknya bukan:

Lelaki buruk → perempuan pasti berubah.

Melainkan:

Perilaku → interaksi → persepsi → respons → pola hubungan.

Ini jauh lebih dekat dengan cara penelitian relasi membaca dinamika pasangan.


DATA RISET: YANG PENTING BUKAN HANYA “APA”, TETAPI “BAGAIMANA”

Penelitian terbaru pada 305 orang yang sedang menjalani hubungan romantis menemukan bahwa konsistensi antara persepsi terhadap respons pasangan dan kepuasan hubungan berkaitan dengan komitmen; peneliti juga menekankan bahwa dinamika tersebut bersifat interaktif dan dapat berubah sepanjang hubungan.

Studi lain terhadap 99 pasangan menggunakan pengukuran harian dan menemukan bahwa persepsi terhadap respons pasangan serta keterbukaan diri berkaitan dengan kepuasan hubungan, dengan pola yang berbeda pada laki-laki dan perempuan.

Ini memberi satu pelajaran penting:

hubungan bukan sekadar kumpulan kata-kata romantis.

Ia merupakan rangkaian perilaku yang terjadi berulang kali.


MAKA, SIAPA YANG SEBENARNYA BERUBAH?

Pertanyaan itu terlalu sederhana.

Pertanyaan jurnalistik yang lebih tepat:

Apa yang berubah?

Kapan perubahan itu dimulai?

Apa peristiwa yang mendahuluinya?

Bagaimana komunikasi kedua pihak berlangsung?

Apakah terdapat pola yang berulang?

Apakah kedua pihak merasa didengar?

Apakah ada fakta yang dapat diverifikasi, atau hanya persepsi?

Di sinilah jurnalisme berbeda dari gosip.

Jurnalisme tidak sekadar bertanya:

“Siapa yang salah?”

Jurnalisme bertanya:

“Apa faktanya?”


CATATAN JURNALIS

Cermin tidak pernah memilih wajah yang berada di depannya.

Tetapi manusia bukan benda mati.

Manusia dapat memilih untuk berubah.

Karena itu, jangan jadikan perempuan sebagai kambing hitam ketika sebuah hubungan retak.

Jangan pula menjadikan laki-laki sebagai satu-satunya penyebab ketika perempuan berubah.

Periksa perilakunya.
Periksa kronologinya.
Periksa komunikasinya.
Periksa konteksnya.
Periksa faktanya.

Sebab terkadang perubahan seorang perempuan memang merupakan respons terhadap perlakuan yang diterimanya.

Tetapi terkadang perubahan itu berasal dari perjalanan dirinya sendiri.

Dan terkadang—

dua-duanya benar.

Itulah paradoks relasi manusia.

Bukan tentang siapa yang paling salah.

Melainkan tentang bagaimana dua manusia menciptakan sebuah pola, lalu suatu hari harus berhadapan dengan pantulan pola tersebut.

Karena pada akhirnya:

Perempuan bukan sekadar cermin lelaki.

Lelaki juga bukan sekadar cermin perempuan.

Keduanya adalah manusia yang saling memantulkan perilaku—dan masing-masing tetap bertanggung jawab atas pilihan dirinya sendiri.

NETTI — Jurnalis Indonesia

Berpikir. Bertanya. Memeriksa. Berbicara berdasarkan fakta.

Memuat konten...